Aku, Dunia, dan Akhiratku…

Archive for the ‘suara langit’ Category

Rumah Di Pinggir Sungai


“Ayah, mengapa rumah kita di tepi sungai? Riskan jika banjir datang”.

“Benar anakku. Tapi lihatlah. Jernih sekali airnya. Kita bergantung hidup dari sungai ini. Dapur kita mengepul setiap hari karena rizki dari Tuhan yang melimpah di airnya. Dengan mata kail dan jala kita menangkap ikan. Atau jika kita sedikit malas, kita cukup memasang bubu lalu ikan datang sendiri pada kita”.

”Tapi, sumber kehidupan bukan hanya dari sungai, bukan?”

”Benar sekali. Rezeki Tuhan seluas langit dan bumi”.

”Kalau begitu, mengapa kita tidak tinggal di kota saja?”

”Apakah kamu mengira di kota tidak akan banjir?”

”Apakah begitu?”

”Bahkan di kota, banjir bisa datang rutin setiap tahun anakku”.

”Ayah, jika memang ayah tidak mau pindah rumah di pinggir sungai ini, bagaimana jika sungainya saja yang kita dipindahkan dari pandangan kita?”

”Caranya?”

”Kita bergerak menjauh dari tepiannya”.

”Tidak perlu anakku. Ayah punya cara yang lebih bijak menghadapi kekhawatiranmu atas banjir. Kita tidak perlu pindah dari tepian sungai karena kita bergantung hidup di sini. Bukan ayah tidak ingin hidup di kota, tapi ayah tidak punya keahlian untuk menghadapi kerasnya kehidupan kota. Keahlian yang ayah miliki hanyalah menangkap ikan. Sungai adalah jiwa ayah. Jala dan kail adalah teknologi ayah. Kita juga tidak perlu memindahkan sungai ini dari depan rumah kita karena hal itu mustahil.”

”Lalu, apa yang ayah lakukan untukku supaya kelak aku bisa selamat dari banjir”.

”Yang pasti bukan memindahkan sungai itu, namun, ayah akan mengajarmu mahir berenang”.

—–

Saya agak terkejut, seorang wali siswa bercerita terus terang telah menemukan VCD porno pada lipatan baju di kamar anaknya; siswa saya. Biasanya, hal-hal semacam itu diumpetin oleh orang tua dari pendengaran para guru atau wali kelas anaknya. Bahkan sebaliknya, dalam banyak kasus, ada sebagian orang tua yang terus berupaya membentuk citra bahwa anaknya baik dan penurut saat diperlukan kehadirannya di sekolah. Maaf, bahkan ada yang tidak sungkan menyalahkan bahwa guru telah salah mengambil sikap atas anaknya. Nyata sekali bahwa sikap itu tidak lebih hanyalah pembelaan atas pelanggaran disiplin yang dilakukan anak mereka di sekolah.

Memberlakukan aturan yang ketat dan kaku oleh sekolah juga bukanlah cara yang tepat, tetapi terlalu longgar dan terlalu banyak toleransi juga bisa menjadi bumerang. Seringkali terjadi, siswa membawa kebiasaan dari lingkungan keluarga dalam interaksi mereka di kelas atau di sekolah.

Di sinilah sering terjadi kesenjangan sikap antara guru dan orang tua yang menimbulkan mispersepsi. Saya bahkan pernah geleng-geleng kepala mendengar cerita teman saya di satu sekolah bergengsi, begitu protektifnya orang tua yang mengerti hukum, menakut-nakuti guru olahraga akan dilaporkan ke komisi HAM hanya karena anaknya disuruh push up sebab tidak mengikuti aturan saat olah raga. Menggelikan. Hal ini tentu tidak boleh terus terjadi dalam konteks pendidikan yang menjadi tanggungjawab bersama.

Adalah hal yang sangat menggembirakan apabila pengalaman mendiskusikan soal anak didik dalam satu visi yang sama. Seperti yang saya jumpai pada sabtu kemarin. Bahkan saya sangat appreciate atas kejujuran orang tua itu soal VCD porno itu. Menurutnya, anaknya dalam masalah besar. Saya tegaskan, bahwa hal ini adalah masalah kita bersama. Hanya saja, orang tua dan guru yang paling resah jika persoalan ini dialami anak-anak kita.

Saya menganggap, bahwa setiap orang tua saat ini seperti mendiami rumah di pinggir sungai seperti illustrasi di awal tulisan ini. Rumah merupakan representasi dari nilai-nilai tertutup yang secara idiologis diturunkan kepada anggota keluarga dari generasi ke generasi. Rumah adalah media privat tempat menanamkan nilai-nilai kebajikan berdasarkan keyakinan kepala keluarga kepada isteri dan anak-anaknya. Dari rumah inilah transformasi nilai-nilai itu dimulai dan akan membentuk karakter para penghuninya. Wajar jika kemudian rumah dianggap sebagai sekolah pertama bagi anak dan kedua orang tua adalah guru utamanya.

Sedangkan sungai adalah wilayah publik yang bebas nilai. Segala macam nilai atau idiologi hidup mengalir di situ, baik yang menguntungkan maupun yang bersifat ancaman. Teknologi informasi adalah salah satu nilai yang mengapung di sungai kehidupan yang dalam dan deras itu. Ia bisa menjadi jendela informasi yang mengantarkan pada kecerdasan. Tetapi juga bisa menjadi senjata perusak moral sebagaimana bencana banjir yang merusak dan mengancam keselamatan hidup orang banyak.

Setiap orang tua atau guru hampir mustahil membendung laju teknologi. Rasanya tidak mungkin membuat jurang pemisah yang memutus interaksi anak dengan berbagai kemajuan teknologi informasi di era modern ini. Sangat tidak mungkin, sedangkan akses layanan internet bisa mereka peroleh di mana saja dan kapan saja. Bahkan di WC pun mereka bisa connecting dan mengubah status Facebook atau Twitternya dari Black Berry milik mereka. Mustahilnya memutus mereka dari kenyataan ini, sama mustahilnya dengan usaha memindahkan sungai dari depan rumah hanya karena takut akan bahaya banjir. Maka menanamkan nilai-nilai akhlak, memperkuat basis ibadah, mengajarkannya tanggungjawab pada diri sendiri dan kepada Allah serta kepatuhan pada agama dan keyakinan menjadi senjata yang bisa menyelamatkan mereka dari pengaruh buruk teknologi. Pendek kata, taqwa seperti kemahiran berenang di tengah arus budaya zaman yang makin menggila. Bagaimanapun saat bencana banjir datang, semua orang bisa mati tenggelam. Tetapi yang mahir berenang berpeluang lebih besar bisa menyelamatkan dirinya dari tenggelam.

Wajarlah, mengapa agama mengingatkan para orang tua dan murabbi agar sejak dini mengajarkan ibadah kepada generasi di bawahnya. Terutama salat, karena ia benteng dari perbuatan keji dan munkar. Bahkan Rasul membolehkan ”pukulan” pendidikan jika dalam usia 10 tahun mereka enggan mendirikan salat.

Allahu a’lam.

Betapa indahnya rumah di tepi sungai. Seperti illustrasi cerdas Kanjeng Rasul dalam riwayat Imam al Bukhari:

Dari Abu Hurairah, bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di depan pintu rumah salah seorang dari kalian, lalu dia mandi lima kali setiap hari? Apakah kalian menganggap masih akan ada kotoran (daki) yang tersisa padanya?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan ada yang tersisa sedikitpun kotoran padanya.” Lalu beliau bersabda: “Seperti itu pula dengan shalat lima waktu, dengannya Allah akan menghapus semua kesalahan.”

Sumber : Eramuslim.com

Iklan

Kamar Berjarak Sejauh Bintang

Suatu hari di tahun 1609, Galileo mengarahkan teleskopnya pertama kali ke langit. Ketika melihat bulan, ia dapat melihat permukaan benda langit itu yang dipenuhi kawah-kawah. Ketika melihat planet Jupiter, ia melihat benda langit berbentuk bulat dan dikelilingi 4 buah bulan. Namun ketika mengarahkan teleskopnya ke bintang-gemintang, astronom kelahiran Pisa (Toscana, Italia) itu tidak dapat melihat bagaimana bentuknya. Ia hanya bisa melihat titik-titik cahaya, sama seperti bila ia lihat dengan mata telanjang. Hanya bedanya, bintang itu terlihat lebih terang dan jumlahnya lebih banyak saat menggunakan teleskop.

Melihat kenyataan itulah, Galileo lalu menyimpulkan bahwa bintang merupakan benda langit yang sangat jauh tanpa bisa menyebutkan berapa jaraknya.

Baru pada tahun 1837 orang bisa memperkirakan jarak sebuah bintang. Adalah Friedrich Bessel yang pertama kali berhasil menghitungnya dengan metode Paralaks. Astronom Jerman itu berhasil mengamati bintang 61 Cygni (sebuah bintang di rasi Cygnus/angsa) yang memiliki paralaks 0,29″. Sementara paralaks bintang yang paling besar (yang itu artinya paling dekat dengan matahari dan bumi) adalah bintang Proxima Centauri yang memiliki paralaks 0.76″ dengan jarak 1,31 parsec atau sama dengan 4,2 tahun cahaya. Itu berarti, cahaya yang dipancarkan Proxima Centauri membutuhkan waktu 4,2 tahun untuk sampai di bumi setelah menempuh jarak sekitar 40 trilyun km!

Bayangkan! 40 trilyun km itu adalah jarak bintang dengan paralaks paling besar, yang berarti bintang “paling dekat” dengan kita! Subhanallah!

***

Hari ini saya mendapat giliran membaca sebuah hadits di Masjid Rungkut Jaya, masjid di kampung saya. Hadits itu berbicara tentang derajat ketinggian manusia di surga kelak.

“Sesungguhnya penghuni tingkatan-tingkatan tinggi bisa terlihat oleh orang-orang di tingkatan di bawah mereka sebagaimana kalian melihat bintang yang naik di cakrawala langit. Dan sesungguhnya Abu Bakar dan Umar termasuk dari mereka dan keduanya mendapatkan kenikmatan-kenikmatan”. (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban, dari Abi Said).

Hadits ini berbicara tentang tingkatan-tingkatan di surga. Ini berarti, surga itu bertingkat-tingkat. Dan memang disebutkan di dalam sebuah hadits bahwa surga itu terdiri dari seratus tingkatan. Tingkatan-tingkatan itu kadang disebut dengan “kamar-kamar”, dimana bagian luarnya bisa dilihat dari dalam dan bagian dalamnya bisa dilihat dari luar. Yang menakjubkan adalah jarak satu kamar dengan kamar lainnya atau satu tingkat dengan tingkat lainnya seperti jarak bumi dengan langit.

Sesungguhnya di dalam surga ada seratus tingkatan yang disediakan Allah bagi orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Jarak antara dua tingkatan seperti antara langit dan bumi. Maka apabila kamu memohon kepada Allah, maka mohonlah (surga) Firdaus kepada-Nya, karena ia terletak di tengah surga-surga yang tertinggi. (HR. Bukhari dari Abu Hurairah r.a.)

Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya surga itu mempunyai beberapa kamar. Ruangan luarnya dapat dilihat dari dalam, begitu juga ruang dalamnya dapat dilihat dari luar.” Kemudian seorang ‘Arabi berdiri seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, untuk siapakah kamar-kamar itu?” Kemudian Rasulullah saw. menjawab, “Untuk orang yang selalu berkata baik, suka memberi makan orang lain, membiasakan puasa dan suka melakukan shalat malam sewaktu manusia sedang terlelap.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad).

Menurut Al-Qurthubi, kamar-kamar di surga itu berbeda-beda dalam ketinggian dan sifatnya sesuai dengan perbedaan amal para penghuninya. Penghuni tingkatan yang tinggi berada dalam kenikmatan yang lebih tinggi dari pada orang-orang di bawah mereka.

Dengan demikian, maka menjadi jelas bahwa ketika penghuni surga di kamar bawah melihat penghuni surga di kamar lebih tinggi di atasnya akan seperti melihat bintang di langit, sebagaimana hadits yang tersebutkan di awal segmen ini. Bagaimana tidak? Jarak antarkamar mereka saja seperti bumi dengan langit. Para penghuninya yang bertelekan di sana tentu seperti bintang-gemintangnya yang bersinaran.

***

Sekarang mari kita renungkan. Jika jarak bintang Proxima Centauri, bintang paling dekat dengan bumi kita ini saja 4,2 tahun cahaya, berapa pula jarak para penghuni surga di kamar yang lebih tinggi yang dilihat sebagai bintang oleh para penghuni di kamar di bawah mereka?

Anggaplah sama dengan Proxima Centauri yang dilihat dari bumi. 4,2 tahun cahaya. Tetapi, bukankah 1 hari di akhirat sama dengan 50.000 tahun di dunia (QS. 70: 4) atau setidaknya 1.000 tahun di dunia (QS. 32: 5)? Katakanlah 1000 tahun di dunia saja (artinya, waktu di akhirat dibanding di dunia adalah 1:365.000). Maka, jarak penghuni surga di kamar lebih tinggi itu 4,2 x 365.000 tahun cahaya! Jadi, 1.533.000 tahun cahaya atau 14.563.500 trilyun km!

Guru saya ketika menggambarkan seseorang penghuni surga di tingkat bawah yang sedang memandang penghuni kamar surga di atasnya itu seperti orang yang dilanda rasa “iri” yang luar biasa, disertai penyesalan tiada tara. “Siapa ya yang ada di sana? Betapa indahnya jika aku bisa berada di sana!”

Satu tingkat saja, kawan, tetapi hanya kerlip sinarnya yang terlihat. Begitu jauh. Tak tergapai. Dan tentu saja hal itu berbanding lurus dengan anugerah yang mereka terima. Bayangkan jika Anda penghuni kamar terendah di surga lalu memandang penghuni kamar tertinggi di tingkatan 100 di surga!

Subhanallah!

Di kamar surga yang manakah kita akan ditempatkan? Wallahu a’lam. Tetapi, kita jangan pernah putus berharap,

Firdauskan kami yang hina-dina ini, ya Allah, atas perkenan-Mu!

Sumber : eramuslim & http://bahtiarhs.net

Pacaran islami, Boleh kok atau kok Boleh???

Ini artikel ane dapet dari fb trus ane share di pencerahanhati.com. Coz banyak yang komen n kayaknya bermanfaat. Ada baenya ane share di sini juga…


Berhati-hatilah pada akal yg ada pada dirimu… karena sesungguhnya iya slalu mencari sesuatu yang tidak bertentangan dgn diri kita, dan selalu menggelak dgn dalih apapun tuk membenarkan diri sendiri. dan hanya hati yg bersih yang mampu menerimanya.

Pacaran yang sudah merupakan fenomena mengejala dan bahkan sudah seperti jamur dimusim hujan menjadi sebuah ajang idola bagi remaja . Cinta memang sebuah anugerah, cinta hadir untuk memaniskan hidup di dunia apalagi rasa cinta kepada lawan jenis, sang pujaan hati atau sang kekeasih hati menjadikan cinta itu begitu terasa manis bahkan kalo orang bilang bila orang udah cita maka empedu pun terasa seperti gula. Begitulah cinta, sungguh hal yang telah banyak menjerumuskan kaum muslimin ke dalam jurang kenistaan manakala tidak berada dalam jalur rel yang benar. Mereka sudah tidak tahu lagi mana cinta yang dibolehkan dan mana yang dilarang.

Kehidupan seorang muslim atau muslimah tanpa pacaran adalah hambar, begitulah kata mereka. Kalau dikatakan nggak usah kamu pacaran maka serentak ia akan mengatakan ” Lha kalo nggak pacaran, gimana kita bisa ngenal calon pendamping kita ?”. kalo dikatakan pacaran itu haram akan dikatakan, ” pacaran yang gimana dulu.”. Beginilah keadaan kaum muda sekarang, racun syubhat, dan racun membela hawa nafsu sudah menjadi sebuah hakim akan hukum halal-haram, boleh dan tidak.

Dikatakan beliau bahwa pacaran dikategorikan sebagai nafsu syahwat yang tidak dirahmati oleh Allah, karena ketiga rukun yang menumbuhkan rasa cinta menyatu di luar perkawinan. Hal ini dilakukan dengan dalih sebagai suatu penjajakan guna mencari partner yang ideal dan serasi bagi masing-masing pihak. Tapi dalam kenyataannya masa penjajakan ini tidak lebiih dimanfaatkan sebagai pengumbaran nafsu syahwat semata-mata, bukan bertujuan secepatnya untuk melaksanakan perkawinan

Hal ini tercermin dari anggapan mereka bahwa merasakan ideal dalam memilih partner jika ada sifat-sifat sebagai berikut :

Mereka merasa beruntung sekali jika selalu dapat berduaan, dan berpisah dalam waktu pendek saja tidak tahan rasanya. Dan keduanya merasa satu sama lain saling memerlukan.
Mereka merasa cocok satu sama lainnya. Karena segala permasalahan yang sedang dihadapi dan dirasakan menjadi masalah yang perlu dicari pemecahannya bersama. Hal ini dimungkinkan karena mereka satu dengan lainnya merasa dapat mencapai saling pengertian dalam seluruh aspek kehidupannya.

Mereka satu sama lain senantiasa berusaha sekuat tenaga untuk menuruti kemauan sang kekasih. Hal ini dimungkinkan karena perasaan cinta yang telah tumbuh secra sempurna dengan pertautan yang kuat.

Tapi tanpa disadari, pacaran itu sendiri telah melambungkan perasaan cinta maki tinggi. Di sisi lain pacaran menjurus pada hubungan intim yang merusak cinta, melemahkan dan meruntuhkannya. Karena pada hakekatnya hubungan intim dalam pacaran adalah tujuan yang hendak dicapai dalam pacaran. Oleh karena itu orang yang pacaran selalu mendambakan kesyahduan. Dengan tercapainya tujuan tersebut kemungkinan tuntutannya pun mereda dan gejolak cintanya melemah. Hingga kebencian menghantui si bunga yang telah layu, karena si kumbang belang telah menghisap kehormatan secara haram.

Tak ubahnya seperti apa yang dinginkan oleh seorang pemuda untuk memadu cinta dengan dara jelita kembang desanya. dalam pandangannya sang dara tampak begitu sempurna. Higga kala itu pikiran pun hanyut, malam terkenang, siang terbayang, maka tak enak, tidur pun tak nyenyak, selalu terbayang si dia yang tersayang. Hingga tunas kerinduan menjamur menggapai tangan, menggelitik sambil berbisik. Bisikan nan gemulai, tawa-tawa kecil kian membelai, canda-canda hingga terkulai, karena asyik, cinta pun telah menggulai. Menggulai awan yang mengawang, merobek cinta yang tinggi membintang, hingga luka mengubur cinta…..

Bagaimana pandangan Ibnu Qoyyim tentang hal ini ? Kata Ibnu Qoyyim, ” Hubungan intim tanpa pernikahan adalah haram dan merusak cinta. Malah, cinta diantara keduanya akan berakhir dengan sikap saling membenci dan bermusuhan. Karena bila keduanya telah merasakan kenikmatan dan cita rasa cinta, tidak boleh tidak akan timbul keinginan lain yang tidak diperoleh sebelumnya. ”
” Bohong !” Itulah pandangan mereka guna membela hawa nafsunya yang dimurkai Allah, yakni berpacaran. Karena mereka telah tersosialisasi dengan keadaan seperti ini, seolah-olah mengharuskan adanya pacaran dengan bercintaan secara haram. Bahkan lebih dari itu mereka berani mengikrarkan, bahwa cinta yang dilahirkan bersama dengan sang pacar adalah cinta suci dan bukan cinta birahi. Hal ini didengung-dengungkan, dipublikasikan dalam segala bentuk media, entah cetak maupun elektronika. Entah yang legal maupun ilegal. Padahal yang diistilahkan kesucian dalam islam adalah bukanlah semata-mata kepemudaan, kegadisan dan selaput dara saja. Lebih dari itu, kesucian mata, telinga, hidung, tangan dan sekujur anggota tubuh, bahkan kesucian hati wajib dijaga. Zinanya mata adalah berpandangan dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya, zinanya hati adalah membayangkan dan menghayal, zinannya tangan adalah menyentuh tubuh wanita yang bukan muhrim. Dan pacaran adalah refleksi hubungan intim, dan merupakan ring empuk untuk memberi kesempatan terjadinya segala macam zina ini.

Bagaimana dengan pacaran Islami??

Pacaran Islami ituu :

1. Tidak pegang-pegangan
2. Tidak berduaan ditempat yang sepi
3. Saling nasehat-menasehati
4. Cuma sekedar SMS-an/telpon-telponan
5. Pokoknya ga sampe emut-emutan atau gitu-gituan deh!!!

Rasulullah bersabda, “Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua teling zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhazrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisasi) oleh kelamin atau digagalkannya.” (HR Bukhari).

Zina Mata = Memandang
Zina Telinga = Mendengar
Zina Lidah = Berkata
Zina Tangan = Memegang
Zina Kaki = Melangkah
Zina Hati = Ingin yang aneh-aneh,kangen,dsb..

Seorang muslim yang yakin akan hari akhirat yang abadi,mereka pasti akan takut dengan hari penghitungan amal. Allah swt berfirman : Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? (Qs. Al-Qiyaamah : 36)

Jika kita sejenak mau introspeksi diri dan mengkaji hadist dan ayat Al-Qur’an di atas dengan kepala dingin maka semuanya sangat jelas. Allah swt berfirman : “Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati”. (Qs. Al-Hadid : 6)

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Qs. Al-Israa : 36)

Sebenarnya sangat banyak lagi ayat-ayat dan hadits yang menyatakan tentang keharaman pacaran,”secara historis” pun jelas bahwa pacaran bukan dari Islam. Lalu untuk apa kita mengadopsi budaya-budaya kaum kuffar?? Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia adalah bagian dari mereka”. (HR. Ibnu Majah)

Apakah kita lupa bahwa Islam itu mengajarkan untuk menundukan pandangan terhadap lawan jenis.

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. (Qs. An-Nuur : 30-31)

Sudah naturalnya apabila kaum pria dengan kaum wanita bertemu itu ibarat kutub positif bertemu dengan kutub negatif,begitulah kaedah magnet yaitu akan saling tarik menarik.

Sebenarnya kalo akal kita sehat dan cerdas melihat fakta,sesungguhnya pacaran Islami adalah pintu gerbang dari pacaran kafir-in. (Kalo ada pacaran Islami.mungkin ada juga pacaran kafir-in) Awalnya sih cuma biasa-biasa aja,tapi akhirnya luar binasa!!
Jangan sampai kita di termasuk dalam firman Allah yang mengatakan :

Mereka itulah orang-orang yang dila’nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci? Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. (Qs. Muhammad : 23-25)

Wallahu’alam..

Dari berbagai sumber…

Dua Waktu Tidur Yang Dilarang Rasul

Tidur menjadi sesuatu yang esensi dalam kehidupan kita. Karena dengan tidur, kita menjadi segar kembali. Tubuh yang lelah, urat-urat yang mengerut, dan otot-otot yang dipakai beraktivitas seharian, bisa meremaja lagi dengan melakukan tidur.

Dalam Islam, semua perbuatan bisa menjadi ibadah. Begitu pula tidur, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dalam Al-Quran, Allah swt pun menyuruh kita untuk tidur. Namun, ternyata ada dua waktu tidur yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk tidak dilakukan.

1. Tidur di Pagi Hari Setelah Shalat Shubuh

Dari Sakhr bin Wadi’ah Al-Ghamidi radliyallaahu ‘anhu bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

”Ya Allah, berkahilah bagi ummatku pada pagi harinya” (HR. Abu dawud 3/517, Ibnu Majah 2/752, Ath-Thayalisi halaman 175, dan Ibnu Hibban 7/122 dengan sanad shahih).
Ibnul-Qayyim telah berkata tentang keutamaan awal hari dan makruhnya menyia-nyiakan waktu dengan tidur, dimana beliau berkata :

“Termasuk hal yang makruh bagi mereka – yaitu orang shalih – adalah tidur antara shalat shubuh dengan terbitnya matahari, karena waktu itu adalah waktu yang sangat berharga sekali. Terdapat kebiasaan yang menarik dan agung sekali mengenai pemanfaatan waktu tersebut dari orang-orang shalih, sampai-sampai walaupun mereka berjalan sepanjang malam mereka tidak toleransi untuk istirahat pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Karena ia adalah awal hari dan sekaligus sebagai kuncinya. Ia merupakan waktu turunnya rizki, adanya pembagian, turunnya keberkahan, dan darinya hari itu bergulir dan mengembalikan segala kejadian hari itu atas kejadian saat yang mahal tersebut. Maka seyogyanya tidurnya pada saat seperti itu seperti tidurnya orang yang terpaksa” (Madaarijus-Saalikiin 1/459).

2. Tidur Sebelum Shalat Isya’

Diriwayatkan dari Abu Barzah radlyallaahu ‘anhu : ”Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membenci tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya” (HR. Bukhari 568 dan Muslim 647).

Mayoritas hadits-hadits Nabi menerangkan makruhnya tidur sebelum shalat isya’. Oleh sebab itu At-Tirmidzi (1/314) mengatakan : “Mayoritas ahli ilmu menyatakan makruh hukumnya tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya. Dan sebagian ulama’ lainnya memberi keringanan dalam masalah ini. Abdullah bin Mubarak mengatakan : “Kebanyakan hadits-hadits Nabi melarangnya, sebagian ulama membolehkan tidur sebelum shalat isya’ khusus di bulan Ramadlan saja.”

Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul-Baari (2/49) : “Di antara para ulama melihat adanya keringanan (yaitu) mengecualikan bila ada orang yang akan membangunkannya untuk shalat, atau diketahui dari kebiasaannya bahwa tidurnya tidak sampai melewatkan waktu shalat. Pendapat ini juga tepat, karena kita katakan bahwa alasan larangan tersebut adalah kekhawatiran terlewatnya waktu shalat.”

Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/dua-waktu-tidur-yang-dilarang-rasul.htm

Inilah Alasan Bedell Menerobos Pentagon

Kepolisian Washington memastikan bahwa John Patrick Bedel adalah pelaku tunggal insiden di depan pintu masuk Pentagon. Lelaki berusia 36 tahun itu berusaha menerobos masuk ke gedung Pentagon lewat pintu masuk yang berhadapan dengan stasiun kereta api bawah tanah di Washington Kamis (4/3).

Kepolisian mengatakan bahwa Bedel tidak terkait jaringan terorisme dan tindakannya dilatarbelakangi dengan keyakinannya bahwa pemerintah AS dalang dari serangan 11 September 2001.

Menurut keterangan polisi, ketika diinterogasi Bedell menyatakan percaya bahwa konspirasi pemerintah AS yang telah menghancurkan menara kembar World Trade Center oleh serangan teroris. Lelaki itu juga mengkritik milter dan badan intelejen AS yang disebutkan telah diperalat oleh rezim yang tidak sah.

“Organisasi itu, seperti juga banyak pemerintahan di sepanjang sejarah dikenal suka membunuh, melihat pengorbanan ribuan rakyatnya dalam peristiwa seperti serangan 11 September, dengan biaya yang sekecil-kecilnya demi melanggengkan kekuasaan yang biadab,” tulis Bedell dalam sebuah dokumen miliknya.

Ia juga mengatakan bahwa AS telah dikuasai oleh sebuah konsiprasi kriminal internasional, merupakan sebuah realitas yang sudah sejak lama terjadi.

Bedell sendiri, dilaporkan tewas pada Kamis malam akibat luka tembak yang dideritanya. Bedell ditembak saat diringkus, setelah sebelumnya ia menembak dua penjaga gedung Pentagon saat mencoba menerobos masuk ke kantor pusat departemen pertahanan AS itu.

Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/dunia/inilah-alasan-bedell-menerobos-pentagon.htm

Hukum Pemecatan dalam Harakah Dakwah

Assalamu’alaikum wr. wb.

Ustadz Sigit, bagaimana penyikapan kita sebagai seorang muslim terhadap “pecat-memecat” dalam harakah da’wah?

Apakah contoh ini ada dalam siroh nabi, sahabat atau siroh lainnya? Apakah dalam berda’wah harus ada tindakan ini? Apakah tindakan ini dibenarkan?

Saya masih bingung dengan fenomena ini, mohon jawaban dan pencerahan ustadz.

Jawaban

Walaikumussalam Wr Wb

Jama’ah memiliki dua pemahaman yaitu dari aspek itiqodiy (aqidah) dan dari aspek siyasi (politik). Dari aspek itiqody berarti bahwa jama’ah itu diharuskan mengikuti manhaj ahlus sunnah wal jamaah. Sedangkan dari aspek siyasi bahwa keikutserataan mereka didalam jama’ah tersebut berada dibawah sebuah aturan atau sistem yang ditetapkan oleh jama’ah tersebut serta berkomitmen dengan prinsip-prinsipnya didalam perkara-perkara yang tidak maksiat kepada Allah swt dan tidaklah keluar darinya kecuali dikarenakan adanya kekufuran yang nyata demi menjaga keberlangsungan jamaah.

Sebagaimana diketahui bahwa setiap jama’ah atau harokah da’wah yang ada hari ini hanyalah satu diantara sekian banyak jama’ah atau harokah da’wah yang bertujuan membentengi kaum muslimin dari serangan musuh-musuhnya serta mengembalikan kejayaan kaum muslimin kedalam satu pemerintahan islam (khilafah islamiyah). Karena itu setiap jama’ah atau harokah yang ada saat ini hanyalah jama’ah minal muslimin yang tidak berhak untuk menafikan jama’ah atau harokah selainnya selama tetap berpegang teguh dengan prinsip-prinsip islam. Banyaknya jama’ah dan harokah saat ini adalah akibat dari ketidakberadaan jamatul muslimin yang mengumpulkan seluruh kaum muslimin dibawah satu pemerintahan islam (khalifah) yang mencakup dua pemahaman baik dari aspek itiqodiy maupun siyasi.

Diwajibkan bagi seorang muslim untuk tetap berkomitmen dengan jamaatul muslimin ketika jama’ah seperti ini ada dan tidak diperbolehkan baginya untuk keluar atau meletakkan ketaatan terhadapnya dan juga tidak berhak bagi pemerintahan islam atau imam mengeluarkannya (memecatnya) dari jama’atul muslimin kecuali dikarenakan alasan-alasan yang dibenarkan dan setelah dilakukan upaya penyadaran atas kesalahannya.

Diantara hal-hal yang bisa mengeluarkan seseorang dari jamaatul muslimin :

1. Upaya mengkudeta pemerintahan yang sah atau disebut juga dengan bughot (pemberontak), sebagaimana firman Allah swt :

Artinya : “Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau Dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil.” (QS. Al Hujurat : 9)

2. Memerangi pemerintahan yang sah dengan cara melakukan kekacauan di dalam negeri seperti : perampokan, pengrusakan, penjarahan atau sejenisnya, sebagaimana disebutkan didalam firman-Nya :

Artinya : “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar,” (QS. AL Maidah : 33)

3. Kekufuran baik keufurannya dikarenakan tidak mau menerima prinsip-prinsip islam untuk menghalalkan apa-apa yang dihalalkan Allah swt atau pun mengharamkan apa-apa yang diharamkan-Nya maka ia termasuk didalam kategori orang yang disebutkan didalam hadits “(yaitu) orang yang meninggalkan agamanya lagi berpisah dengan jama’ah” . Atau kekufuran tehadap islam, menentangnya, memberikan loyalitas kepada musuh-musuh islam, memerangi islam dan mereka adalah orang-orang yang murtad yang telah meletakkan ikatan islam dari leher-leher mereka lalu bergabung dengan musuh-musuh islam, seperti yang terjadi pada masa Abu Bakar ketika banyak orang-orang yang murtad, meninggalkan agama dan memerangi kaum muslimin.

Sedangkan berkaitan dengan pemecatan yang dilakukan suatu jama’ah atau harokah da’wah saat ini yang notabene adalah jama’ah minal muslimin terhadap anggotanya dikembalikan kepada aturan-aturan atau AD/ART dari jama’ah tersebut.

Yang tentunya apabila jama’ah tersebut adalah jama’ah yang bercita-cita mengembalikan kejayaan kaum muslimin dan kepemimpinan islam (khilafah islamiyah) maka AD/ART yang dimilikinya haruslah bersesuaian dengan prinsip-prinsip yang dimiliki islam bukan semata-mata hasil pemikian para pemimpinanya.

Sebagaimana islam yang melihat sebuah kemaksiatan tidak berada didalam satu garis akan tetapi ada yang tergolong dosa kecil dan ada juga yang besar dengan sangsi-sangsi yang berbeda diantara keduanya atau bahkan dosa besar sekali pun ketika dia bertaubat maka akan dapat pemaafan dari Allah swt. Maka begitu pula seharusnya sebuah jama’ah da’wah untuk tidak melihat segala kesalahan anggotanya dalam satu garis apabila memang dia berbuat kesalahan. Ketika memang seorang anggotanya ada yang melakukan pelanggaran syari’ah maka berhak bagi jama’ah untuk memberikan sangsi sesuai dengan jenis dan bobot kesalahan syari’ahnya itu. Bisa saja si pelaku dikenakan sangsi berat atau bahkan pemecatan dikarenakan bobot pelanggaran yang dilakukannya juga berat atau telah keluar dari prinsip-prinsip islam.

Dan perlu juga diketahui kesalahan atau kekeliruan bukan hanya milik anggotanya sehingga jama’ah tampak suci tanpa ada kesalahan. Sesungguhnya kesalahan dan kekeliruan juga bisa terjadi pada jama’ahnya. Karena itu diperlukan adanya kebersamaan didalam menjaganya agar jama’ah tetap berada diatas tracknya yang benar melalui saling ingat-mengingatkan, nasihat menasihati atau wasiat mewasiati baik diantara anggota atau antara anggota dengan pemimpinnya.

Para pemimpin jama’ah atau harokah diharuskan siap mendengarkan berbagai masukan, nasihat atau kritikan dari para anggotanya dan dilarang baginya bersikap emosional dan cepat marah didalam menanggapinya apalagi jika berujung pemecatan orang tersebut dari jama’ah hanya karena tidak siap mendengarkannya. Karena sesungguhnya didalam kritikan dan masukan tersebut ada kebaikan bagi jama’ah itu sendiri.

Syeikh Mustafa Masyhur, didalam kitabnya “Min Fiqh ad Da’wah” mengatakan,”Diantara sifat mukmin ialah suka nasihat menasihati dengan kebenaran dan wasiat mewasiati dengan kesabaran. Ketinggian kedudukan pimpinan tidak boleh menjadi penghalang untuk untuk saling menasihati ke arah kebenaran dan kesabaran dengan tujuan memperbaiki amal dan mengelakkan hal-hal yang negatif dan tidak benar. Tidak boleh merasa berat memberikan nasihat kepada pimpinan dan pemimpin tidak boleh keberatan menerima nasihat baik bahkan dia harus menerimannya dengan lapang dan dada terbuka.

Pemimpin seharusnya bersyukur atas nasihat anggota karena manfaat kebaikannya berguna untuk da’wah dan dirinya sendiri. Hadits Rasulullah saw berikut menunjukkan betapa pentingnya persoalan naesihat menasihati.

Rasulullah saw bersabda,”Agama adalah nasihat. Kami bertanya,’Bagi siapa?’ Rasulullah saw menjawab,’Bagi Allah, Rasul-Nya, Kitab-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan orang-orang awamnya.”

Tentang perlunya para pemimpin menjauhkan dirinya dari sifat cepat marah telah diingatkan oleh Syeikh Mustafa Mayhur juga di bagian lain dari buku itu dengan mengatakan,”Jika seorang pemimpin mudah marah, kemungkinan besar ia akan melakukan berbagai kesalahan, bahkan meletakkan dia dalam kedudukan yang tidak sesuai sebagai pemimpin jama’ah. Ini tak syak lagi, akan mendatangkan bencana terhadap da’wah dan jama’ah.”

Dua sifat diatas yaitu mau menerima nasihat atau kritikan—sekeras apa pun ia disampaikan atau bagaimana pun cara penyampaiannya—dan tidak cepat marah terhadap siapa pun orang yang menasehati atau mengkritiknya maka akan menjadikan seorang pemimpin terhindar dari kesalahan dan semua adalah demi kemaslahatan jama’ah itu sendiri.

Ketika Umar bin Khottob diangkat menjadi khalifah kaum muslimin, dia langsung mendapatkan nasehat ‘keras’ dari salah seorang rakyatnya yang hadir sambil mengangkat pedangnya dan meminta agar Umar tetap istiqomah diatas kebenaran bahkan orang itu mengancam Umar dengan pedangnya jika menyimpang dari jalan-Nya. Mendengar nasehat tersebut Umar tidaklah marah terhadapnya apalagi memecatnya dari jama’atul muslimin. Namun Umar justru berterima kasih kepadanya dan bersyukur kepada Allah karena masih ada dari rakyatnya yang siap meluruskan (menasihati) nya jika dirinya melanggar dari kebenaran.

Begitu pula Rasulullah saw yang senantiasa mendengarkan nasihat atau masukan yang disampaikan oleh para sahabatnya, seperti : nasihat Abu Bakar dan Umar dalam permasalahan tawanan perang badar, al Hubab bin al Mundzir dalam pemilihan lokasi kaum muslimin dalam perang badar. Bahkan Rasulullah saw memaafkan apa yang dilakukan Hatib bin Abi Balta’ah yang telah membocorkan rahasia kepada orang-orang Quraisy karena Hatib termasuk orang yang ikut didalam peperangan badar.

Pemecatan yang dilakukan jama’ah minal muslimin terhadap anggotanya tidaklah memiliki efek syar’i, seperti : kelak jika dia mati maka matinya jahiliyah atau orang itu pensiun jadi da’i!

Dipecatnya seseorang dari jama’ah atau harokah da’wah tidak berarti orang itu juga dipecat dari da’wah atau pensiun jadi da’i karena keberadaan jama’ah saat ini hanyalah mengambil fungsi idariyan (administrasi) dan tanzhimiyan (penataan) saja. Dia tetap harus berda’wah walaupun hanya sendirian karena da’wah ini milik Allah. Allah yang telah memberikannya hidayah kepada islam dan hidayah untuk menjadi seorang da’i yang menyeru manusia kepada jalan-Nya.

Wallahu A’lam

Sumber : http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/istilah-pecat-dalam-berda-wah.htm

Mampukah Perempuan Zaman Sekarang Hidup Dengan Sunah Rasulullah Saw?

Rasulullah Muhammad Saw adalah nabi terakhir yang ditunjuk oleh Allah Swt untuk menegakkan agama Islam di dunia sebagai petunjuk bagi umat manusia sebelum menghadapi hari akhir. Nabi Muhammad Saw adalah pemimpin, pemberi petunjuk dan panutan bagi kaum Muslimin. Tindakan-tindakannya, secara pribadi maupun di depan publik, selalu mendapat bimbingan dari Allah Swt sehingga ia menjadi lambang bagi orang yang berbudi luhur, berperilaku dan berkarakter mulia.

Rasulullah Saw dicintai dan dihormati oleh generasi pertama kaum Muslimin yang meniru, mengagumi dan mencontoh perbuatan serta sikap Rasulullah Saw dalam kehidupan mereka sehai-hari. Dalam Al-Quran Surat Ali Imran ayat 31 disebutkan;

“Katakanlah: Jika memang kamu cinta kepada Allah, maka turutkanlah aku, niscaya cinta pula Allah kepada kamu dan akan diampuniNya dosa-dosa kamu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi penyayang.”

Kecintaan dan kasih sayang Allah Swt pada seorang mukmin, baik laki-laki maupun perempuan, tergantung pada tingkat kecintaan dan kepatuhan seorang mukmin pada Rasulullah Muhammad Saw. Kecintaan dan kepatuhan itu harus tercermin dalam cara hidup mereka dengan mencontoh kebiasaan, kualitas dan kepribadian Rasulullah Saw.

Kaum Muslimin menghadapi tantangan dan tekanan yang berat untuk memegang teguh keyakinan mereka atau keyakinan itu akan luntur oleh gaya hidup sekular. Berbeda dengan zaman Rasulullah Saw, para sahabat secara otomatis dan dengan sepenuh hati menjalankan Sunah Rasulullah Saw. Sekarang, zamannya sudah berubah, menerapkan Sunnah Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari menjadi tantangan tersendiri bagi banyak kaum Muslimin. Beberapa faktor yang mempengaruhinya antara lain;

  1. Modernisasi Perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan, penerbangan, teknologi dan industrialisasi membuat kehidupan menjadi serba cepat dan riuh. Seseorang akan dipandang kuno atau primitif jika memiliih menerapkan metode-metode yang usang, yang ditemukan berabad-abad yang lalu dan bukan metode hasil penemuan riset yang modern, berdasarkan data dan penemuan ilmiah. Di jaman modern ini, para lelaki Muslim lebih senang mencukur jenggotnya daripada menumbuhkan jenggot.
  2. Tekanan Lingkungan dan Budaya Korporat Di jaman sekarang hampir setiap orang bekerja untuk mencari nafkah-mulai dari orang-orang tua, kaum perempuan, remaja bahkan kadang anak-anak. Kehidupan mereka hanya berkutat di seputar bagaimana mengejar karir dan menapaki jenjang karir di perusahaan. Orang enggan berkompromi terhadap karir mereka ketika praktek-praktek sunah menjadi kendala dalam karir mereka. Contohnya, seorang muslimah mungkin tidak diijinkan mengenakan jilbab di tempatnya bekerja atau harus protes dulu agar ia boleh mengenakan rok panjang sesuai ajaran Islam.
  3. Tradisi dan Budaya Banyak kaum Muslimin yang ingin mempraktekkan ajaran Islam harus menghadapi tekanan dari generasi Muslim yang lebih tua dalam lingkungan etnis maupun geografis mereka. Generasi tua itu kadang memberikan preferensi tentang Sunah Rasulullah yang sudah dicampuradukkan dengan budaya mereka.
  4. Invasi Teknologi Peralatan teknologi dan informasi yang berkembang sekarang ini memungkinkan gambar-gambar, rekaman video dan material lainnya ditonton dan dinikmati bersama orang lain di manapun, kapanpun. Tak terkecuali material-material yang eksplisit dan tidak layak disaksikan. Kaum Muslimin zaman sekarang ditantang untuk menjalankan Sunah Rasulullah di tengah maraknya fitnah terhadap Islam dan kaum Muslimin itu sendiri. Misalnya, bagaimana seorang lelaki Muslim tertantang untuk menundukkan pandangannya ketika melihat gambar-gambar perempuan yang provokatif yang bertebaran di sekeliling mereka bahwa di telepon genggam saat mereka sedang membaca informasi-informasi.
  5. Kelompok-Kelompok Islam yang Menyimpang Kaum Muslimin harus berhati-hati karena banyak kelompok-kelompok Muslim yang tergelincir melakukan penyimpangan ajaran Islam dan melakukan bid’ah. Seseorang yang melakukan tindakan yang tidak ada dasar ajarannya dalam Islam dan tidak pernah dicontohkan Rasulullah maka ia sudah jauh dari sunah.

Mengatasi tantangan-tantangan itu agar kita tetap berpegang pada Sunah Rasulullah Saw bukan pekerjaan yang gampang bagi umat Islam di zaman sekarang ini. Mereka bukan hanya harus menjaga keyakinan agama mereka dari gerusan modernisme dan dari godaan duniawi tapi juga harus berjuang melalui perbuatan dan perilaku mereka untuk membuktikan bahwa Islam adalah agama yang praktis dan mudah diimplementasikan dalam situasi zaman apapun.

Tantangan Kehidupan Modern Bagi Muslimah

Sekarang ini, banyak Muslimah yang taat menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan keseharian mereka, terjun ke dunia dakwah. Para Muslimah ini juga begitu bersemangat untuk tetap memelihara dan mengikuti Sunah Rasulullah, terutama yang berkaitan dengan kehidupan mereka sebagai perempuan.

Islam memberi garis batas tegas soal gender. Misalnya, menunaikan salat di masjid lebih disarankan bagi kaum lelaki Muslim dan bukan bagi kaum perempuan. Para Muslimah oleh sebab itu, harus mencontoh kehidupan para perempuan dalam lingkungan Rasulullah Saw, yang mematuhi dan mempraktekkan agama Islam berdasarkan bimbingannya, untuk mendapatkan tuntunan dalam menerapkan Sunah Rasulullah Saw dalam konteks kehidupan di masa kini.

Para perempuan mulia di lingkungan Rasulullah Saw yang paling utama dijadikan panutan adalah para isteri dan anak-anak perempuan Rasulullah Saw. Beberapa diantara mereka memiliki keahlian yang mumpuni dalam masalah hukum Islam.

Di jaman sekarang, tantangan terbesar bagi kaum perempuan dalam level global ketika mereka memilih untuk menerapkan Sunah Rasulullah sebagai cara hidup mereka adalah, asumsi yang menyebutkan bahwa kaum lelaki dan Islam telah menindas kaum perempuan dan memaksa para perempuan untuk berpakaian serba sederhana serta asumsi bahwa perempuan seharusnya lebih fokus pada pekerjaan rumah tangga dan keluarga mereka, bukan pada karir atau pekerjaan di luar rumah.

Banyak Muslimah yang mematuhi Sunah Rasulullah dan berkeinginan untuk menerapkan cara-cara hidup yang Islami. Tetapi, kesalahpahaman tentang kaum perempuan dalam Islam, yang dilakukan oleh media dan kelompok-kelompok yang berbasis gender membuat kesalahpahaman dan stereotipe yang tidak benar terpelihara.

Kiat Sukses Hidup Bersama Sunah Rasulullah Saw

Tidak ada metodologi yang instan dan serba cepat agar kita bisa menjaga dan menerapkan Sunah Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, di masa kini dan seterusnya. Tapi butuh strategi yang luas dalam jangka panjang yang akan membuahkah hasil. Untuk umat Islam, baik lelaki dan perempuan disarankan;

  1. Membekali Diri dengan Pengetahuan tentang Islam Misalnya, belajar membaca Al-Quran, belajar bahasa Arab, belajar tafsir Al-Quran, sering mendengarkan ceramah-ceramah agama oleh ulama berkualitas, bisa menambah ketaqwaan dan mendorong kita untuk berpegang teguh pada Sunah Rasululullah Saw.
  2. Mempelajari Sirah, tentang kehidupan Rasulullah Saw dan Hadist. Ini bisa dilakukan dengan banyak membaca atau mendengarkan ceramah keagamaan tentang kehidupan Rasulullah Saw. Dengan demikian, semakin kita mengenal Rasulullah, makin mudah bagi kita untuk mencintai dan mencontoh tindakan dan perilakunya.
  3. Melaksanakan Kewajiban-Kewajiban Agama Tak peduli betatapun beratnya, laksanakan kewajiban-kewajiban utama seorang Muslim, seperti salat lima waktu dan puasa di bulan Ramadan.
  4. Cari Teman yang Seiman Bergaulah dengan sesama Muslim yang taat menjalankan ajaran Islam, termasuk mengenali keluarga mereka. Melibatkan diri dalam berbagai kegiatan berbasis sosial kemasyarakatan.

Tantangan yang sebenarnya, bukan apakah umat Islam bisa mempraktekkan ajaran Islam dan Sunah Rasulullah Saw dengan efektif atau tidak. Tantangan itu adalah, bagaimana mengatasi berbagai kendala-kendala yang berdasarkan prasangka buruk semata terhadap umat Islam. Jika tantangan itu bisa diatasi, umat Islam membuktikan bahwa mereka bisa hidup dengan jalan yang mereka pilih. Jalan Islam dan Sunah Rasulullah Saw. (Sadaf Faruqi/iol/ln)

Catatan Penulis:
Sadaf Faruqi adalah seorang muslimah yang tinggal di Karachi, Pakistan. Ia menyandang gelar master untuk bidang ilmu komputer dan diploma di bidang pendidikan Islam. Selain sebagai penulis lepas, Faruqi bertahun-tahun menjadi guru agama Islam untuk kaum perempuan dan remaja puteri. Tulisan-tulisannya dimuat di Majalah Hiba, Majalah SISTERS dan Saudi Gazette. Ia juga aktif sebagai blogger di MuslimMatters.org.

Sumber : http://www.eramuslim.com/muslimah/mampukah-kaum-perempuan-zaman-sekarang-hidup-dengan-sunah-rasulullah-saw.htm

Awan Tag