Aku, Dunia, dan Akhiratku…

Posts tagged ‘DEMOKRAT-PKS’

Golkar-Hanura Resmi Ajukan Kalla-Wiranto

jk-winVIVAnews – Partai Golkar dan Partai Hati Nurani Rakyat resmi mengajukan duet calon presiden dan wakil presiden Jusuf Kalla dan Wiranto dalam Pemilu Presiden 2009. Peresmian ini dilakukan di rumah Jusuf Kalla di Jalan Ki Mangunsarkoro, Jakarta.

“DPP PG dan DPP Hanura menyatakan untuk mencalonkan Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla sebagai calon presiden dan Ketua Umum Hanura Wiranto sebagai calon wakil presiden dalam Pemilihan Presiden 2009,” kata Sekretaris Jenderal Partai Golkar Soemarsono membacakan pernyataan bersama, Jumat 1 Mei 2009. “Kesepakatan ini akan ditindaklanjuti dalam pemenangan Pemilihan Presiden.

Kemudian pernyataan itu ditandatangani oleh Ketua Umum Golkar Jusuf Kalla, Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat Wiranto, dan sekretaris jenderal kedua partai. Lalu dilanjutkan penandatanganan kesepakatan bersama oleh Sekjen dan Ketua Umum.

Meski gabungan suara sah kedua partai ini dalam Pemilu hanya mencapai 19 persen, namun berdasarkan perhitungan kursi, mereka bisa mencalonkan presiden dan wakil presiden sendiri. Gabungan kedua partai ini diperkirakan meraup 24 persen kursi parlemen, melewati angka 20 persen kursi yang disyaratkan Undang-undang Pemilihan Presiden.

Menjadi calon wakil presiden jelas ‘turun pangkat’ bagi Wiranto yang pada Pemilihan Presiden 2004 merupakan calon presiden dari Partai Golkar. Sementara Jusuf Kalla menjadi calon wakil presiden berpasangan dengan Susilo Bambang Yudhoyono.

Sumber : http://politik.vivanews.com/news/read/54209-golkar_hanura_resmi_ajukan_kalla_wiranto

Mengapa Takut pada PKS ?

Wanandi: “The possibility that SBY will join with PKS makes us nervous. There is a lot of uncertainity around this. We don’t know if we can believe them.”

pksOleh: Sapto Waluyo (Direktur Eksekutif Center for Indonesian Reform)

Sebuah acara talk show di stasiun televisi berlangsung seru pasca Pemilu yang baru berlalu di Indonesia. Para pembicara berasal dari partai-partai besar peraih suara terbanyak: Anas Urbaningrum dari Partai Demokrat yang tampil sebagai pemenang pemilu, Sumarsono (Sekretaris Jenderal Partai Golongan Karya yang sempat shock karena tergeser ke ranking kedua), dan Tjahjo Kumolo (Ketua Fraksi PDI Perjuangan yang menempuh jalan oposisi). Narasumber keempat adalah seorang anak muda, doktor bidang teknik industry lulusan Graduate School of Knowledge Science, Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST), Mohammad Sohibul Iman, dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Usai debat panas, Kumolo mendekati Iman dan berbisik: “Mas, bagaimana sikap teman-teman PKS terhadap PDIP? Posisi Hidayat Nur Wahid cukup berpengaruh di kalangan PDIP, dia menempati ranking kedua untuk mendampingi Ibu Mega.” Perbincangan intim itu tak pernah dilansir media manapun, meski publik mencatat Hidayat pernah diundang khusus dalam acara rapat kerja yang dihadiri pengurus dan kader PDIP se-Indonesia. Dua pekan setelah Pemilu, DPD PDIP Sulawesi Utara, yang berpenduduk mayoritas non-Muslim masih mengusulkan lima calon wakil presiden yang layak mendampingi Mega, yakni Sri Sultan Hamengkubuwono, Prabowo Subianto, Akbar Tanjung, Hidayat Nur Wahid dan Surya Paloh (Republika, 21/4). Itu bukti kedekatan partai nasionalis sekuler dengan Islam, lalu mengapa selepas pemilu yang aman dan lancar, tersebar rumor sistematik bahwa partai Islam radikal (PKS) menjadi ancaman keutuhan nasional Indonesia?

logo-pksPartai Demokrat dan PKS sekali lagi membuat kejutan. Dalam Pemilu 2004, partai pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Ketua Dewan Pembina itu, hanya menempati urutan kelima dengan perolehan suara 7,5%. Sekarang mereka menempati tempat teratas dengan raihan suara lebih dari 20,6% menurut perhitungan suara sementara. Sementara PKS yang menempati ranking keenam pada Pemilu 2004 dengan suara 7,3% memang tak bertambah secara drastis, diperkirakan hanya meraih 8,2% suara, menurut tabulasi sementara Komisi Pemilihan Umum. Tapi, PKS dengan posisi keempat dalam pentas nasional menjadi Partai Islam terbesar di Indonesia. Inilah yang menjadi sumber kontroversi bagi sebagian pengamat Barat.

Bila kemenangan Partai Demokrat disambut meriah oleh media Barat, sehingga majalah Time berencana untuk memasukkan sosok SBY sebagai satu di antara 100 tokoh berpengaruh di dunia, maka kemunculan PKS dinilai negatif oleh penulis semisal Sadanand Dhume. Dalam Wall Street Journal Asia (15/4), Dhume menyatakan: “The most dramatic example of political Islam’s diminished appeal is the tepid performance of the Prosperous Justice Party (PKS), Indonesia’s version of the Muslim Brotherhood. PKS seeks to order society and the state according to the medieval precepts enshrined in shariah law.” Pandangan serupa diungkapkan Sara Webb dan Sunanda Creagh yang mengutip kekhawatiran pengusaha keturunan Cina, Sofjan Wanandi dan pengamat beraliran Muslim liberal, Muhammad Guntur Romli (Reuters, 26/4).

68294_kampanye_akbar_pks_thumb_300_2251Wanandi, pengusaha sekaligus pendiri Centre for Strategic and International Studies (CSIS), berkata terus terang: “The possibility that SBY will join with PKS makes us nervous. There is a lot of uncertainity around this. We don’t know if we can believe them.” Sedangkan, Romli menegaskan: “PKS have a conservative ideology but are portraying themselves as open and moderate because they are also pragmatic.” Kesangsian Wanandi dan Romli justru menimbulkan pertanyaan, karena mereka mungkin sudah membaca Falsafah Dasar Perjuangan dan Platform Kebijakan Pembangunan yang dikeluarkan PKS setahun sebelum penyelenggaraan pemilu. Buku setebal 650 halaman itu menjelaskan segala langkah yang sudah, sedang dan akan dilakukan PKS untuk mewujudkan masyarakat madani yang maju dan sejahtera di Indonesia. Tak ada sedikitpun disebut ide Negara teokratis atau diskriminasi terhadap kaum minoritas.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyediakan waktu khusus untuk menyimak platform PKS setebal 4,5 centimeter itu dan berkomentar, “Isinya cukup komprehensif seperti Garis-garis Besar Haluan Negara atau Rencana Pembangunan Jangka Panjang yang disusun pemerintah meliputi seluruh aspek kehidupan Negara modern.” Prof. Jimly Ashiddiqie, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, menilai inisiatif PKS merupakan tradisi baru dalam dunia politik agar setiap partai menjelaskan agendanya ke hadapan publik secara transparan dan bertanggung-jawab. Sementara Prof. Azyumardi Azra, mantan Rektor Universitas Islam Negeri, memberikan apresiasi khusus karena PKS berani melakukan obyektivikasi terhadap nilai-nilai Islam dalam konteks masyarakat Indonesia kontemporer. Siapa yang harus kita percaya saat ini, pengusaha dan pengamat yang gelisah karena kepentingan pribadinya mungkin terhambat atau menteri dan pakar yang menginginkan perbaikan dalam kualitas pemerintahan di masa datang?

tifatul_sembiring1_080709Kehadiran partai Islam memang kerap memancing perhatian, tak hanya di Indonesia. Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) di Turki yang secara harfiyah menyebut diri berideologi sekuler ternyata masih dicap sebagai kelanjutan dari partai fundamentalis Islam. Gerakan Hamas yang secara patriotik membuktikan diri berjuang sepenuhnya untuk kemerdekaaan nasional Palestina disalahpersepsikan sebagai ancaman perdamaian dunia. Perhatian publik semakin kritis setelah partai Islam berhasil memenangkan pemilu yang demokratis, dan berpeluang menjalankan pemerintahan. Stereotipe buruk kemudian disebarkan untuk menggambarkan partai Islam seperti virus flu yang berbahaya, dengan merujuk pengalaman di Aljazair, Sudan atau Pakistan.

Tapi, semua insinuasi itu tak berlaku di Indonesia karena partai Islam dan organisasi sosial-politik Islam yang lebih luas telah berurat-akar dalam sejarah dan memberi kontribusi kongkrit dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Hanya orang bodoh yang tak tahu bahwa: organisasi modern yang pertama lahir di Indonesia adalah Serikat Dagang Islam (1905), partai politik yang pertama berdiri dan bersikap nonkooperasi terhadap penjajah Belanda adalah Syarikat Islam (1911), organisasi pemuda yang mendorong pertemuan lintas etnik dan daerah ialah Jong Islamienten Bond hingga terselenggaranya Sumpah Pemuda (1928), mayoritas perumus konstitusi dan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia (1945) adalah tokoh Islam, dan penyelamat Negara kesatuan Indonesia dari ancaman komunisme (1966) adalah organisasi pemuda dan mahasiswa Muslim nasionalis. Kekuatan Islam juga sangat berperan dalam mengusung gerakan reformasi di tahun 1998, tanpa meremehkan peran kelompok agama/ideologi lain.

pksbanner2Tak ada yang perlu ditakuti dari kiprah Partai Islam di masa lalu dan masa akan datang, termasuk dalam membentuk pemerintahan baru di Indonesia. Partai Islam memiliki agenda yang jelas untuk memberantas korupsi melalui reformasi birokrasi, meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan menekan angka kemiskinan dan pengangguran, sehingga semangat “jihad” yang sering disalahtafsirkan itu, dalam konteks Indonesia modern bisa bermakna: perang melawan korupsi, kemiskinan dan pengangguran. Jika ada kelompok yang takut atau memusuhi Partai Islam, maka perlu diselidiki apakah mereka memiliki komitmen yang sama untuk membasmi korupsi, kemiskinan dan pengangguran? Membatasi, apalagi mengisolasi Partai Islam, hanya akan menambah panjang persoalan yang berkecamuk di negeri mayoritas Muslim seperti Indonesia.

Partai Islam tak hanya mampu meraih dukungan yang cukup luas dalam pemilu, bahkan tokoh-tokohnya yang berusia relatif muda mulai mendapat kepercayaan pemilih. Exit poll yang digelar Lembaga Pengkajian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) pada tanggal 9 April menunjukkan bahwa pasangan Yudhoyono-Hidayat meraih suara 20,8 persen, mengungguli Yudhoyono-Jusuf Kalla yang meraih 16,3 persen, dan Yudhoyono-Akbar Tandjung yang hanya memperoleh 5,4 persen dukungan responden. Jika fakta elektabilitas yang tinggi ini masih diingkari, maka kecurigaan terhadap Partai Islam sungguh tak berdasar dan melawan kehendak rakyat yang menjadi inti demokrasi.

*) Center for Indonesian Reform (CIR), Gedung PP Plaza Lantai 3, Jalan TB Simatupang No. 57, Jakarta Timur Email: sapto.waluyo@gmail.com

Sumber : http://eramuslim.com/berita/laporan-khusus/mengapa-takut-pada-pks.htm

Hidayat: Koalisi PKS-Demokrat Mesti Dicontoh

59834_susilo_bambang_yudhoyono_dan_hidayat_nur_wahid_thumb_300_225VIVAnews – Anggota Dewan Syura Partai Keadilan Sejahtera, Hidayat Nur Wahid, mengatakan koalisi antara PKS dan Partai Demokrat dalam bursa pemilihan presiden Juli 2009, patut diteladani.

“Karena koalisi ini tidak didasarkan pada bagi-bagi kekuasaan dan mempertahankan kekuasaan, tapi komitmen memperjuangkan nilai platform,” kata Hidayat kepada VIVAnews, Selasa 29 April 2009.

Rapat Musyawarah Majelis Syura PKS telah memutuskan berkoalisi dengan Partai Demokrat. Koalisi itu mereka lakukan setelah mempertimbangkan aspirasi dari 33 majelis syura provinsi.

Hidayat mengatakan koalisi antara PKS dan Demokrat berlandaskan pada kesamaan platform yang berorientasi untuk menyamakan visi dan misi yang berpihak kepada rakyat.

Lebih lanjut, Hidayat mengingatkan kepada semua peserta pemilihan presiden untuk tetap menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.

“Jangan karena sibuk pencalonan presiden, koalisi, kemudian tugas masing-masing terbengkalai, negara terbengkalai, dan rakyat tidak diurus,” kata dia.

Sumber : http://politik.vivanews.com/news/read/53302-hidayat__koalisi_pks_demokrat_mesti_dicontoh

PKS Tak Gentar Koalisi 6 Parpol

INILAH.COM, Jakarta – Koalisi besar 6 parpol sedang dirumuskan. Ada Partai Golkar, PDIP, PAN, PPP, Gerindra, dan Hanura. Bila perolehan suara keenamnya digabung bisa menang jauh dari penggabungan suara Partai Demokrat, PKS, dan PKB. Namun PKS tidak gentar.

“Itu kan hanya suatu matematika angka. Seperti Pilpres 2004 itu suara dari pendukung SBY-JK sampai putaran kedua sekalipun tidak seimbang dengan suara Mega-Hasyim. Tapi Anda tahu kan bagaimana hasilnya,” ujar anggota Majelis Syura PKS Hidayat Nur Wahid di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (29/4).

Berdasarkan penghitungan cepat, PD meraih 20,2% suara, PKS 7,7%, PKB 5,35% sehingga menjadi 33,25%. Sedangkan Golkar 14,55%, PDIP 14,4%, PAN 5,85%, PPP 5,2%, Gerindra 4,4%, Hanura 3,6% menjadi 48%.

“Tapi ini bukan terkait dengan beberapa partai yang berkoalisi. Tapi bagaimanakah kualitas dan elektabilitas calon-calon yang diajukan,” kata Hidayat yang juga mantan Presiden PKS ini. [sss]

Sumber : http://inilah.com/berita/politik/2009/04/29/102868/pks-tak-gentar-koalisi-6-parpol/

PD dan PKS Grand Final Kamis

Pada pertemuan kali ini, PKS juga menyerahkan amplop yang berisi platform yang diajukan PKS sebagai kerangka koalisi bersama PD.

 

Jakarta – Pertemuan Partai Demokrat (PD) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam rangka menuju koalisi terus digelar. Pertemuan ini akan mencapai puncaknya Kamis, 30 April 2009.

“Yang tadi kita bicarakan itu seperti tentang otonomi, ke depannya seperti apa. Lusa akan ada final. PKS dengan kami pertemuan grand final,” ujar Ketua DPP PD Ruhut Sitompul usai pertemuan PD-PKS di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (28/4/2009).

Sebelumnya PKS telah menyerahkan nama-nama cawapres dalam amplop tertutup ke Demokrat. Amplop ini telah diterima SBY.

Pada pertemuan kali ini, PKS juga menyerahkan amplop yang berisi platform yang diajukan PKS sebagai kerangka koalisi bersama PD. Jika pembicaraan keduanya mencapai deal, bisa dipastikan PKS akan bergabung dengan gerbong Demokrat menuju Pilpres 2009.

Sumber : http://pk-sejahtera.org/v2/index.php?op=isi&id=7284

Enam Kandidat Kuat Cawapres Yudhoyono

sby-hnw1VIVanews –  Pengamat Politik dari Universitas Paramadhina, Bima Arya Sugiarto, mengatakan bila kelak Partai Demokrat tidak lagi berkoalisi dengan Partai Golkar maka tokoh nasional yang berpeluang mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono maju ke pemilihan presiden berasal dari tiga partai.

Tokoh dari tiga partai yang diperkirakan memiliki strum tinggi di Partai Demokrat adalah Hidayat Nur Wahid dan Tifatul Sembiring dari Partai Keadilan Sejahtera. Muhaimin Iskandar dan Lukman Edy dari Partai Kebangkitan Bangsa. Sedangkan dari Partai Amanat Nasional adalah Soetrisno Bachir dan Hatta Radjasa.

“Dari sanalah Yudhoyono dapat mengambil calon pendampingnya. Tentunya dengan pertimbangan track record politik, pengalaman di parlemen dan partai,” kata Bima di Jakarta, Selasa 28 April 2009.

Kata Bima, Hidayat memiliki banyak pengalaman partai dan parlemen. Sedangkan Tifatul hanya berpengalaman mengelola partai.

Sedangkan Soetrisno Bachir dinilai kurang memiliki chemistry. Dia hanya mempunyai pengalaman di bidang partai. Di PAN, Bima menilai Hatta lebih layak karena dia memiliki pengalaman di panggung politik, parlemen dan kepartaian.

Sementara Muhaimin dan Lukman Edi, kata Bima, seandainya kelak dipilih Yudhoyono, hal itu lebih berdasarkan pertimbangan keamanan pemerintahan karena kedua tokoh partai itu, selama ini dikenal setia kepada Partai Demokrat.

Itulah sebabnya, Bima menyarankan kepada Yudhoyono untuk segera menentukan siapa nama calon wakilnya. Hal ini, kata Bima, untuk mengantisipasi politik pecah belah yang ditujukan kepada Partai Demokrat.

Sumber : http://politik.vivanews.com/news/read/53150-enam_kandidat_kuat_cawapres_yudhoyono

Mega & Prabowo Bahas Kemungkinan Duet

69024_ketua_umum_pdip_megawati_soekarnoputri_salami_prabowo_subianto_thumb_300_225VIVAnews – Ketua Umum Partai Demokrasi Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, kembali bertemu dengan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto. Keduanya membahas kemungkinan berduet sebagai calon presiden dan wakil presiden.

“Terutama membahas usulan dari mayoritas daerah yang memberi dukungan kepada Prabowo sebagai cawapres,” kata Sekretaris Jenderal PDIP, Pramono Anung, di kediaman Mega, Jalan Teuku Umar, Menteng, Minggu 26 April 2009.

Keduanya dijadwalkan bertemu siang ini dalam sebuah jamuan makan siang. Keduanya akan menyamakan beberapa persepsi menuju satu keputusan strategis. Ada beberapa hal yang masih dibicarakan. “Belum diputusakan,” ujarnya.

Dukungan terhadap duet Mega-Prabowo menguat dalam Rapat Kerja Nasional PDIP di kantor DPP PDIP, kemarin. Mayoritas DPD PDIP mendukung Prabowo sebagai pendamping Mega.

Ada juga sebagian kecil daerah yang mengusulkan Sultan Hamengkubuwono X sebagai calon wakil presiden Megawati. Namun dari dua nama yang mengerucut, pilihan ada di tangan Mega.

Selain bertemu dengan Prabowo, Megawati juga dijadwalkan akan menjamu Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Suryadharma Ali.

Sumber : http://politik.vivanews.com/news/read/52450-mega___prabowo_bahas_kemungkinan_duet

Demokrat Masih Menanti PAN

JAKARTA – Lima kriteria calon wakil presiden yang disebutkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bukanlah kriteria Partai Demokrat secara institusi.

“Kriteria calon wakil presiden itu ada di Partai, tapi tidak akan bertabrakan dengan lima kriteria Pak SBY,” ujar Ketua DPP Partai Demokrat Annas Urbaningrum, di acara Rapimnas Partai Demokrat, di PRJ, Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (26/4/2009).

Kriteria yang akan dimilik Partai Demokrat  akan lebih terperinci dari kriteria yang disampaikan SBY.”Jadi ada tambahan oleh Partai Demokrat yang dianggap penting,” terangnya.

Partai Demokrat belum menetapkan apakah calon wakil presiden diambil dari kalangan nonpartai atau partai. Yang penting calon wakil presiden itu memenuhi kriteria.

Lebih nyaman mana, wakil presiden dari nonpartai atau partai? “Sama-sama enjoy, definisi  enjoy itu bisa bekerja dengan baik  sehingga membantu  jalannya pemerintahan, produktif bagi kerja  untuk kepentingan pemerintah,” terangnya.

Annas mengulas, awalnya Partai Demokrat berpikir kalau cawapres sebaiknya dari Golkar, tapi karena Rapimnasus Golkar  menetapkan Jusuf Kalla sebagai calon presiden, maka Partai Demokrat melakukan plan B, melakukan upaya koalisi lain.

“Yang sudah resmi berkoalisi dengan partai Demokrat yaitu PKB. PKS sudah dekat dengan ijab kabul, kalau PAN masih menunggu proses internal,” pungkasnya.

Sumber : http://pemilu.okezone.com/read/2009/04/26/268/214027/demokrat-masih-menanti-pan

PKS Tetapkan Koalisi dengan Demokrat & SBY

VIVAnews – Musyawarah Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera memutuskan untuk melanjutkan koalisi dengan Susilo Bambang Yudhoyono sekaligus dengan Partai Demokrat dalam Pemilihan Presiden 2009. “PKS tidak lagi berkoalisi dengan SBY, tapi dengan Partai Demokrat dan SBY sekaligus,” kata Tifatul Sembiring, Ketua Tim Lima, tim lobi PKS untuk membangun koalisi.

PKS mengevaluasi, antara 2004-2009, PKS menjalin koalisi dengan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla sebagai pribadi. Untuk yang akan datang, PKS akan merekatkan hubungan dengan Demokrat yang berarti sekaligus dengan SBY yang merupakan Ketua Dewan Pembinanya.

“Ini merupakan hasil evaluasi Majelis Syura,” kata Tifatul yang memberikan jumpa pers usai mempresentasikan kegiatan Tim Lima di hadapan peserta Musyawarah Majelis Syura di Hotel Bidakara, Jakarta, Sabtu 25 April 2009. Dengan merekatkan diri ke Demokrat, PKS bisa bertindak konsisten baik di pemerintahan maupun di parlemen.

Selain itu, Majelis Syura juga menekankan koalisi bukan pada pembagian kue kekuasaan semata. “Koalisi harus berdasarkan kesamaan platform,” kata Tifatul yang juga anggota Majelis Syura itu.

Sementara evaluasi terhadap koalisi PKS dengan SBY-Jusuf Kalla, Majelis Syura menyimpulkan ada beberapa kesepakatan yang terlaksana. “Namun ada hal-hal yang belum terlaksana,” kata Tifatul. Dan PKS pun belum memberi penilaian “dapat poin berapa atas koalisi kemarin.”

Keputusan Majelis Syura ini belum dirumuskan secara baku. Berdasarkan jadwal, Musyawarah Majelis Syura baru merinci dalam bentuk keputusan pada Minggu, 26 April besok.

Sumber : http://politik.vivanews.com/news/read/52364-pks_tetapkan_koalisi_dengan_demokrat___sby

Intan Nuraini Dambakan Duet SBY-Hidayat

SBY itu berwibawa. Sementara Hidayat Nur Wahid itu bersih. Cocok deh.

 

VIVAnews – Pemain sinetron Intan Nuraini menjagokan Hidayat Nur Wahid menjadi calon wakil presiden mendampingi calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam Pemilu Presiden 2009. Intan berharap SBY menjatuhkan pilihan kepada Hidayat untuk mendampinginya selama lima tahun.

“Saya tidak terlalu suka politik, tapi soal pilihan pada Pemilihan Presiden itu wajib,” katanya ditemui di Hotel Clarion, Makassar, Jumat 24 April 2009. “Tapi jika SBY paket dengan Hidayat Nur Wahid, saya tidak akan ragu-ragu untuk mencontreng paket itu.”

Mantan kekasih Sahrul Gunawan itu memilih Hidayat karena latar belakang Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat tersebut. Hidayat adalah mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Intan sangat menyukai PKS karena menganggap partai nomor 8 itu sebagai partai bersih.

“Pak HNW merupakan kader PKS yang selama ini dikenal sebagai partai yang bersih. Sehingga sangat cocok jika HNW menjadi pemimpin bangsa. Biar negara ini tidak salah urus,” ujarnya dengan mimik serius.

Intan menambahkan, figur HNW yang bersih sangat pantas mendampingi sosok SBY yang berwibawa dan memiliki komitmen kuat membangun bangsa. Ia juga menganggap, paket tersebut bisa mempengaruhi masyarakat Indonesia menjatuhkan pilihannya kepada mereka.

Intan juga menyinggung tentang banyaknya artis yang terjun ke dunia politik. Ia menilai, fenomena tersebut lumrah adanya. Namun saat ditanya, apakah tertarik iku terjun ke dunia politik. Ia menjawab dengan diplomatis.

“Banyak partai yang meminta saya bergabung. Tapi, saya belum punya niatan ke sana. Dunia politik itu berat, membutuhkan banyak tenaga dan pikiran,” katanya.

Sumber : http://pk-sejahtera.org/v2/main.php?op=isi&id=7268

Awan Tag