Aku, Dunia, dan Akhiratku…

Posts tagged ‘Gaza’

Hamas Membantah Gencatan Senjata dengan Israel

hamasx2Salah seorang pimpinan Hamas – Ismail Ridwan menolak dan membantah sebuah laporan yang di publikasikan di Cina pada Kamis yang lalu yang mengatakan bahwa Hamas telah mendekati kepada suatu gencatan senjata dengan Zionis Israel.

Kantor berita Cina mengutip sumber yang dekat dengan Hamas yang menyatakan bahwa mediator Mesir Kamis yang lalu mengatakan kepada mereka bahwa Hamas siap untuk melakukan negoisasi gencatan senjata sementara dengan Zionis Israel dengan syarat Zionis Israel menghentikan serangan terhadap anggota-anggota Hamas di jalur Gaza.

Laporan tersebut juga mencatat bahwa Hamas diharapkan untuk mengumumkan gencatan senjata pada hari Jumat ini.

Ismail Ridwan mengatakan kepada Ma’an lewat telepon bahwa laporan tersebut tidak semuanya benar dan ia menambahkan bahwa setiap gencatan senjata harus mencakup pembukaan semua jalur penyeberangan, serta membuka semua pengepungan di seluruh Gaza dan penghentian serangan Israel terhadap warga sipil.(fq/mna)

Sumber : http://eramuslim.com/berita/palestina/hamas-bantah-laporan-tentang-gencatan-senjata-dengan-israel.htm

Konferensi Durban II dan Wajah Munafik AS-Eropa

ahmadiPresiden Iran Mahmoud Ahmadinejad bikin gebrakan lagi dengan pidatonya yang membuat telingan Barat dan Eropa panas dalam Konferensi Anti-Rasisme Durban II yang berlangsung di Jenewa, Swiss hari Senin kemarin. Tapi akibat pidatonya itu, Universitas Webster di Jenewa membatalkan undangan terhadap Ahmadinejad karena mendapat tekanan dari kelompok-kelompok lobi pro-Yahudi. Presiden Iran dijadwalkan memberikan pidatonya dan menggelar sesi tanya jawab di Universitas Webster di sela-sela acaranya menghadiri Konferensi Anti-Rasis Durban II. Tapi tekanan dari kelompok-kelompok lobi Yahudi di Swiss ternyata lebih kuat sehingga Universitas Webster membatalkan acara tersebut. Sejak awal, Israel memang gencar menghasut sekutu dekatnya, AS dan negara-negara Eropa lainnya untuk memboikot Konferensi Durban II, karena konferensi ini salah satu agendanya bakal mengkritisi kebijakan-kebijakan apartheid Israel di Palestina menyusul agresi brutal negara Zionis itu ke Gaza bulan Januari kemarin. Kehadiran Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad ke konferensi itu, bahkan diberi kesempatan berpidato, membuat negara-negara pro-Zionis makin antipati karena Ahmadinejad dikenal sebagai tokoh yang selama ini paling berani mengkritik kebijakan biadab Israel. Tekanan dan ancaman dari kelompok negara pro-Israel, ternyata tak membuat Presiden Iran itu melunakkan sikapnya terhadap Zionis Israel. Dalam pidatonya, Ahmadinejad menyebut rezim Zionis Israel sebagai “pemerintahan yang rasis, yang didirikan lewat dukungan agresi militer. “Mereka (Israel) menggunakan agresi militer berdasarkan dalih yudaisme, sehingga membuat sebuah bangsa kehilangan tanah airnya. Mereka mengirim para imigran dari Eropa, AS dan dari belahan dunia lainnya agar bisa membangun sebuah pemerintahan yang rasis di tanah jajahan mereka di Palestina,” kata Ahmadinejad dalam pidatonya. Ia juga mengatakan bahwa rasialisme yang sangat mengerikan di Eropa-lah yang telah membawa sebuah kekuatan yang kejam dan represif itu ke Palestina. Tak pelak, pidato itu membuat sejumlah delegasi dari Eropa yang pro-Zionis Israel langsung meninggalkan ruangan konferensi. Sementara Ahmadinejad tetap melanjutkan pidatonya dan mendapatkan sambutan meriah dari para peserta konferensi lainnya. Ketika para delegasi Eropa pro-Zionis itu meninggalkan ruangan, tiga orang di atas podium yang diduga “penyusup” berteriak-teriak “rasis” sambil menunjuk-tunjuk Presiden Iran. Petugas keamanan lalu mengeluarkan tiga penyusup itu. Atas insiden tersebut, Ahmadinejad cuma berkomentar, “Saya minta para hadirin yang terhormat memaafkan orang-orang tadi. Mereka orang-orang yang keliru.” Dalam pidatonya, Presiden Iran juga mengatakan, arogansi dan pemaksaan adalah sumber dari penindasan dan perang. “Meskipun hari ini banyak dari mereka yang mengecam diskriminasi rasial lewat slogan dan pernyataan-pernyataan, tapi sejumlah negara-negara kuat malah diberikan keleluasaan untuk memutuskan nasib bangsa lain demi kepentingannya sendiri dan dengan kebijakan-kebijakannya sendiri sehingga mereka dengan mudahnya melanggar hukum dan nilai-nilai kemanusiaan,” tukas Ahmadinejad. Dalam keterangan persnya usai konferensi, Ahmadinejad mempertahankan pernyataan dan mengkritik negara-negara Barat dan Eropa yang telah memboikot konferensi itu. “Menurut pendapat kami, boikot itu menunjukkan arogansi dan sikap mau menang sendiri, sikap inilah yang menjadi akar persoalan dunia saat ini,” tegasnya. Konferensi Anti-Rasis Durban II sekali lagi menunjukkan kemunafikan negara-negara AS dan Eropa atas isu-isu anti rasial. Negara-negara maju yang selama ini lantang mengklaim dirinya sebagai negara yang demokratis dan menghormati hak asasi manusia, ternyata melindungi penjahat perang dan penjahat kemanusiaan seperti Israel yang memberlakukan kebijakan rasial di bumi Palestina.

Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/dunia/konferensi-durban-ii-dan-wajah-munafik-as-eropa.htm

Derita Ghada Abu Halima, Korban Bom Fosfor Israel

ghada_abu_halimaGhada Abu Halima merasakan sakit tak terkira akibat luka bakar yang dideritanya. Ia terkena bom fosfor yang dijatuhkan Israel adalam agresi brutalnya ke Jalur Gaza bulan Januari lalu. Pada B’Tselem-lembaga pemantau HAM didaerah pendudukan Israel-Ghada menceritakan awal penderitaannya.

Hari Sabtu malam tanggal 3 Januari, pesawat-pesawat tempur Israel menyebarkan selebaran berisi peringatan agar warga Beit Lahiya meninggalkan rumah mereka karena tentara Israel akan melakukan serangan. Israel sudah sering melakukan hal itu pada serangan-serangan sebelumnya. Seperti yang sudah-sudah, Ghada dan keluarganya yang tinggal di rumah berlantai dua berukuran 250 meter persegi, tidak meninggalkan rumah.

Keluarga besar Ghada tinggal di rumah itu. Mereka mencari nafkah dengan mengolah tanah pertanian yang ada di sebelah rumah.

Hari Minggu, 4 Januari, sekitar jam 04.00 sore, seluruh keluarga sedang berkumpul di dalam rumah ketika tentara-tentara Zionis membombardir Beit Lahiya. Sebuah selongsongan mortir tiba-tiba jatuh di rumah itu dan pecahannya langsung membakar tubuh ayah mertua, tiga puteranya bernama Abdu Rahim, Zeid dan Hamzah, serta puterinya yang masih bayi, bernama Shahd. Mereka semua meninggal seketika.

Sedangkan ibu mertuanya beserta tiga anak lelakinya yang lain, Omar, Yusuf dan Ali menderita luka bakar. Percikan api merambat kemana-mana dan membakar rumah mereka. Ghada memeluk puterinya Farah, keduanya juga mengalami luka bakar.

“Baju saya terbakar, kulit saya dan Farah hangus. Untunglah, bayi saya Aya tidak terluka. Saya langsung melepas pakaian saya ketika api mulai menjalar ke tubuh saya. Saya telanjang di depan semua orang yang ada di rumah ketika itu. Kulit saya terbakar dan rasanya sakit sekali. Saya bahkan bisa mencium bau daging yang terbakar,” tutur Ghada.

Kondisi Ghada saat itu sangat parah. Ia mencari apa saja untuk menutup tubuhnya dan terus berteriak. Saudara lelaki suami Ghada melepas celana panjangnya dan memberikannya pada Ghada. Tubuh bagian atas Ghada masih terbuka, sampai suaminya datang dan menutupinya dengan jaket.

Suami Ghada lalu keluar mencari pertolongan, menemukan banyak korban yang tewas dan luka-luka di sekitar rumahnya. Tidak ada ambulan atau mobil pemadam kebakaran yang bisa dimintai pertolongan. Lalu, sepupu suami Ghada yang tinggal dekat rumah datang dan memberikan pertolongan. Keluarga Ghada yang terluka diangkut ke sebuah gerbong yang bergandengan dengan traktor dan dibawa ke Rumah Sakit Kamal ‘Adwan.

Di perjalanan, mereka bertemu dengan tentara-tentara Israel sekitar 300 meter dari Lapangan al-‘Atatrah. Tentara-tentara Israel itu menembaki traktor mereka dan membunuh sepupu suami Ghada Matar dan Muhammad Hikmat. Ali yang sudah mengalami luka bakar, berusaha melarikan diri bersama Omar dan sepupunya, Nabilah.

Tentara Israel menyuruh suami Ghada melepas pakaiannya dan digeledah. Setelah itu, tentara-tentara Zionis mengembalikan pakaian suaminya dan menyuruh mereka semua melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Ghada, suaminya dan Farah akhirnya jalan kaki sampai ada sebuah mobil yang lewat dan menolong mereka pergi ke Rumah Sakit a-Shifaa. Mereka tiba di rumah sakit sekitar pukul 06.00 sore. Di dalam gerbong traktor, terdapat tiga jenazah yang terpaksa mereka tinggal.

“Seluruh tubuh saya terbakar, wajah saya juga. Farah mengalami luka bakar tingkat tiga. Kami semua dirawat di rumah sakit itu,” ujar Ghada.

Ghada dan puterinya direferensikan untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut ke Mesir. Petugas rumah sakit berusaha membawa mereka ke Mesir lewat perbatasan Rafah dengan ambulan, tapi di perjalanan tentara-tentara Israel menembaki ambulan mereka. Sopir ambulan luka-luka di bagian wajahnya dan mereka terpaksa kembali ke rumah sakit. Sejak itu Ghada menunggu ijin agar boleh melewati perbatasan Rafah menuju Mesir.

Ghada menuturkan pengalamannya itu pada tanggal 9 Januari 2009 lalu pada Muhammad Sabah dari B’Tselem di RS a-Shifaa. Ghada dan puterinya memang akhirnya dibolehkan mendapatkan perawatan lebih lanjut ke Mesir. Tapi pada tanggal 29 Maret kemarin Ghada Abu Halima menutup mata selama-lamanya di sebuah rumah sakit Meisr, akibat luka bakar bom fosfor yang dideritanya. Kisah duka Ghada adalah bagian dari nestapa yang dialami ribuan warga Gaza saat pesawat-pesawat tempur Israel menjatuhkan bom-bom mematikannya selama 22 hari ke wilayah Gaza. Ghada menyusul keluarganya yang lain yang lebih dulu syahid.

Sumber : http://eramuslim.com/berita/palestina/derita-ghada-abu-halima-korban-bom-fosfor-israel.htm

Palestina Berikan Penghargaan Kepada Rakyat Indonesia

wakil_ketua_parlemen_palestina-htl_sultan1Rakyat Palestina memberikan penghargaan kepada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), media, dan rakyat Indonesia yang telah memberikan dukungan dan bantuannya untuk perjuangan bangsa Palestina melawan penjajahan Israel.

Penghargaan kepada beberapa media nasional dan puluhan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) diantaranya PKPU, Rumah Zakat Indonesia (RZI), Salam UI , YPI Al-Azhar serta Dompet Dhuafa tersebut diserahkan langsung oleh Wakil Ketua Parlemen Palestina DR. Ahmad Bahar, di Hotel The Sultan, Jakarta, Jum’at (13/3).

Melalui parlemen Indonesia, Wakil Ketua Parlemen Palestina DR. Ahmad Bahar kembali mengingatkan pemerintah Indonesia agar dapat memberikan tekanan pada negara besar dan dunia internasional untuk memberikan dukungan kepada perjuangan bangsa Palestina.

“Kami ucapkan terima kasih atas kedatangan Wakil Parlemen Palestina, ini kembali menguatkan DPR dan parlemen Indonesia untuk tegas kepada pemerintah memberikan tekanan kepada negara besar, karena Indonesia mempunyai posisi yang strategis dimata Internasional,” katanya.

Ketua Kaukus Parlemen untuk Palestina Hilman Rosyad, dalam sambutan dihadapan perwakilan parlemen Palestina mengatakan, masalah yang terjadi di Palestina, menyangkut beberapa isu yakni, isu Palestina sendiri sebagai negara yang dijajah, yang harus dimerdekakan, dan juga berkaitan dengan isu keagamaan karena sampai saat ini Masjid Al-Aqsha masih berada dalam ancaman serius.

Disamping itu, lanjut Hilman, parlemen Asia dimana didalamnya  terdapat parlemen Indonesia mendorong terciptanya resolusi untuk membebaskan para anggota parlemen Palestina yang hingga kini masih ditahan oleh zionis Israel, termasuk Ketua Parlemen Palestina yang masih ditawan oleh Israel.

Dalam kesempatan itu, Ahmad Bahar juga meminta agar pemerintah Indonesia dapat memberikan tekanan kepada AS dan Israel untuk segera membuka perbatasan dan segera memulai rekonstruksi Gaza yang sudah hancur lebur.

“Kedatangan kami membawa misi dari Parlemen agar negara-negara Islam termasuk Indonesia senantiasa memberikan dukungan tiada henti memberikan dukungan kepada Palestina. Untuk itu kami datang untuk memberikan penjelasan secara langsung kepada rakyat Indonesia,” jelasnya.

Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/nasional/palestina-berikan-penghargaan-kepada-rakyat-indonesia.htm

Salurkan Bantuan ke Gaza, KNRP Kerjasama dengan Organisasi Pekerja Medis Mesir

logoTim kemanusiaan Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) menjalin kerjasama dengan Egyptian Medical Syndicate (EMS/Persatuan Pekerja Medis Mesir) untuk menyalurkan bantuan obat-obatan dan peralatan medis yang dibawa dari Indonesia. Penyerahan bantuan dilakukan Jumat (13/2) lalu, oleh Wakil Koordinator Tim Kemanusiaan KNRP dr. Agus Koeshartoro kepada perwakilan EMS di Al Arish, daerah perbatasan Mesir dan Gaza.

Kerjasama yang dilakukan dengan EMS, menurut Agus, karena hingga Jumat (15/2) belum juga diperoleh kepastian kapan gerbang perbatasan Rafah dibuka. Sementara Tim Kemanusiaan KNRP yang terdiri dari Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI), Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU), Dompet Dhuafa (DD), dan Wahdah Islamiyah sudah lebih dari seminggu menunggu di Al Arish.

Alasan dipilihnya EMS, lanjutnya, organisasi pekerja medis Mesir ini merupakan lembaga resmi yang mengurusi kebutuhan orang-orang Palestina yang membutuhkan pertolongan medis di Mesir. “Organisasi ini selama ini menyalurkan bantuan medis maupun nonmedis langsung ke Gaza. EMS juga ikut membantu membiayai orang-orang Palestina yang menjalani perawatan atau pengobatan di Mesir,” katanya dalam siaran pers yang diterima Eramuslim.

Sebelum menyerahkan bantuan, Tim KNRP telah mengunjungi kantor perwakilan EMS di Al Arish. Tim diterima oleh dua orang pengurus kantor perwakilan Al Arish, Husham dan Ahmad. Kepada tim KNRP, Husham menyatakan, sejak keluar kebijakan menutup pintu Rafah, pihaknya juga mengalami kesulitan untuk masuk ke Gaza.

Hal ini menyebabkan gudang-gudang penampungan bantuan yang dimiliki EMS di Sinai Utara penuh dengan bantuan, baik makanan, obat-obatan, maupun peralatan medis, selimut, kasur, dan bantuan lainnya yang belum tersalurkan. Padahal di seluruh provinsi Sinai Utara, EMS memiliki 40 gudang yang cukup besar. Di Al Arish sendiri, yang merupakan ibu kota Sinai Utara, EMS memiliki 25 gudang.

Dalam kesempatan itu Husham menyatakan, EMS juga telah menempuh berbagai cara untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Gaza melalui Gerbang Rafah. Namun karena hingga kini pintu perbatasan terdekat yang dijaga oleh otoritas Mesir itu belum juga dibuka EMS tidak masuk.

EMS juga berusaha masuk lewat pintu Kareem Abu Shaloom, yang berjarak sekitar empat kilometer dari Rafah. Namun jika melewati pintu yang dijaga super ketat oleh militer Israel itu EMS harus merelakan 50 persen bantuan yang dibawannya disalurkan melalui UNRWA (United Nations Relief and Work Agency), organisasi PBB yang mengurusi warga Palestina korban perang.

Husham tidak terlalu mempermasalahkan hal itu karena sebagian bantuan, terutama dalam bentuk makanan dan sebagian jenis obat-obatan harus sesegera mungkin disalurkan disebabkan alasan masa penggunaan yang terbatas (expired date).

“Daripada expire semua dan tidak bisa digunakan, lebih baik sebagian disalurkan melalui UNRWA. Toh mereka juga membantu warga Palestina di Gaza,” jelas Husham.

Menurut Husham, UNRWA sendiri saat ini mengurusi sekitar 900 ribu warga Palestina yang menjadi korban penyerbuan Israel ke Jalur Gaza. Hal ini juga yang menjadi pertimbangan EMS mau menyalurkan sebagaian bantuan yang dikumpulkannya kepada UNRWA.

Sebelumnya Tim KNRP gelombang kedua bersama tim relawan Indonesia lainnya berhasil masuk ke Gaza dan langsung menyalurkan bantuan kepada warga Gaza. Tim dokter KNRP yang berasal dari BSMI ketika itu juga bisa bekerja membantu di rumah sakit-rumah sakit di Gaza. Tim kedua itu keluar Gaza pada 5 Ferbruari 2009 lalu. Kedatangan tim ketiga KNRP sedianya menggantikan tim kedua untuk menyalurkan bantuan dan membantu tenaga medis di Gaza.

Namun hingga kini, tim KNRP belum juga berhasil masuk Gaza. Selain tim KNRP, tim relawan dari berbagai negara di antaranya dari Turki, Malaysia, Jordan, dan Negara-negara lainnya, termasuk relawan dari Mesir sendiri kini menunggu untuk bisa masuk Gaza. (nov)

Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/nasional/salruan-bantuan-ke-gaza-knrp-kerjasama-dengan-organisasi-pekerja-medis-mesir.htm

Awan Tag