Aku, Dunia, dan Akhiratku…

Archive for the ‘Dunia Islam’ Category

Ketika Tiang Agama Dirobohkan

Saat ribuan warga turun gunung untuk mengungsi, ada puluhan lainnya yang tetap nekad bertahan. Sebagian tewas dihujani wedhus gembel. Ada sekitar 26 orang yang masih hidup. Salah satunya adalah Ponimin.

Bahkan, seluruh anggota keluarganya selamat, meski rumahnya di Dusun Kaliadem hancur. Ponimin mengungkapkan bahwa dirinya memang memutuskan untuk tidak mengungsi karena alasan mistis. “Saya mendapat bisikan gaib dari makhluk Allah yang berdiam di Merapi. Intinya, mereka meminta saya menemani mereka “bekerja”. Kalau tidak, letusan kali ini akan menghancurkan sebagian besar Jogja,” ucapnya.

Penggalan artikel koran Solo Pos beberapa waktu lalu membuat saya gigit jari. Memang benar jika gempa semakin dahsyat menggoncang negeri kita. Bukan hanya gempa, tsunami dan banjir pun ikut menyapu daratan yang biasa manusia gunakan untuk mengais rezeki. Dampak pasca bencana tersebut memang mempengaruhi kehidupan ekonomi, politik, dan sosial-budaya.

Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah munculnya orang-orang dengan pemikiran seperti Ponimin. Efek dari berita ini langsung terasa ketika Gubernur DIY mendatangi dan memintanya menggantikan posisi Almarhum Mbah Maridjan sebagai juru kuncen Merapi periode berikutnya.

Dan sesungguhnya inilah gempa paling dahsyat yang menggoncangkan negeri kita yaitu gempa keimanan. Lalu kapan bencana ini akan segera berakhir bila tak ada yang mau menyadari kekeliruannya? Sementara sosok pemimpinnya saja tak lagi percaya dengan pemilik Merapi Yang Maha Segalanya.

Lain Ponimin, lain pula 20.000 warga lereng Gunung Merapi yang kini tinggal di pengungsian. Dalam satu tenda yang kini dihuni oleh puluhan bahkan ratusan keluarga tampak jelas gaung kesedihan akibat kerusakan yang ditimbulkan guguran lava pijar dan awan panas Merapi. Wajah mereka pias bahkan ada yang menangis histeris tak mau dievakuasi demi menjaga harta benda. Ada pula yang menunggu bantuan sambil tidur-tidur ayam, meratapi ujian yang tak kunjung hilang, ironinya mayoritas warga pengungsi adalah muslim.

Inilah ujian kesabaran yang Allah berikan setelah Merapi meletus. Allah mungkin ingin agar warga Indonesia tetap mengingat-Nya di kala senang atau pun susah. Namun, tak semuanya yakin bahwa dengan mendekat kepada-Nya adalah solusi untuk mengentas mereka dari kesedihan. Jangankan untuk sekedar mendirikan sholat, berdo’a menengadahkan tangan dan meminta ampunan sepertinya tak ada waktu. Lalu bagaimana kita ingin agar Allah segera mencabut ujian ini dari tanah Yogyakarta sementara untuk bersujud pun enggan?

Pengungsi justru lebih banyak dilingkupi rasa cemas, khawatir harta benda tersisa yang ditinggal dicuri orang. Setan begitu mudah menelusupkan rasa was-was dalam dada manusia. Inilah tipu dayanya yang menyebabkan manusia lalai untuk selalu ingat kepada Allah SWT. Padahal hanya dengan mengingat-Nya-lah hati menjadi tenang. Dalam firman-Nya di Surat Al-Baqarah ayat 153 telah dijelaskan “Wahai orang-orang beriman, mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat karena sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Kewajiban sebagai seorang muslim adalah beribadah kepada Allah dimana pun dan tak terkecuali dalam situasi bencana seperti saat ini. Banyak orang yang akhirnya mengalami resesi keimanan. Hal ini dibuktikan dengan perbekalan yang mereka ingat uuntuk dibawa saat bencana melanda hanyalah harta benda berupa uang dan perhiasan sedangkan peralatan sholat dan Al-Qur’an dibiarkan tergeletak tertumpuk debu vulkanik Merapi.

Sesungguhnya sholat adalah tiang agama, dan barangsiapa yang meninggalkan sholat akan sama halnya dengan merobohkan tiang agama dan menjadi kafir. Sholat merupakan penghubung antara hamba dengan Tuhannya karena sedekat-dekat hamba kepada Tuhannya adalah dikala hamba tersebut bersujud (di dalam sholat), oleh karena itu perbanyaklah do’a dalam sujud kita.

Ia merupakan sebesar-besarnya tanda iman dan seagung-agungnya syiar agama dan merupakan ibadah yang membuktikan keislaman seseorang karena inilah yang menjadi pembeda antara orang Islam dengan kafir. Sehingga kita patut bersyukur atas nikmat iman yang telah Allah berikan.

Keterbatasan sumber air bersih di daerah pengungsian mungkin akan menjadi alasan pokok mengapa sholat begitu mudah ditinggalkan. Jangankan untuk wudhu, untuk memasak dan minum pun terbatas. Namun dengan sempurna Islam telah menjadi solusi dan mengajarkan bagaimana cara bersuci dengan tayammum. Tak ada yang mempersulit dalam Islam.

Dalam kondisi serba tidak jelas ini pula dibutuhkan relawan muslim yang peka terhadap kebutuhan ruhani warga pengungsi. Menjadi relawan sekaligus berdakwah dan mensyiarkan islam, bahwa dimanapun, kapanpun, dalam kondisi apapun, sholat harus terus dijaga. Sampai saat ini belum tampak ada relawan atau warga pengungsi lereng Gunung Merapi yang berinisiatif mendirikan barak khusus yang memang difungsikan sebagai musholla darurat agar sholat berjamaah dan do’a bersama berlangsung.

Bukankah telah dicontohkan oleh rasulullah bagaimana seharusnya seorang beriman menghadapi ujian, salah satunya adalah dengan mengucap innalillahi wainna ilaihi roojiun.

Tim penilai posko (assesment) yang ada di tempat kejadian pun tak pernah ada yang melaporkan meminta bantuan berupa alat sholat dan pakaian, yang ada hanya kebutuhan pokok saja berupa makanan dan obat-obatan.

Lantas dimanakah kenikmatan iman itu bisa diraih? Mari kita bantu mereka karena seharusnya ujian tersebut menjadi peringatan bagi setiap manusia. Baik yang sedang menjadi korban atau mereka yang hanya bisa melihat di televisi. Wallahu a’lam bishshowab

Sumber : Eramuslim

Rumah Di Pinggir Sungai


“Ayah, mengapa rumah kita di tepi sungai? Riskan jika banjir datang”.

“Benar anakku. Tapi lihatlah. Jernih sekali airnya. Kita bergantung hidup dari sungai ini. Dapur kita mengepul setiap hari karena rizki dari Tuhan yang melimpah di airnya. Dengan mata kail dan jala kita menangkap ikan. Atau jika kita sedikit malas, kita cukup memasang bubu lalu ikan datang sendiri pada kita”.

”Tapi, sumber kehidupan bukan hanya dari sungai, bukan?”

”Benar sekali. Rezeki Tuhan seluas langit dan bumi”.

”Kalau begitu, mengapa kita tidak tinggal di kota saja?”

”Apakah kamu mengira di kota tidak akan banjir?”

”Apakah begitu?”

”Bahkan di kota, banjir bisa datang rutin setiap tahun anakku”.

”Ayah, jika memang ayah tidak mau pindah rumah di pinggir sungai ini, bagaimana jika sungainya saja yang kita dipindahkan dari pandangan kita?”

”Caranya?”

”Kita bergerak menjauh dari tepiannya”.

”Tidak perlu anakku. Ayah punya cara yang lebih bijak menghadapi kekhawatiranmu atas banjir. Kita tidak perlu pindah dari tepian sungai karena kita bergantung hidup di sini. Bukan ayah tidak ingin hidup di kota, tapi ayah tidak punya keahlian untuk menghadapi kerasnya kehidupan kota. Keahlian yang ayah miliki hanyalah menangkap ikan. Sungai adalah jiwa ayah. Jala dan kail adalah teknologi ayah. Kita juga tidak perlu memindahkan sungai ini dari depan rumah kita karena hal itu mustahil.”

”Lalu, apa yang ayah lakukan untukku supaya kelak aku bisa selamat dari banjir”.

”Yang pasti bukan memindahkan sungai itu, namun, ayah akan mengajarmu mahir berenang”.

—–

Saya agak terkejut, seorang wali siswa bercerita terus terang telah menemukan VCD porno pada lipatan baju di kamar anaknya; siswa saya. Biasanya, hal-hal semacam itu diumpetin oleh orang tua dari pendengaran para guru atau wali kelas anaknya. Bahkan sebaliknya, dalam banyak kasus, ada sebagian orang tua yang terus berupaya membentuk citra bahwa anaknya baik dan penurut saat diperlukan kehadirannya di sekolah. Maaf, bahkan ada yang tidak sungkan menyalahkan bahwa guru telah salah mengambil sikap atas anaknya. Nyata sekali bahwa sikap itu tidak lebih hanyalah pembelaan atas pelanggaran disiplin yang dilakukan anak mereka di sekolah.

Memberlakukan aturan yang ketat dan kaku oleh sekolah juga bukanlah cara yang tepat, tetapi terlalu longgar dan terlalu banyak toleransi juga bisa menjadi bumerang. Seringkali terjadi, siswa membawa kebiasaan dari lingkungan keluarga dalam interaksi mereka di kelas atau di sekolah.

Di sinilah sering terjadi kesenjangan sikap antara guru dan orang tua yang menimbulkan mispersepsi. Saya bahkan pernah geleng-geleng kepala mendengar cerita teman saya di satu sekolah bergengsi, begitu protektifnya orang tua yang mengerti hukum, menakut-nakuti guru olahraga akan dilaporkan ke komisi HAM hanya karena anaknya disuruh push up sebab tidak mengikuti aturan saat olah raga. Menggelikan. Hal ini tentu tidak boleh terus terjadi dalam konteks pendidikan yang menjadi tanggungjawab bersama.

Adalah hal yang sangat menggembirakan apabila pengalaman mendiskusikan soal anak didik dalam satu visi yang sama. Seperti yang saya jumpai pada sabtu kemarin. Bahkan saya sangat appreciate atas kejujuran orang tua itu soal VCD porno itu. Menurutnya, anaknya dalam masalah besar. Saya tegaskan, bahwa hal ini adalah masalah kita bersama. Hanya saja, orang tua dan guru yang paling resah jika persoalan ini dialami anak-anak kita.

Saya menganggap, bahwa setiap orang tua saat ini seperti mendiami rumah di pinggir sungai seperti illustrasi di awal tulisan ini. Rumah merupakan representasi dari nilai-nilai tertutup yang secara idiologis diturunkan kepada anggota keluarga dari generasi ke generasi. Rumah adalah media privat tempat menanamkan nilai-nilai kebajikan berdasarkan keyakinan kepala keluarga kepada isteri dan anak-anaknya. Dari rumah inilah transformasi nilai-nilai itu dimulai dan akan membentuk karakter para penghuninya. Wajar jika kemudian rumah dianggap sebagai sekolah pertama bagi anak dan kedua orang tua adalah guru utamanya.

Sedangkan sungai adalah wilayah publik yang bebas nilai. Segala macam nilai atau idiologi hidup mengalir di situ, baik yang menguntungkan maupun yang bersifat ancaman. Teknologi informasi adalah salah satu nilai yang mengapung di sungai kehidupan yang dalam dan deras itu. Ia bisa menjadi jendela informasi yang mengantarkan pada kecerdasan. Tetapi juga bisa menjadi senjata perusak moral sebagaimana bencana banjir yang merusak dan mengancam keselamatan hidup orang banyak.

Setiap orang tua atau guru hampir mustahil membendung laju teknologi. Rasanya tidak mungkin membuat jurang pemisah yang memutus interaksi anak dengan berbagai kemajuan teknologi informasi di era modern ini. Sangat tidak mungkin, sedangkan akses layanan internet bisa mereka peroleh di mana saja dan kapan saja. Bahkan di WC pun mereka bisa connecting dan mengubah status Facebook atau Twitternya dari Black Berry milik mereka. Mustahilnya memutus mereka dari kenyataan ini, sama mustahilnya dengan usaha memindahkan sungai dari depan rumah hanya karena takut akan bahaya banjir. Maka menanamkan nilai-nilai akhlak, memperkuat basis ibadah, mengajarkannya tanggungjawab pada diri sendiri dan kepada Allah serta kepatuhan pada agama dan keyakinan menjadi senjata yang bisa menyelamatkan mereka dari pengaruh buruk teknologi. Pendek kata, taqwa seperti kemahiran berenang di tengah arus budaya zaman yang makin menggila. Bagaimanapun saat bencana banjir datang, semua orang bisa mati tenggelam. Tetapi yang mahir berenang berpeluang lebih besar bisa menyelamatkan dirinya dari tenggelam.

Wajarlah, mengapa agama mengingatkan para orang tua dan murabbi agar sejak dini mengajarkan ibadah kepada generasi di bawahnya. Terutama salat, karena ia benteng dari perbuatan keji dan munkar. Bahkan Rasul membolehkan ”pukulan” pendidikan jika dalam usia 10 tahun mereka enggan mendirikan salat.

Allahu a’lam.

Betapa indahnya rumah di tepi sungai. Seperti illustrasi cerdas Kanjeng Rasul dalam riwayat Imam al Bukhari:

Dari Abu Hurairah, bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di depan pintu rumah salah seorang dari kalian, lalu dia mandi lima kali setiap hari? Apakah kalian menganggap masih akan ada kotoran (daki) yang tersisa padanya?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan ada yang tersisa sedikitpun kotoran padanya.” Lalu beliau bersabda: “Seperti itu pula dengan shalat lima waktu, dengannya Allah akan menghapus semua kesalahan.”

Sumber : Eramuslim.com

Empat Kata Penambah Rasa Cinta

Bismillahirrohmanirrohiim, empat kata ini tertanam kuat dalam nurani, pesan indah orang tua dan para guru, dosenku, Saya menerima tausiyah ini sewaktu awal menjadi seorang ibu.

Setelah Saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari, memang sungguh terasa sekalibeda nuansa di hati, maklumlah, kita sebagai manusia, biasanya sering menganggap remeh perihal kedekatan dan keakraban dalam keluarga, sahabat, maupun teman dekat, apalagi bila ikut terpengaruh dampak “cara hidup cuek bebek” akibat perputaran zaman, sehingga seringkali di zaman sekarang ini, masih banyak kita temui orang yang kesulitan lidahnya untuk mengatakan maaf atau terima kasih, saking terkena penyakit “gengsi”.

Empat Kata yang merupakan tata tertib dalam hati alias sesuai dengan semua norma kehidupan, ternyata hal ini benar-benar dapat memperdalam rasa cinta dan sayang kita, terutama dalam kehidupan berumah tangga dan persahabatan, yaitu :

1. Berbalas salam, “Assalamu‘alaikum wa rahmatullahi wabarakatuh”, nikmatnya mendengar kata ini, yang kemudian kita wajib membalasnya, “Wa ‘alaikumussalamwarahmatullahi wabarakatuh”. Kita sudah tau betapa indah arti do’a yang selalu ditebar kaum muslimin tersebut. Subhanalloh, Telah bersabda Rasulullah shollallahu ’alaihi wa sallam: “Kalian tidak bakal masuk surga sebelum kalian beriman. Dan kalian tidak dikatakan beriman sebelum kalian saling mengasihi satu sama lain. Maukah kalian aku tunjukkan suatu perkara yang bila kalian kerjakan bakal menyebabkan kasih sayang di antara kalian? Sebarkan ucapan salam di antara kalian.” (HR Muslim)

2. Tak perlu malu mengatakan “Tolong…”, sekecil apa pun bentuk meminta pertolongan itu. Ibuku pernah berkata, “tolong tutup pintunya, sayang…”, dan Bapakku juga demikian, “nak… tolongin bapak donk, tolong dilap lantai bekas roda sepeda motor yang becek ya say…”,

Kurasakan perbedaan kalimat itu, jika kata “tolong” hilang, rasanya menjadi “suruhan yang kurang enak didengar”. Kebiasaan ini tidak pernah hilang, sekalipun beliau orang tuaku memberi tugas kepada pembantu atau bawahan di tempat kerja.

Namun jangan lupa, bahwa tolong-menolong harus berada dalam rel kebenaran. Allah SWT mengingatkan dalam ayat cintaNYA QS. Al-Maidah : 2, “…Namun tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya”.

3. Terima Kasih, dimanapun kita berada, ucapan terima kasih alias syukron, atau thanks atau gracias merupakan penghargaan tinggi buat orang yang telah memberikan pertolongan atau pelayanan tugasnya kepada kita. Contoh-contoh kecil saat berjual-beli, berada di antrian tiket kereta api, saat di kantor pos, di halte, di rumah sakit, dll. Si kecil pun riang sekali jika setelah merapikan susunan sepatunya atau kalau sudah membersihkan tempat tidurnya, dll, lalu Saya ucapkan kata mujarab ini, “terima kasih cintaku…”, aduhai romantisnya hubungan anak dan orang tua, jadi terkenang masa kecil pula.

Bagi kita muslimin, ada pesan Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan : jazaakallahu khair (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukur (terima kasihnya).” (HR. At-Tirmidzi ,2035).

4. “Maaf”, setiap manusia memiliki celah, perbedaan persepsi, latar belakang yang berbeda, dan berbagai khilafiyah lainnya. Kalbu yang bersinar biasanya tak hanya mudah beristighfar dan menangis di hadapanNYA, melainkan juga memiliki kebiasaan meminta maaf dan memaafkan. Allah SWT memiliki sifatNya yang “Pemaaf” dalam empat makna; Al-Ghafuur, Al-Ghaffaar, Al-‘Afuuw dan At-Tawwab. Meminta maaf dan memberikan maaf adalah ciri mukmin sejati, di dalam untaian ukhuwah yang tentu diridhoi Allah SWT. “…Tetapi hendaklah memberikan maaf dan pengertian sebaik-baiknya terhadap mereka (berlapang dada)! Apakah kamu tidak ingin mendapat ampunan dari Allah? Dan sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. An Nur: 22)

Dalam kegiatan sehari-hari, tentu kita merasa berbeda ketika mendengarkan kalimat-kalimat semisal ini, “ummi…maaf yah, tadi bekalnya belum habis, tak sempat dimakan semua saat istirahat di sekolah, sekarang akan kuhabiskan, kok…”, atau, “sayang, maaf yah…abang pulang kantor agak telat, sebab ada rapat mendadak sekitar satu jam…”, atau, “maaf yah nak, abi lupa membelikan buku pesananmu…”, atau jutaan kalimat lain, yang sebenarnya bagi sebagian orang ‘tidak perlu’, sebab sudah saling memaklumi internal keluarga atau sahabat dekat, sebagian juga sering berbuat pura-pura tak ingat akan kesalahannya, sehingga saat berjumpa, bersikap seperti tak terjadi apa-apa, sedangkan kita harus yakin bahwa lidah dan langkah ini tak menyakiti siapapun, termasuk orang-orang & teman di sekitar kita. Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya; dan orang yang berhijrah (muhajir) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari), senada dengan itu, Abu Musa radhiyallahu’anhuma berkata, “Mereka (para sahabat) bertanya, Wahai Rasulullah, Islam manakah yang lebih utama?’ Beliau menjawab, ‘Orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya.‘(HR. Bukhari).

Semoga Allah SWT menambah keeratan rasa cinta dalam diri kita semua saat merajut untaian ukhuwah, dalam lingkungan keluarga, persahabatan, maupun bentuk muamalah lainnya, rasakan energi cintaNYA yang luar biasa saat kalian menerapkan empat kata ini dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana jejak langkah yang Saya tapaki.

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi (celaka), kecuali orang-orang yang beriman& beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.” (QS.Al ‘Ashr: 1-3)

Wallohu’alam bisshowab.

Sumber : Eramuslim.com

Suatu Hari Di Ruang No Smoking

Di Warnet Langgananku …

“Nggak sekolah kamu?”

“Masuk pagi, Bang!”

Mataku masih terpusat di tangan kecilnya.

“Emangnya di sekolah diajarin ngerokok, ya?”

“Ya, nggak lha, Bang.”

Ia malu-malu menjawab sambil tangannya ia singkirkan dari pandanganku.

“Itu di tangan kamu ada apa? Rokok kan?” lanjutku. “Masih kecil kok berani udah ngerokok, sih! Nanti sakit paru-paru lho.”

Ia pun langsung meninggalkan diriku. Menjauhiku agar tak bisa lagi aku bertanya-tanya kepadanya. Kenapa ia sekecil itu sudah merokok? Apa penyebabnya? Tapi belum sampai aku tanya seperti itu ia sudah menjauhi. Ia meninggalkan aku yang sejak tadi memperhatikan dirinya.

Di Terminal Blok M…

“Bagi para penumpang diharapkan untuk tidak merokok di tempat umum…”

Aneh! Padahal sudah diberitahukan bahwa tidak perkenankan merokok di muka umum tapi tetap saja ada yang merokok. Entah, apakah telinganya tersumbat atau memang tidak peduli. Acuh!

Aku yang sedang menunggu bus untuk mengantarkan pulang dari toko buku, mata minusku terus saja tertuju melihat ke arah seorang laki-laki muda. Mungkin usianya masih kepala tiga. Laki-laki itu masih saja menikmati kreteknya yang sudah hampir membakar mulutnya yang hitam. Hitam karena pengaruh nikotin yang terkandung dalam kretek yang ia hisap dalam-dalam. Sayangnya tak ada seorang pun yang berani menegurnya. Tapi apakah laki-laki itu perlu ditegur dan dinasihati bahayanya rokok? Sepertinya laki-laki itu tahu kok bahaya merokok itu. Yang begitulah aku melihat pemandangan suatu hari di terminal Blok-M.

Di dalam Kopaja. Bus yang akan mengantarkan aku pulang…

“Mas, tolong dong rokoknya dimatikan! Saya tidak bisa bernafas nih.”

Tiba-tiba seorang ibu muda yang sedang hamil muda di depan kursi penumpang menegur laki-laki yang memakai topi hitam. itu agar laki-laki muda itu segera memberhentikan rokoknya. Kulihat ibu-ibu muda tadi merasa tak nyaman duduk dengan dirinya.

“Maaf, Mbak, tanggung, tinggal sedikit. Sayang dibuang!” jawab laki-laki itu tak menghiraukan ucapan ibu muda tadi.

Aku yang ada di belakang ibu muda tadi jadi gregetan ketika melihat attitude laki-laki itu yang tidak baik. Ia mengacuhkan ucapan ibu muda tadi. Kasihan aku melihatnya.

Aku heran apa yang ada dibenak laki-laki itu; tidak bisa punya rasa simpati dan empati pada orang-orang yang ada di sekeliling dirinya. Pada penumpang yang ada dalam Kopaja yang aku naiki. Terutama pada ibu-ibu yang sedang hamil muda. Padahal jika saja laki-laki itu tahu bahwa perokok pasif lebih dominan terkena penyakit gangguan pernafasan dan paru-paru dibanding perkokok aktif. Atau, ia tidak tahu dan tidak mau tahu menahu soal itu. Bahayanya bagi perokok pasif. Entahlah.

“Bang, kiri ya…!”

Syukurlah ibu muda tadi segera turun dari Kopaja. Ia akhirnya bisa terbebas dari ketidakpedualian dari laki-laki memakai topi hitam tadi. Tak memperdulikan dirinya dan orang lain di sekitarnya. Termasuk aku yang ada di dalam Kopaja.

Di ruang kamarku. Tempat inspirasiku…

Sebel. Bete. Jika adik laki-lakiku sudah memasuki ruang kamarku. Dengan seenaknya ia merokok tanpa melihat aku yang tidak merokok ini. Setiap hari ada saja di mulutnya tersumpal rokok. Tiap hari adik laki-lakiku itu bisa menghabiskan setengah bungkus rokok. Benar-benar maniak rokok. Padahal ia seorang pekerja berat. Yang tiap hari bekerja menghadapi bahan-bahan kimia. Maklum adikku itu bekerja di garmen. Bagian obat-obatan kimia untuk bahan-bahan tekstil. Jika melihatnya aku merasa kasihan. Iba, jika ia sedang terbatuk-batuk.

Padahal aku sudah memperingkatkan untuk berhenti merokok. Dan uangnya lebih baik buat makan atau beli makanan ringan. Atau, yang bisa mengganjal perut. Bisa juga permen jika mulutnya merasa asam sebagai pengganti rokok. Tapi tetap saja nasehatku tak digubrisnya. Dianggap angin lalu…

Hukk..hukkk…

“Tuh, kan batuk-batuk Udah deh lo berhenti ngerokok. Lebih baik duitnya lo buat beli makanan kek. Atau, lo beli permen buat pengganti rokok.” Begitu tiap hari aku menaseihati dirinya. Tapi tetap saja ia merokok. Kalau pun nasihatku pernah mampir di telinga kanan dan kirinya tapi itu hanya sesaat. Adik laki-lakiku pernah berhenti hanya seminggu saja dan selanjut… Kambuh lagi. Capek deh! Hingga mulutku berbusa menasihatiya… Ya, aku hanya bisa pasrah dan sudah sebisaku memberi nasihat dan sambil mendoakannya. Aku yakin mmungkin saat nanti adikku itu akan berhenti merokok. Semoga…Amin!

Di ruang tamu yang sepi…

Aku iseng-iseng membaca artikel tentang bahaya merokok yang aku print dari penulusaranku di situs google. Hmm…ternyata cukup menyedihkan ketika aku mengetahui berapa banyak korban sia-sia dari bahaya merokok. Hingga aku teringat pada adik laki-lakiku agar ia segera berhenti merokok!

JAKARTA. Berdasarkan sejumlah penelitian yang dilakukan di Indonesia, semakin banyak saja anak Indonesia yang menjadi korban industri rokok. Hasil penelitian terakhir Universitas Andalas menunjukkan, rata-rata prevalensi perokok pemula dimulai saat usia 7 tahun. Padahal 10 tahun lalu, kebiasaan merokok dimulai pada usia 19 tahun. Bahkan banyak anak merokok pada usia Balita, kasus terakhir terjadi di Malang dan Sukabumi dimana ada anak-anak yang merokok sejak usia 4 tahun dan 2,5 tahun.

Iklan rokok yang setiap saat selalu berganti, menggunakan bahasa yang komunikatif dan mudah diingat ditenggarainya menjadi penyebab semakin mudanya usia anak-anak mulai merokok. Ditambah lagi perilaku lingkungan sekitar dan orang tua yang mencontohkan anak kecil untuk merokok.

Atas dasar itulah, KPAI meminta pemerintah untuk segera mengesahkan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pengamanan Produk Tembakau Sebagai Zat Adiktif Bagi Kesehatan tersebut. Termasuk melarang total iklan rokok di media massa, melarang sponsor rokok untuk kegiatan sosial, olah raga, kesenian dan keagamaan. Larangan menjual rokok eceran, larangan menjual rokok kepada anak-anak, dan melarang merokok di tempat umum.
Pemerintah juga diminta untuk meratifikasi konvensi internasional pengendalian tembakau, sehingga landasan hukum atas seluruh larangan tersebut menjadi lebih kuat.

Itulah isi dari artikel yang kubaca hari itu yang aku dapatkan dari menelusuri situs google. Entah, apakah hal ini bisa membuat mereka sadar khususnya bagi para pencadu rokok atau tidak! Aku harap pemerintah dan juga pabrik yang memproduksi rokok bisa memperhatikan hal ini.

Sumber : Eramuslim.com

Kenapa Rokok (Tidak) Haram?

DALAM sebuah kesempatan kultum Tarawih pada Ramadhan 1431 H di Masjid Pogung Raya, Yogyakarta, Prof. Dr. Yunahar Ilyas dengan bahasa tuturnya yang memikat, lugas, cenderung humoris, tetapi sangat serius; membahas tentang “Kenapa Rokok Haram?” Saya mencoba menulis ulang uraian bernas beliau dengan bahasa saya sendiri dan tambahan materi di sana sini pada catatan ringkas berikut ini.

Dalil pertama, bisa Anda baca langsung di bungkus rokoknya. “MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN”. Itu dalilnya, kata beliau.

Dalil kedua, karena merokok itu berpotensi membunuh diri sendiri. Hanya lebih lambat saja dari gantung diri, menembak kepala dengan pistol, atau menenggak racun serangga satu botol, beberapa di antara metode bunuh diri yang terbukti ampuh saat ini.

Sedangkan setiap hal yang membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain adalah haram. (HR Ibnu Majah, Malik, Al-Hakim, Al-Haitsami, Ad-Daaruquthni, dan Al-Baihaqi). Al-Quran pun mengharamkan seorang muslim bunuh diri, dengan alasan apa pun. “Dan janganlah kamu membunuh dirimu.” (QS An-Nisaa’ [4]: 29).

Seorang muslim yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri, maka ia kafir di penghujung hayatnya karena berputus asa dari rahmat Allah. Dilaknat oleh seluruh penduduk langit dan kekal di neraka jahannam.

Apakah para rokoker (baca: perokok) tidak menyadari tentang aktivitas bunuh diri perlahan-lahannya itu?

Dalil ketiga, sekitar 75% yang terkena dampak kejahatan rokok adalah perokok pasif. Mereka yang tidak merokok tapi terpaksa harus mengisap asap rokok karena tak bisa dihindari. Ini data akurat yang tak pantas ditertawakan tanpa dosa oleh para rokoker. Sebagian besar korbannya adalah istri, anak, mertua, keponakan, dan orang-orang terdekat Anda sendiri. Teman-teman Anda yang tidak merokok tapi karena harus berhubungan dengan Anda karena pekerjaan atau aktivitas lain sehingga mau tak mau mengisap asap rokok yang Anda bakar tanpa mau kompromi. Artinya Anda sangat berpotensi membunuh mereka dengan perantara asap rokok Anda yang menyebar ke mana-mana dan terhisap orang lain.

Padahal, “Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (QS Al-Maa’idah [5]: 32).

Camkanlah! Jangan merasa sok suci dulu jika melihat seorang perampok membunuh seorang korbannya dengan cara membacok, karena bisa jadi Anda—para rokoker—membunuh lebih banyak orang tak berdosa secara perlahan tanpa pernah Anda sadari dengan cara yang lebih sadis dari bacokan benda tajam perampok itu.

Dalil keempat, merokok itu membakar uang. Uang kok dibakar? Daripada dibakar, mengapa tidak Anda gunakan untuk kebaikan? Buat infak, sedekah, amal jariah, atau amal kebaikan lainnya.

Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya. (QS Adz-Dzaariyaat [51]: 56). Ibadah itu tidak hanya shalat, zakat, puasa Ramadhan, dan naik haji ke Tanah Suci. Namun setiap apa pun yang kita perbuat. Apakah membakar uang itu termasuk ibadah yang bernilai pahala di sisi-Nya?

Hmm, mungkin Anda para rokoker ada yang bersedia menjelaskannya?

Seorang teman saya—(baca: penulis), yang kini bekerja di sebuah perusahaan Engineer and Constructors berkantor pusat di India dengan gaji per bulan di atas sepuluh juta rupiah, suatu hari pernah berujar, “Uang rokokku setahun berkisar antara 6-8 juta lho….” Usianya pada akhir November tahun ini akan menyentuh angka 30. Jika ia diberi usia hingga 60 tahun dan tak berhenti merokok, maka uang yang sukses dibakarnya berkisar antara 180-240 juta rupiah. Jumlah uang yang tidak sedikit, bukan? Cukup untuk berkurban seekor sapi gemuk setiap‘Idul Qurban tiba selama 30 tahun berturut-turut.

Maka mari kita coba mengulang kembali pelajaran matematika sederhana sejenak. Jika dari 200 sekian juta penduduk Indonesia saat ini, 20% saja di antaranya menjadi rokoker, dengan asumsi setiap rokoker menghabiskan uang sepuluh ribu rupiah per hari, dalam setahun uang yang dibakar penduduk negeri tercinta ini adalah: 40.000.000 orang x Rp. 10.000,- x 365 hari = Rp. 146.000.000.000.000,-

Bisa minta tolong Anda bacakan berapa besaran nilai rupiah yang sukses dibakar secara berjamaah oleh penduduk negeri gemah rimah loh jenawi namun ternyata masuk kategori negara miskin di dunia ini dalam setahun?

Ternyata ada sebagian rokoker yang tetap ngeyel, masih berpikir sangat egois dan semau gue. Begini argumen salah seorang rokoker bermahzab ngeyel itu, mengutip pernyataan seorang professor Mikrobiologi dan Biologi Molekuler yang dikatakan temannya yang katanya seorang dokter spesialis, “Suatu hari nikotin mungkin menjadi alternatif yang mengejutkan sebagai obat TBC yang susah diobati. Senyawa ini menghentikan pertumbuhan kuman TBC dalam sebuah tes laboratorium, bahkan bila digunakan dalam jumlah kecil saja.”

Coba sidang pembaca perhatikan kata-kata yang sengaja saya tebalkan pada argumen rokoker bermahzab ngeyel di atas. Dua kata pertama adalah suatu hari. Kapan suatu hari itu waktunya tiba? Masih ditambah dengan kata ketiga, mungkin. Oh my God! Bertaruh dengan sesuatu yang belum jelas waktunya dan belum tentu kebenarannya? Sementara mudharat-nya sudah jelas-jelas nyata dan tampak di depan mata? Sebuah pola pikir macam apa itu bagi seorang muslim yang memahami dan meyakini bahwa setiap aktivitasnya di dunia ini adalah sebuah pertaruhan antara surga dan neraka?

Di penghujung kultum, Prof. Dr. Yunahar Ilyas menutup uraiannya—yang membuat jamaah shalat Isya malam itu tertawa getir, tentang tiga manfaat merokok. Apa saja itu?

Pertama, membuat rumah sang rokoker aman. Karena saat jam dua dini hari ketika segerombolan perampok akan menyatroni kediamannya, ia masih terjaga. Masih terbatuk-batuk hebat dengan gembiranya. Maka gerombolan maling itu pun mengurungkan niat mereka.

Kedua, membuat sang rokoker awet muda. Karena rata-rata di antara mereka sudah harus menghadap Sang Pencipta di saat masih usia muda.

Ketiga, mengurangi jumlah orang miskin. Karena lebih dari 50% rokoker berasal dari kalangan menengah ke bawah (miskin). Jadi semakin banyak rokoker, maka jumlah orang miskin di negeri ini makin berkurang.

Demikian sedikit yang dapat saya bagi di ruang pembaca ini. Saran saya bagi Anda para rokoker, silahkan Anda bebas merokok di mana pun Anda mau, tetapi mohon Anda membawa sebuah alat khusus—mungkin semacam plastik transparan berukuran jumbo, kemudian Anda masuk ke dalamnya setiap kali akan merokok—sehingga 100% asap rokok Anda hisap sendiri.

Allahu a’lam bish-shawab.

Yogyakarta, 24 September 2o1o 11:44 p.m.
Sebuah upaya menghindari jadi perokok pasif dari seorang yang anti rokok dari sudut pandang seorang muslim.

Sumber :

http://lakonhidup.wordpress.com

Eramuslim.com

Indonesia Kembali ke Zaman Orba?

Dengan modal peristiwa-peristiwa yang belakangan ini selalu dilekatkan dengan terorisme, yang terus terjadi dan susul-menyusul, akankah Indonesia kembali ke era Orde Baru? Adakah Indonesia dibawah ancaman keamanan yang sifatnya riil dari dalam dan luar negeri, yang memiliki relasi dengan terorisme? Ataukah peristiwa-peristiwa yang dikaitkan dengan isu terorisme ini menjadi legitimasi pemerintah kembali ke rezim otoritarian?

Seperti bangsa Indonesia terus-menerus disuguhi drama tentang aksi dan operasi terorisme. Di tengah-tengah akutnya penyakit korupsi yang sudah masuk ke sungsum-sungsum bangsa ini, khususnya para pejabatnya, tetapi sekarang kenyataan peristiwa korupsi yang sebenarnya lebih menghancurkan kehidupan bangsa ini, tetapi sekarang telah dibelokkan dan dimanipulasi, di mana isu atau masalah utama yang dihadapi bangsa Indonesia inilah adalah ancaman keamanan nasional, yaitu terorisme.

Ada peristiwa yang terjadi di Wonosobo, Solo, Pamulang (Ciputat), Aceh, Penangkapan Abu Bakar Ba’asyir, Medan (Abu Thalut), dan terakhir penyerbuan Mapolsek Hamparan Perak di Deli Serdang. Peristiwa yang terjadi itu, seakan memberikan dasar legitimasi pemerintah melalui aparat kepolisian (Densus 88), melakukan tindakan preventif dan repressif. Hanya dengan bekal tuduhan ‘teroris’ kepolisian dapat melakukan tindakan apa saja, yang bertujuan untuk melakukan deterren terhadap apa yang disebut ‘teroris’.

entu, yang disebut ‘teroris’ pasti adalah orang-orang Islam, yang menjadi korbannya.
Seperti yang terjadi di Tanjungbalai, seorang yang sedang sholat, ditarik dan kemudian diperlakukan secara tidak manusia, hanya karena dituduh teroris. Peristiwa-peristiwa seperti ini akan terus berlangsung. Dengan skala yang lebih massif.

Akibat peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, kemudian yang terjadi adalah langkah-langkah preventif, yang sekarang sedang diupayakan oleh pemerintah, khususnya dalam menangani masalah keamanan. Sinyal kearah kebijakanl yang lebih represif dan preventif, perlahan-lahan semakin nampak. Semua itu dikaitkan dengan kebijakan pemerintah untuk mnelakukan tindakan deterren terhadap ancaman terorisme di Idnonesia.

Seperti diangkatnya Kepala Densus 88 Brigjen Tito Karnavian yang menjadi salah pejabat penting di dalam lembaga BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), yang berada di dawah Kendali Menko Polhukam. Selama ini ada kekawatiran dari berbagai fihak dengan pengaktifan BNPT itu, tindakan pemerintah dan aparat keamanan akan semakin eksesif. BNPT yang dirancang itu, bukan hanya terdiri dari polisi, tetapi juga akan melibatkan pasukan khusus, seperti Kopasus, yang sudah terkenal.

Dengan perkembangan baru ini, dan diaktifkannya BNPT, yang akan melakukan tindakan keamanan, dikawatirkan kehidupan nasional Indonesia, kembali ke zaman Orde Baru. Di mana kehidupan rakyat akan diliputi ketakutan dan kecemasan, sehingga menjadi sangat kontraproduktif dengan kehidupan demokrasi yang sekarang dikembangkan di Indonesia.

Kekawatiran lainnya, kemungkinan pemerintah akan membuat kebijakan baru untuk memberangus teroris itu, melalui cara dengan menerbirtkan semacam NSA (National Security Act), atau seperti undang-undang ISA (Internal Security Act) di Malaysia, di mana pejabat keamanan mempunyai wewenang menangkap dan menahan setiap orang yang dicuragai akan membahayakan keamanan dan menganggu keamanan.

Disinilah akan menjadi bias tentang kriteria orang-orang yang dianggap membahayakan dan menjadi ancaman keamanan? Siapa yang berhak menentukan kriteria itu, dan apa syarat-syaratnya? Jika keadaan ini terus berlangsung, maka kemungkinan Indonesia akan kembali kembali ke zaman ‘gelap’ di era rezim Orde Baru dengan ‘Kopkamtib’nya, ‘Laksus’, serta negara dibawah bayang-bayang aparat keamanan dan intelijen, yang akan mematai-matai setiap gerak-gerik masyarakat secara luas.

Padahal, sesungguhnya ancaman riil yang sekarang ini dihadapai bangsa ini, sejatinya tak lain terjadinya kebangkrutan moral para pemimpin dan pejabatnya yang bermental korup, tidak mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya, dan menjadi negara yang tertinggal dengan negeri-negeri tetangganya, karena pemerintahan digeroroti korupsi.

Tetapi dengan isu terorisme, dan adanya peristiwa kekerasan yang diberi lebel ‘teroris’, yang dilakukan sejumlah orang-orang sebenarnya, mereka belum tentu benar-benar teroris, tetapi telah menjadi menjadi simbol ancaman nasional, sehingga perlu pemerintah mengerahkan kekuatan untuk menghadapi ancaman itu.

Kemudian, lagi-lagi yang menjadi korban dari isu ancaman terorisme itu, adalah umat Islam, dan umat Islam menjadi bulan-bulanan, serta dihancurkan dengan isu terorisme secara sistematis. Wallahu’alam.

Sumber : Eramuslim.com

Kamar Berjarak Sejauh Bintang

Suatu hari di tahun 1609, Galileo mengarahkan teleskopnya pertama kali ke langit. Ketika melihat bulan, ia dapat melihat permukaan benda langit itu yang dipenuhi kawah-kawah. Ketika melihat planet Jupiter, ia melihat benda langit berbentuk bulat dan dikelilingi 4 buah bulan. Namun ketika mengarahkan teleskopnya ke bintang-gemintang, astronom kelahiran Pisa (Toscana, Italia) itu tidak dapat melihat bagaimana bentuknya. Ia hanya bisa melihat titik-titik cahaya, sama seperti bila ia lihat dengan mata telanjang. Hanya bedanya, bintang itu terlihat lebih terang dan jumlahnya lebih banyak saat menggunakan teleskop.

Melihat kenyataan itulah, Galileo lalu menyimpulkan bahwa bintang merupakan benda langit yang sangat jauh tanpa bisa menyebutkan berapa jaraknya.

Baru pada tahun 1837 orang bisa memperkirakan jarak sebuah bintang. Adalah Friedrich Bessel yang pertama kali berhasil menghitungnya dengan metode Paralaks. Astronom Jerman itu berhasil mengamati bintang 61 Cygni (sebuah bintang di rasi Cygnus/angsa) yang memiliki paralaks 0,29″. Sementara paralaks bintang yang paling besar (yang itu artinya paling dekat dengan matahari dan bumi) adalah bintang Proxima Centauri yang memiliki paralaks 0.76″ dengan jarak 1,31 parsec atau sama dengan 4,2 tahun cahaya. Itu berarti, cahaya yang dipancarkan Proxima Centauri membutuhkan waktu 4,2 tahun untuk sampai di bumi setelah menempuh jarak sekitar 40 trilyun km!

Bayangkan! 40 trilyun km itu adalah jarak bintang dengan paralaks paling besar, yang berarti bintang “paling dekat” dengan kita! Subhanallah!

***

Hari ini saya mendapat giliran membaca sebuah hadits di Masjid Rungkut Jaya, masjid di kampung saya. Hadits itu berbicara tentang derajat ketinggian manusia di surga kelak.

“Sesungguhnya penghuni tingkatan-tingkatan tinggi bisa terlihat oleh orang-orang di tingkatan di bawah mereka sebagaimana kalian melihat bintang yang naik di cakrawala langit. Dan sesungguhnya Abu Bakar dan Umar termasuk dari mereka dan keduanya mendapatkan kenikmatan-kenikmatan”. (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban, dari Abi Said).

Hadits ini berbicara tentang tingkatan-tingkatan di surga. Ini berarti, surga itu bertingkat-tingkat. Dan memang disebutkan di dalam sebuah hadits bahwa surga itu terdiri dari seratus tingkatan. Tingkatan-tingkatan itu kadang disebut dengan “kamar-kamar”, dimana bagian luarnya bisa dilihat dari dalam dan bagian dalamnya bisa dilihat dari luar. Yang menakjubkan adalah jarak satu kamar dengan kamar lainnya atau satu tingkat dengan tingkat lainnya seperti jarak bumi dengan langit.

Sesungguhnya di dalam surga ada seratus tingkatan yang disediakan Allah bagi orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Jarak antara dua tingkatan seperti antara langit dan bumi. Maka apabila kamu memohon kepada Allah, maka mohonlah (surga) Firdaus kepada-Nya, karena ia terletak di tengah surga-surga yang tertinggi. (HR. Bukhari dari Abu Hurairah r.a.)

Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya surga itu mempunyai beberapa kamar. Ruangan luarnya dapat dilihat dari dalam, begitu juga ruang dalamnya dapat dilihat dari luar.” Kemudian seorang ‘Arabi berdiri seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, untuk siapakah kamar-kamar itu?” Kemudian Rasulullah saw. menjawab, “Untuk orang yang selalu berkata baik, suka memberi makan orang lain, membiasakan puasa dan suka melakukan shalat malam sewaktu manusia sedang terlelap.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad).

Menurut Al-Qurthubi, kamar-kamar di surga itu berbeda-beda dalam ketinggian dan sifatnya sesuai dengan perbedaan amal para penghuninya. Penghuni tingkatan yang tinggi berada dalam kenikmatan yang lebih tinggi dari pada orang-orang di bawah mereka.

Dengan demikian, maka menjadi jelas bahwa ketika penghuni surga di kamar bawah melihat penghuni surga di kamar lebih tinggi di atasnya akan seperti melihat bintang di langit, sebagaimana hadits yang tersebutkan di awal segmen ini. Bagaimana tidak? Jarak antarkamar mereka saja seperti bumi dengan langit. Para penghuninya yang bertelekan di sana tentu seperti bintang-gemintangnya yang bersinaran.

***

Sekarang mari kita renungkan. Jika jarak bintang Proxima Centauri, bintang paling dekat dengan bumi kita ini saja 4,2 tahun cahaya, berapa pula jarak para penghuni surga di kamar yang lebih tinggi yang dilihat sebagai bintang oleh para penghuni di kamar di bawah mereka?

Anggaplah sama dengan Proxima Centauri yang dilihat dari bumi. 4,2 tahun cahaya. Tetapi, bukankah 1 hari di akhirat sama dengan 50.000 tahun di dunia (QS. 70: 4) atau setidaknya 1.000 tahun di dunia (QS. 32: 5)? Katakanlah 1000 tahun di dunia saja (artinya, waktu di akhirat dibanding di dunia adalah 1:365.000). Maka, jarak penghuni surga di kamar lebih tinggi itu 4,2 x 365.000 tahun cahaya! Jadi, 1.533.000 tahun cahaya atau 14.563.500 trilyun km!

Guru saya ketika menggambarkan seseorang penghuni surga di tingkat bawah yang sedang memandang penghuni kamar surga di atasnya itu seperti orang yang dilanda rasa “iri” yang luar biasa, disertai penyesalan tiada tara. “Siapa ya yang ada di sana? Betapa indahnya jika aku bisa berada di sana!”

Satu tingkat saja, kawan, tetapi hanya kerlip sinarnya yang terlihat. Begitu jauh. Tak tergapai. Dan tentu saja hal itu berbanding lurus dengan anugerah yang mereka terima. Bayangkan jika Anda penghuni kamar terendah di surga lalu memandang penghuni kamar tertinggi di tingkatan 100 di surga!

Subhanallah!

Di kamar surga yang manakah kita akan ditempatkan? Wallahu a’lam. Tetapi, kita jangan pernah putus berharap,

Firdauskan kami yang hina-dina ini, ya Allah, atas perkenan-Mu!

Sumber : eramuslim & http://bahtiarhs.net

Menghina Allah

Sebagai saudara, teman atau tetangga, biasanya jika ada yang melahirkan maka berbondong-bondong lah kita untuk datang dan mengucapkan selamat. Karena anak karunia Allah dan sekaligus tertitip harapan di hati semoga menjadi orang yang shalih dan sholeha.

Menimang sang bayi dan mendo’akannya. Merupakan kebiasaan yang baik. Tapi kadang perbuatan baik tersebut ternodai dengan kata ( maksudnya hanya canda ) yang tidak seharusnya keluar dari mulut kita.

Kok anaknya jelek? Tidak seperti ibunya.” Atau kata, “ Anaknya cakep, ayahnya jelek, keturunan darimana ini?” Atau, “hidungnya mancung, tapi…”

Banyak lagi kata yang biasanya ditanggapi dengan senyum atau tertawa yang menandakan, bahwa yang disinggung tak merasa itu sebuah kejelekan. Karena memang kata-kata itu sepertinya sudah lumrah untuk dikatakan oleh sebagian orang setiap bertemu dengan anak-anak. Tak ada masalah, karena yang melempar dan dilempar kata sama-sama maklum.

Padahal siapa sih yang ingin jelek? Semua orang pasti ingin berwajah cantik atau ganteng. Ingin postur tubuh atau secara fisik sesuai dengan standar apa yang berlaku di mata kita. Tidak ada yang ingin dikatakan jelek atau kurang baik. Apa yang ada di tubuh kita atau bentuk apa pun yang kita miliki inginnya itu lah yang terbaik nilainya di hadapan orang lain. Tapi kita ( sebagian orang ) sering kali terlupa, bahwa apa pun yang kita punyai atau pun orang lain miliki, semuanya adalah diciptakan sesuai dengan “kemauan” sang Pencipta tubuh kita. Kita tidak berhak memberi nilai minus untuk setiap ciptaan-Nya. Karena semuanya pasti ada hikmah yang tersembunyi.

Mari kita buka kembali lembaran suci Al-Qur’an dan lihat lah firman Allah Swt. pada surah Al-‘At-Tiin ayat 4 , “ Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Allah sendiri memuji ciptaan-Nya dan kita sebagai hamba yang sering kali membacanya, tapi kadang lupa dengan terpleset lidah. Kita tak menyadari, sedikit demi sedikit hal negatif dari lingkungan kita tertanam di otak, dan menyadari itu ada hal yang wajar. Alias semuanya tahu, itu hanya canda.

Padahal canda atau apapun kata yang dikeluarkan dengan tujuan membuat segar suasana, tidak seharusnya kita menghina Allah ( walau tak menyadari ). Walau lingkungan menganggap itu biasa, tapi bagi kita yang beriman, tidak seharusnya terikut arus “pembiasaan” . Karena perbuatan itu tak seharusnya turut kita lakukan. Dan perbuatan yang kurang terpuji itu, bila sangat memungkinkan harus kita “cerahkan” dengan memberikan alasan yang bisa mereka terima dengan baik.

“.. saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran”. ( Al-‘Ashr – ayat 3 )

Sumber : Eramuslim.com

Pacaran islami, Boleh kok atau kok Boleh???

Ini artikel ane dapet dari fb trus ane share di pencerahanhati.com. Coz banyak yang komen n kayaknya bermanfaat. Ada baenya ane share di sini juga…


Berhati-hatilah pada akal yg ada pada dirimu… karena sesungguhnya iya slalu mencari sesuatu yang tidak bertentangan dgn diri kita, dan selalu menggelak dgn dalih apapun tuk membenarkan diri sendiri. dan hanya hati yg bersih yang mampu menerimanya.

Pacaran yang sudah merupakan fenomena mengejala dan bahkan sudah seperti jamur dimusim hujan menjadi sebuah ajang idola bagi remaja . Cinta memang sebuah anugerah, cinta hadir untuk memaniskan hidup di dunia apalagi rasa cinta kepada lawan jenis, sang pujaan hati atau sang kekeasih hati menjadikan cinta itu begitu terasa manis bahkan kalo orang bilang bila orang udah cita maka empedu pun terasa seperti gula. Begitulah cinta, sungguh hal yang telah banyak menjerumuskan kaum muslimin ke dalam jurang kenistaan manakala tidak berada dalam jalur rel yang benar. Mereka sudah tidak tahu lagi mana cinta yang dibolehkan dan mana yang dilarang.

Kehidupan seorang muslim atau muslimah tanpa pacaran adalah hambar, begitulah kata mereka. Kalau dikatakan nggak usah kamu pacaran maka serentak ia akan mengatakan ” Lha kalo nggak pacaran, gimana kita bisa ngenal calon pendamping kita ?”. kalo dikatakan pacaran itu haram akan dikatakan, ” pacaran yang gimana dulu.”. Beginilah keadaan kaum muda sekarang, racun syubhat, dan racun membela hawa nafsu sudah menjadi sebuah hakim akan hukum halal-haram, boleh dan tidak.

Dikatakan beliau bahwa pacaran dikategorikan sebagai nafsu syahwat yang tidak dirahmati oleh Allah, karena ketiga rukun yang menumbuhkan rasa cinta menyatu di luar perkawinan. Hal ini dilakukan dengan dalih sebagai suatu penjajakan guna mencari partner yang ideal dan serasi bagi masing-masing pihak. Tapi dalam kenyataannya masa penjajakan ini tidak lebiih dimanfaatkan sebagai pengumbaran nafsu syahwat semata-mata, bukan bertujuan secepatnya untuk melaksanakan perkawinan

Hal ini tercermin dari anggapan mereka bahwa merasakan ideal dalam memilih partner jika ada sifat-sifat sebagai berikut :

Mereka merasa beruntung sekali jika selalu dapat berduaan, dan berpisah dalam waktu pendek saja tidak tahan rasanya. Dan keduanya merasa satu sama lain saling memerlukan.
Mereka merasa cocok satu sama lainnya. Karena segala permasalahan yang sedang dihadapi dan dirasakan menjadi masalah yang perlu dicari pemecahannya bersama. Hal ini dimungkinkan karena mereka satu dengan lainnya merasa dapat mencapai saling pengertian dalam seluruh aspek kehidupannya.

Mereka satu sama lain senantiasa berusaha sekuat tenaga untuk menuruti kemauan sang kekasih. Hal ini dimungkinkan karena perasaan cinta yang telah tumbuh secra sempurna dengan pertautan yang kuat.

Tapi tanpa disadari, pacaran itu sendiri telah melambungkan perasaan cinta maki tinggi. Di sisi lain pacaran menjurus pada hubungan intim yang merusak cinta, melemahkan dan meruntuhkannya. Karena pada hakekatnya hubungan intim dalam pacaran adalah tujuan yang hendak dicapai dalam pacaran. Oleh karena itu orang yang pacaran selalu mendambakan kesyahduan. Dengan tercapainya tujuan tersebut kemungkinan tuntutannya pun mereda dan gejolak cintanya melemah. Hingga kebencian menghantui si bunga yang telah layu, karena si kumbang belang telah menghisap kehormatan secara haram.

Tak ubahnya seperti apa yang dinginkan oleh seorang pemuda untuk memadu cinta dengan dara jelita kembang desanya. dalam pandangannya sang dara tampak begitu sempurna. Higga kala itu pikiran pun hanyut, malam terkenang, siang terbayang, maka tak enak, tidur pun tak nyenyak, selalu terbayang si dia yang tersayang. Hingga tunas kerinduan menjamur menggapai tangan, menggelitik sambil berbisik. Bisikan nan gemulai, tawa-tawa kecil kian membelai, canda-canda hingga terkulai, karena asyik, cinta pun telah menggulai. Menggulai awan yang mengawang, merobek cinta yang tinggi membintang, hingga luka mengubur cinta…..

Bagaimana pandangan Ibnu Qoyyim tentang hal ini ? Kata Ibnu Qoyyim, ” Hubungan intim tanpa pernikahan adalah haram dan merusak cinta. Malah, cinta diantara keduanya akan berakhir dengan sikap saling membenci dan bermusuhan. Karena bila keduanya telah merasakan kenikmatan dan cita rasa cinta, tidak boleh tidak akan timbul keinginan lain yang tidak diperoleh sebelumnya. ”
” Bohong !” Itulah pandangan mereka guna membela hawa nafsunya yang dimurkai Allah, yakni berpacaran. Karena mereka telah tersosialisasi dengan keadaan seperti ini, seolah-olah mengharuskan adanya pacaran dengan bercintaan secara haram. Bahkan lebih dari itu mereka berani mengikrarkan, bahwa cinta yang dilahirkan bersama dengan sang pacar adalah cinta suci dan bukan cinta birahi. Hal ini didengung-dengungkan, dipublikasikan dalam segala bentuk media, entah cetak maupun elektronika. Entah yang legal maupun ilegal. Padahal yang diistilahkan kesucian dalam islam adalah bukanlah semata-mata kepemudaan, kegadisan dan selaput dara saja. Lebih dari itu, kesucian mata, telinga, hidung, tangan dan sekujur anggota tubuh, bahkan kesucian hati wajib dijaga. Zinanya mata adalah berpandangan dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya, zinanya hati adalah membayangkan dan menghayal, zinannya tangan adalah menyentuh tubuh wanita yang bukan muhrim. Dan pacaran adalah refleksi hubungan intim, dan merupakan ring empuk untuk memberi kesempatan terjadinya segala macam zina ini.

Bagaimana dengan pacaran Islami??

Pacaran Islami ituu :

1. Tidak pegang-pegangan
2. Tidak berduaan ditempat yang sepi
3. Saling nasehat-menasehati
4. Cuma sekedar SMS-an/telpon-telponan
5. Pokoknya ga sampe emut-emutan atau gitu-gituan deh!!!

Rasulullah bersabda, “Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua teling zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhazrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisasi) oleh kelamin atau digagalkannya.” (HR Bukhari).

Zina Mata = Memandang
Zina Telinga = Mendengar
Zina Lidah = Berkata
Zina Tangan = Memegang
Zina Kaki = Melangkah
Zina Hati = Ingin yang aneh-aneh,kangen,dsb..

Seorang muslim yang yakin akan hari akhirat yang abadi,mereka pasti akan takut dengan hari penghitungan amal. Allah swt berfirman : Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? (Qs. Al-Qiyaamah : 36)

Jika kita sejenak mau introspeksi diri dan mengkaji hadist dan ayat Al-Qur’an di atas dengan kepala dingin maka semuanya sangat jelas. Allah swt berfirman : “Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati”. (Qs. Al-Hadid : 6)

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Qs. Al-Israa : 36)

Sebenarnya sangat banyak lagi ayat-ayat dan hadits yang menyatakan tentang keharaman pacaran,”secara historis” pun jelas bahwa pacaran bukan dari Islam. Lalu untuk apa kita mengadopsi budaya-budaya kaum kuffar?? Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia adalah bagian dari mereka”. (HR. Ibnu Majah)

Apakah kita lupa bahwa Islam itu mengajarkan untuk menundukan pandangan terhadap lawan jenis.

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. (Qs. An-Nuur : 30-31)

Sudah naturalnya apabila kaum pria dengan kaum wanita bertemu itu ibarat kutub positif bertemu dengan kutub negatif,begitulah kaedah magnet yaitu akan saling tarik menarik.

Sebenarnya kalo akal kita sehat dan cerdas melihat fakta,sesungguhnya pacaran Islami adalah pintu gerbang dari pacaran kafir-in. (Kalo ada pacaran Islami.mungkin ada juga pacaran kafir-in) Awalnya sih cuma biasa-biasa aja,tapi akhirnya luar binasa!!
Jangan sampai kita di termasuk dalam firman Allah yang mengatakan :

Mereka itulah orang-orang yang dila’nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci? Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. (Qs. Muhammad : 23-25)

Wallahu’alam..

Dari berbagai sumber…

Menikahi Wanita Langit

“Ya Allah, bimbinglah hati ini menuju cinta-Mu. Cinta yang membuat hamba semakin merindukan-Mu. Cinta nan gung dan suci. Ya Rabb, karuniakan pada hamba-Mu seorang bidadari dunia yang Engkau cintai. Seorang wanita sorga yang Engkau hadirkan di bumi. Penyejuk hati dan jiwa. Seorang hamba-Mu yang mengantarkan diri ini pada sorga-Mu. Amin.”

Air mata Fuad mengalir deras. Dadanya sesak oleh tangis yang kencang. Ia tak dapat mengendalikan gejolak yang bergemuruh di hatinya. Sejak lama ia merindukan seorang bidadari yang akan mendampinginya mengarungi hidup menuju keabadian di sorga kelak. Ia sangat mendamba seorang wanita yang membuatnya semakin cinta pada Allah.

Dulu, saat masih kuliah S.1 di Jurusan Hadits, Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar, Kairo ia pernah ditawarkan dengan seorang mahasiswi oleh temannya yang telah menikah. Tapi saat itu ia menolak tawaran tersebut. Obsesinya untuk menyelesaikan S.2 lebih kuat mengalahkan keinginan untuk menikah. Namun kini, ia merasa dirinya harus segera menyempurnakan separuh agamanya. Ia membutuhkan seorang pendamping yang menjadi tempatnya berlabuh dan menumpahkan berbagai cerita dan gelisah jiwanya. Apalagi desakan dari Ibunya membuatnya tidak lagi bisa berdiam diri.

Ia sendiri heran, kenapa dorongan untuk menikah serasa kuat menyesak di rongga dadanya. Apakah saatnya telah tiba? Ia mencoba untuk banyak berpuasa, tapi puasa itu seakan tak mampu menundukkan gejolak itu. Berat. Hampir setiap malam ia menangis. Mengadukan perasaannya pada Sang Pencipta. Menumpahkan segala sesak di dada. Ia berdoa dalam tahajudnya yang panjang. Mengharap belas kasih dan curahan rahmat dari Sang Pemilik Jiwa.
[][][]

“Selamat ya Fuad atas prestasi yang kamu raih dalam lomba Jaizah Dubes kemaren. Kapan jadi berangkat ke Australia?” Sapa Ustadz Jalal pada Fuad ketika Fuad berkunjung ke rumahnya.
“Insya Allah tanggal 14 Juli nanti, Ustadz.”
“Insya Allah, semoga urusannya lancar dan perjalanan kamu diberkahi Allah.”
“Amin, syukran doanya Ustadz.”
“Sama-sama akhi. Apa kesibukan kamu sekarang?”
“Fokus merampungkan Tesis S.2. Saya punya target tahun depan sudah bisa di-munaqasyahkan, insya Allah.”
“Insya Allah, akhi. Saya kagum dengan semangat dan kegigihanmu menuntut ilmu. Dalam usia yang masih muda, kamu akan menyelesaikan S.2-mu.”
“Biasa saja Ustadz. Belum sepadan dengan prestasi yang pernah Ustadz raih,” balas Fuad penuh senyum.

“Kamu terlalu merendah Akhi, saya senang bisa mengenalmu. Jarang lho di Al-Azhar ada mahasiswa yang bisa menyelesaikan S.2-nya pada usia 26 tahun.”
“Seharusnya saya yang merasa senang bisa berkenalan dengan kandidat Doktor Jurusan Tafsir di Universitas Al-Azhar,” jawab Fuad tak mau kalah.
“Ah, kamu terlalu berlebihan memuji saya akhi. Begini Akhi, mungkin lansung saja ya pada inti pembicaraan. Saya diberi amanah oleh kakak saya di Indonesia untuk mencarikan calon suami untuk anaknya. Selama ini saya mengamati mahasiswa-mahasiswa yang saya kenal termasuk akhi. Setelah saya coba pikirkan dan bicarakan dengan istri saya, saya melihat akhi orang yang tepat.”
“Afwan Ustadz, saya kira Ustadz keliru dan terlalu berlebihan menilai saya. Saya hanya orang yang biasa saja.”

“Tidak Akhi. Penilaian ini bukan asal-asalan. Tapi setelah sekian lama saya mengamati kehidupan Akhi. Kalau akhi berminat dan telah punya keinginan untuk menikah, kita bisa bicarakan lebih lanjut.”
“Apakah calon yang wanitanya di Indonesia Ustadz?”
“Tidak, dia kuliah di Jurusan Syariah Islamiyah, tingkat tiga.”
“Apa saya mengenalnya Ustadz?”
“Mungkin tidak. Sangat beda dengan akhi, kalau akhi seorang aktivis dia sebaliknya. Tidak banyak yang mengenalnya.”
“Apa dia sendiri telah siap menikah Ustadz?”
“Insya Allah, kalau dia gak ada masalah. Ia selalu menuruti keinginan orang tuanya. Dia anak yang penurut. Kalau akhi bagaimana, apa sudah punya calon?”
“Belum Ustadz.”
“Berarti pas sekali,” tanggap Ustadz Jalal penuh riang dan menunjukkan wajah cerah.
“Tapi Ustadz, saya butuh waktu untuk mencerna dan mempertimbangkannya. Saya belum bisa memberi jawaban sekarang. Saya butuh waktu seminggu untuk memberi jawaban pada Ustadz.”
“Tidak mengapa akhi. Saya bisa maklum. Silahkan ditimbang dulu dengan matang. Jika akhi menyetujui saya sangat senang sekali. Namun bila sebaliknya, tidak mengapa, saya akan mencoba menawarkan pada yang lain.”
“Insya Allah Ustadz, akan saya istikharahkan pada Allah, semoga Allah menunjukkan yang terbaik, amin.”
“Amin.”
[][][]

“Alhamdulillah, akhirnya amanah ini tersampaikan juga. Saya sangat senang sekali. Selamat Fuad kamu akan menikah sebentar lagi.”
“Doanya Ustadz, semoga saya bisa mengemban amanah ini dengan baik.”
“Amin, semoga Allah selalu memberkahi kalian nantinya, amin. Fuad, ada satu hal yang sangat penting untuk kamu ketahui, calon istrimu itu cacat.”

Fuad sangat terkejut.
“Cacat maksud Ustadz bagaimana?”
“Cacat pendengaran, penglihatan, lisan, kedua tangan dan kedua kaki. Terkadang sering berbicara sendiri dan juga sering menangis tanpa sebab. Bagaimana, apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu?”
Fuad diam sejenak. Ia terlihat memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian ia menjawab.

“Insya Allah, saya siap Ustadz,” jawabnya dengan mantap.
“Ini keputusanmu?”
“Ini bukan keputusan saya Ustadz, tapi keputusan Allah. Saya telah meng-istikharahkan dan saya rasakan hati saya mantap dan teguh dengan pilihan ini. Saya yakin Allah lebih mengetahui apa yang terbaik untuk saya.”

“Apa kamu tidak menyesal dengan pilihan yang telah kamu ambil?”
“Tidak Ustadz, sama sekali tidak. Bagi saya, pilihan Allah lebih baik dan mulia. Walau secara zahir itu berat dan mungkin menyakitkan, tapi saya rela dan ikhlas. Insya Allah ada pahala dan kebaikan disana menanti. Saya teringat ketika Nabi Ibrahim harus dilemparkan ke dalam api, saat itu beliau tidak gusar dan tidak takut sedikitpun, karena Allah selalu bersama hamba-Nya yang berserah pada-Nya. Atau ketika Nabi Ibrahim harus meninggalkan istri dan anaknya di padang pasir yang tandus demi memenuhi seruan Allah.”

“Saya kagum dan bangga padamu Fuad. Sebenarnya sejak awal saya ingin menceritakan padamu kondisi calonmu itu. Tapi, saat itu saya lupa untuk menyampaikannya. Maafkan atas kealpaan saya tersebut.”
“Tidak mengapa Ustadz, semuanya sudah terjadi, dan sebagai seorang hamba Allah kita wajib menerima kehendak takdir. Barangkali dalam takdir Allah saya harus menikah dengan seorang wanita yang cacat. Saya ikhlas Ustadz. Mungkin disana pula sumber pahala saya dari Allah. Berkhidmah pada hamba-Nya yang cacat.”

“Tapi apakah akhi tidak mencoba mencari wanita lain yang lebih baik dan sempurna?”
“Sebenarnya pada saat Ustdaz menawarkan anak dari kakak Ustadz pada saya, dua hari sebelumnya saya juga ditawarlan oleh teman saya, bahwa teman istrinya juga lagi mencari calon suami. Dan sebelumnya juga ada tawaran. Karena itu saya meminta pada Ustadz agar memberi saya waktu satu minggu untuk istikharah. Karena ada tiga wanita yang akan saya istikharahkan. Saya perlu waktu yang lama untuk memikirkan dan memutuskan dengan matang.”

“O begitu, saya baru paham. Kekuatan apa lagi yang menguatkan langkahmu untuk menjatuhkan pilihan pada anak kakak saya tersebut?”
“Istikharah dan mimpi kedua orang tua saya Ustadz. Kami mengalami mimpi yang sama dan merasakan ketentraman serta kemantapan hati yang sama.”
“Saya kagum padamu akhi, saya merasa tidak salah memilih dan menilai selama ini. Akhi adalah orang yang tepat. Semoga Allah merahmati hidupmu dan keluarga yang akan akhi bina nantinya, amin,” ucap Ustadz Jalal dengan wajah berbinar-binar.
[][][]

Satu minggu berlalu setelah pernikahan, Fuad menemui Ustadz Jalal Fakhruddin di rumahnya, di Bawwabah Tiga.

“Bagaimana kabarnya Fuad? Kamu terlihat sangat cerah dan lebih segar sekarang.”
“Alhamdulillah Ustadz. Segala puji bagi Allah atas nikmat yang Ia curahkan.”

“Ada yang ingin saya tanyakan tentang cerita Ustadz kemaren. Ustadz mengatakan bahwa istri saya cacat pendengaran, penglihatan, lisan, kedua kaki dan tangan. Sering berbicara sendiri dan kadang suka menangis tanpa sebab. Saya telah mengetahui dua jawaban yang terakhir. Saya menyadari bahwa istri saya memang sering terlihat seolah berbicara sendiri. Awalnya saya heran. Tapi setelah saya tanyakan dan mendengar dari dekat, ia tengah berzikir, menyebut nama Allah, terkadang bershalawat pada Rasulullah, dan membaca al-Quran. Saya perhatikan ia melakukannya setiap hari, setiap waktu, tanpa henti. Sewaktu menyapu rumah, mencuci piring, menjemur pakaian, memasak, lisannya seolah tak pernah berhenti berzikir. Begitu juga saat bepergian ke luar rumah. Adapun yang Ustadz katakan, bahwa ia terkadang sering menangis tanpa sebab, saya hampir mendapati itu tiap hari juga. Ketika saya tanyakan, ia menjawab bahwa ia teringat akan dosa-dosanya pada Allah, takut jika amalnya tidak diterima, teringat azab dalam kubur, mahsyar, hari penghisaban, shirat dan siksa neraka. Jika teringat akan hal itu air matanya sering meleleh. Itulah yang saya ketahui. Sedangkan cacat pendengaran, penglihatan, lisan, kedua tangan serta kaki itu, saya tidak mendapatkan. Saya perhatikan semuanya baik dan sehat.”

“Akhi Fuad, alhamdulillah akhi telah menemukan jawabannya. Sedangkan maksud saya cacat pendengaran adalah, telinganya tidak pernah mendengarkan perkataan yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Tidak pernah mendengarkan musik dan segala lagu-lagu yang merusak iman dan jiwa. Sesungguhnya yang selalu menjadi penghibur dirinya adalah al-Quran dan nasehat-nasehat para ulama. Cacat penglihatan adalah tidak pernah melihat pada yang haram, seperti menonton film yang di dalamnya syahwat diumbar, bisa saya katakan, matanya selalu terjaga dari melihat segala hal yang mengudang dosa dan maksiat. Dan cacat lisan adalah ia tidak pernah berinteraksi dengan laki-laki, baik melalui sms, telpon, chating di YM, di FB dan seterusnya. Ia sangat menjaga hubungan dengan lawan jenis. Lisannya terjaga dari komunikasi dengan lawan jenis. Adapun cacat tangan adalah tidak pernah berbuat yang nista dan tercela. Sedangkan cacat kaki adalah selalu terjaga dari menempuh tempat-tempat maksiat. Selama di Mesir kakinya hanya melangkah untuk ke mesjid, majlis-majlis ilmu, bersilaturahmi, tidak pernah pergi ke warnet, mengikuti acara-acara yang di dalamnya bercampur laki-laki dan perempuan. Begitulah akhi, penjelasan singkatnya. Nanti setelah hidup lebih lama dengannya akhi akan banyak mengetahui tentang dirinya.”

“Saya bersyukur Ustadz, inilah rupanya rahasia di balik petuntuk yang Allah berikan, dan hasil dari istikharah saya selama ini dan juga mimpi saya. Saya melihat dalam mimpi sebuah cahaya yang begitu terang, meneduhkan, menyejukkan, dan beraroma harum seperti kasturi.”

Air mata Fuad menetes penuh bahagia, ia lalu bersujud syukur. Ia telah dikaruniai seorang wanita sorga yang dihadirkan Allah ke bumi. Wanita yang selalu menjadi buah bibir penduduk langit karena ketaatannya. Ia teringat dengan hadits Rasulullah. Walau di bumi istrinya tidak dikenal banyak orang tapi di langit, ia yakin istrinya selalu disebut dan didoakan oleh para malaikat.

NB:Mudah-mudahan pelajaran yang terkandung di dalamnya dapat kita petik, insya Allah. Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata dari seorang teman yang menceritakan seorang mahasiswi Al-Azhar yang sangat menjaga hubungannya dengan laki-laki. Kisah ini ia dapatkan dari istrinya. Mahasiswi tersebut tidak pernah chating via YM, SMS, telpon-an, dan FB-an dengan laki-laki. Masih ‘suci’ dan ‘bersih’. Semoga ini menjadi motivasi dan inspirasi bagi kita. Liman kaana lahu qalbun au alqa assam`a..

Sumber : Eramuslim.com

Awan Tag