Aku, Dunia, dan Akhiratku…

Posts tagged ‘Irak’

Dalia Mugahed, Muslimah Pertama di Gedung Putih

mugahedLesung pipinya saat tersenyum menjadi ciri khas Dalia Mogahed. Perempuan berwajah manis dan berjilbab ini bukan perempuan sembarangan, karena ia menjadi muslimah AS pertama yang mendapatkan posisi penting di Gedung Putih.

Mogahed, perempuan kelahiran Mesir ini terpilih sebagai salah satu penasehat bidang Timur Tengah dan Muslim Amerika dalam pemerintahan Presiden Barack Obama. Presiden Obama, bulan Maret kemarin menandatangani pembentukan sebuah lembaga baru dalam pemerintahannya yang diberi nama “Kantor Kerjasama Keagamaan”. Lembaga ini dibentuk untuk membantu institusi-institusi keagamaan dan memperkuat dialog antar penganut agama dengan pemerintah.

Kantor tersebut beranggotakan 25 orang dari perwakilan seluruh agama dan kelompok sekular yang bertugas memberikan laporan pada presiden tentang bagaimana peran agama bisa dimainkan untuk memecahkan problem-problem sosial dan menyikap isu-isu hak-hak sipil.

“Saya merasa sangat terhormat diberi kesempatan untuk mengabdi pada negara ini. Kunci utama dari lembaga ini adalah mengerahkan energi dan kebijaksanaan berbagai institusi keagamaan serta para pimpinannya yang memfokuskan kegiatannya untuk memecahkan berbagai persoalan sehari-hari,” kata Mogahed dihadapan anggota Senat dan lembaga-lembaga think-tank yang hadir dalam pertemuan yang digelar oleh Congressional Muslims Staffers Association.

Sebagai wakil dari agama Islam, Mugahed akan memberikan masukan dan pendapat pada Obama tentang apa yang diinginkan Muslim dari AS, sehingga terbuka saluran komunikasi dan jalan untuk meluruskan pandangan-pandangan yang salah tentang Islam dan Muslim, terutama di AS.

“Hal utama yang mendasari lembaga ini adalah kerjasama antar penganut agama dan membantu mereka untuk menjadi sebuah kekuatan yang bisa mendorong kemajuan masyarakat,” sambung Mugahed yang setelah menjadi penasehat Obama, tetap akan mengepalai lembaga Gallup American Center for Muslim Studies, sebuah lembaga non pemerintah yang bergerak dalam bidang riset dan analisis data tentang pandangan-pandangan Muslim di seluruh dunia.

Tantangan Mugahed

Jihad Saleh Williams dari Congressional Muslim Staffers Association menilai positif penunjukan Mugahed sebagai penasehat pemerintahan Barack Obama, mengingat makin meningkatnya Islamofobia di kalangan media dan akademisi di AS.

Menurut Williams, posisi Mugahed sebagai penasehat di bidang hubungan dengan warga Muslim, adalah posisi yang unik karena banyak yang mempertanyakan siapa ahli di bidang itu dan siapa yang layak bicara soal Muslim.

“Pada umumnya, pertanyaan-pertanyaan itu yang sering muncul di kepala masyarakat dan para pengambil keputusan. Dalia Mugahed paham betul dengan komunitas Muslim dan apa yang ia katakan berdasarkan hasil risetnya di Gallup,” ujar Williams.

Sebagai peneliti senior dan direktur eksekutif Gallup Center, Mugahed yang berlatar belakang pendidikan teknik kimia dan administrasi bisnis ini, memimpin langsung riset-riset tentang opini publik Muslim di seluruh dunia dan hasil penelitiannya sering dikutip media massa ternama di AS seperti the Wall Street Journal, majalah Foreign Police dan Middle East Policy and the Harvard International Review. Mugahed juga pernah bekerjasama menulis buku dengan John L. Esposito berjudul “Who speaks on behalf of Islam? What a Billion Muslims Really Think”.

Prestasi Mugahed sebagai Muslimah AS pertama yang ditunjuk sebagai penasehat pemerintahan juga membuka kesempatan bagi Muslim lainnya yang menekuni kebijakan publik dan memberikan kontribusi berupa solusi terhadap permasalahan-permasalahan sosial.

“Muslim AS harus kreatif dengan ide-idenya dan selayaknya berpartisipasi dalam mencari solusi bagi persoalan-persoalan negaranya, dan yang lebih penting mereka diberi kesempatan untuk melakukan itu semua,” tukas Mugahed.

Mugahed mengemban tugas berat untuk meluruskan stereotipe negatif terhadap Muslim yang diidentikan dengan ekstrimis. Sebagai perempuan berjilbab pertama di Gedung Putih, Mugahed mengakui bahwa dalam proses penasehat pemerintah, Obama tidak hanya ingin mendengar informasi-informasi yang umum, bukan persoalan jilbab.

“Jilbab tidak menjadi isu utama. Apa yang ingin didengar pemerintahan Obama adalah nasehat masukan tentang bagaimana melibatkan seluruh masyarakat dalam isu-isu sehari-hari,” imbuhnya.

Sumber : http://eramuslim.com/berita/dunia/dalia-mugahed-muslimah-pertama-di-gedung-putih.htm

Netanyahu Takuti Konferensi Durban

1netahyahoo

Konferensi Durban II yang sedang diselenggarakan di Swiss ternyata tak urung membuat Israel blingsatan juga. Tak kurang dari Perdana Menteri Israel yang baru terpilih, Benjamin Netahyahu, ketar-ketir dan angkat suara. “Semua tamu kehormatan konferensi (Durban) adalah para pengingkar Holocaust!” ujarnya keras dalam pertemuan kabinetnya tadi pagi (20/5). Netanyahu juga memberikan selamat kepada negara-negara yang memilih untuk memboikot konferensi ini.

Netanyahu mengatakan bahwa ia telah bekerja sama dengan Prancis untuk menyantuni korban keluarga Holocaust dengan jumlah total sebesar $4,76 juta setelah sebelumnya diberikan $2,4 juta. “Saya gembira bahwa kita bisa melakukan ini. Sekarang, Israel menjadi jaminan buat eksistensi dan keamanan orang Yahudi.” imbuhnya.

Konferensi Durban II memang disinyalir amat membahayakan Yahudi karena membicarakan agenda utama soal rasisme. Yahudi menyebutnya sebagai sikap anti-Semit. Tak urung, kaum Yahudi internasional sudah berusaha memanas-manasi PBB untuk tidak terlibat dalam konferensi ini dengan mengatakan bahwa konferensi ini hanya merendahkan martabat PBB belaka.

Sedangkan Barack Obama, presiden AS, mengatakan bahwa konferensi Durban adalah sebuah pertemuan munafik dan gerakan melawan Israel. Obama sudah jauh-jauh hari memutuskan memboikot Durban II.

Sumber : http://eramuslim.com/berita/dunia/netanyahu-takuti-konferensi-durban.htm

Israel Sesumbar Akan Serang Iran Dalam Hitungan Hari atau Jam

iran5Laporan-laporan tentang rencana serangan rezim Zionis Israel ke fasilitas-fasilitas nuklir Iran terus mengemuka. Surat kabar Times mengutip seorang pejabat senior pertahanan Israel yang mengungkapkan bahwa begitu pemerintah memberi lampu hijau, militer Israel akan melakukan serangan massif ke Iran dalam hitungan hari.

Menurut pejabat tadi, Pasukan Pertahanan Israel akan mengambil setiap langkah untuk bersiap diri untuk sewaktu-waktu menggelar apa yang mereka sebut sebagai “serangan yang beresiko.”

“Israel ingin memastikan, jika militernya diberi lampu hijau, mereka bisa menyerang Iran kapan saja, dalam hitungan hari bahkan jam setelah perintah dikeluarkan. Mereka membuat berbagai persiapan untuk setiap kemungkinan. Pesan yang ingin kami sampaikan pada Iran adalah bahwa ancaman kami bukan sekedar kata-kata,” kata sumber tersebut.

Sebagai persiapan mengglear “serangan udara massif” ke Iran, Israel sudah melengkapi diri dengan tiga pesawat tempur Airborne Warning and Control (AWAC) dan misi-misi regional sebagai upaya untuk menstimulasi serangan. Komando Front Nasional Israel juga mengumumkan agenda memobilisasi kekuatan militer dalam latihan militer terbesar yang pernah dilakukan Israel pada tanggal 2 Juni mendatang. Rakyat Israel juga sudah disiapkan untuk menghadapi kemungkinan balas dendam yang akan diterima Israel.

Times dalam laporannya menyebutkan, target utama serangan Israel ke Iran adalah fasilitas pengayaan uranium di kota Natanz dan reaktornya di kota Arak, serta pusat produkasi bahan bakar nuklir di Isfahan.

Israel dilaporkan sudah melakukan latihan perang sejak satu tahun lalu untuk menghadapi kemungkinan perang dengan Iran, mengingat jarak Israel ke Iran yang cukup jauh. Surat kabar New York Times dalam laporannya di bulan Juni tahun 2008 menyebutkan bahwa Israel pada awal bulan Juni telah melakukan latihan perang yang diduga sebagai persiapan perang Israel ke Iran. Latihan itu digelar di timur Mediterania dan Yunani dengan melibatkan lebih dari 100 pesawat tempur Israel jenis F-16 dan F-15, helikopter tempur bahkan tank-tank pembawa bahan bakar.

“Kami tidak mau melontarkan ancaman pada Iran tanpa menyiapkan dukungan kekuatan militer. Israel sudah melakukan persiapan untuk menunjukkan bahwa Israel siap bertindak,” tulis Times mengutip seorang sumber intelejen Israel. Tapi sumber itu mengakui, Israel baru akan menyerang Iran jika sudah mendapat persetujuan dari pemerintah AS.

Angkatan Udara AS harus memberikan ijin pada angkatan udara Israel yang akan melewati wilayah Irak untuk menuju Iran. Deputi Direktur Institute for National Security Studies, Ephraim Kam meyakini bahwa pemerintahan Obama tidak akan memberi ijin untuk hal semacam itu karena wacana yang berkembang di lingkungan pertahanan AS, mereka tidak yakin operasi yang akan dilakukan Israel ke Iran akan berhasil. Israel kini sedang melakukan berbagai cara untuk mencari alasan untuk memulai seranganya ke Iran. Lembaga think-tank di AS, Center for Strategic and International Studies (CSIS) dalam laporannya hari Kamis kemarin mengingatkan akan adanya misi-misi rahasia Israel untuk menghentikan program nuklir Iran.

“Serangan militer Israel ke fasilitas-fasilitas nuklir Iran bisa saja terjadi dan Israel akan mengambil rute yang paling optimum dalam melakukan serangan dengan menyusuri perbatasan Suriah-Turki, kemudian melewati sebagian wilayah Irak, kemudian masuk ke Iran. Rute itu pula yang akan digunakan oleh pesawat-pesawat tempur Israel untuk kembali ke markasnya di Israel.

“Beberapa pesawat tempur, harus mengisi bahan bakar di perjalanan. Mencapai target tanpa bisa dideteksi atau diusir saat di tengah jalan merupakan misi yang penuh resiko dan kompleks. Sulit dijamin bahwa keseluruhan misi ini akan berhasil,” demikian penilaian yang dilakukan CSIS.

Sementara itu, Iran kembali menegaskan bahwa negara itu tidak akan mundur selangkahpun hanya karena ancaman-ancaman dari Israel. Kepala Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Hassan Firouzabadi dalam peringatan hari angkatan bersenjata Iran mengatakan bahwa Tehran tidak bersedia berdialog dengan negara manapun yang memilih diam melihat arogansi Israel di Timur Tengah.

“Kami tidak mau duduk untuk bernegosiasi dengan mereka yang tutup mata dan telinga atas kebrutalan Israel dan malah memilih berbicara atas nama entitas Zionis,” kata Mayjen Firouzabadi.

Rencana pemerintahan Obama untuk mengubah bentuk komunikasi dengan Iran memicu polemik di Tehran yang mencurigai sikap AS meski dalam berbagai kesempatan sejumlah pejabat AS berusaha melakukan pembicaraan dengan para diplomat Iran guna membuka kembali negosiasi terkait program nuklir Iran.

Lebih lanjut, Kepala Angkatan Bersenjata Iran menegaskan bahwa Tehran bersedia dialog dengan AS jika AS benar-benar mewakili rakyatnya dalam dialog dan bukan sebagai pendukung Israel.

Sumber : http://eramuslim.com/berita/dunia/begitu-ada-lampu-hijau-israel-akan-serang-iran-dalam-hitungan-hari-atau-jam.htm

Jihad Islam Desak Negara Arab Keluarkan Kebijakan Konfrontasi dengan Israel

jihadislamx1Gerakan perjuangan Palestina – Jihad Islam menyerukan pemerintahan Arab serta pihak otoritas Palestina untuk mengeluarkan kebijakan konfrontasi dengan pemerintahan sayap kanan Israel yang dipimpin oleh PM Israel Benyamin Netanyahu, pada Sabtu kemarin.

Dalam siaran pers yang dibicakan oleh salah seorang juru bicara Jihad Islam Khaled Al-Batsh, Jihad Islam mengatakan bahwa mereka sama sekali tidak peduli dengan kesepakatan atau komitmen yang dibuat oleh pihak otoritas palestina dalam kaitannya dengan perdamaian dengan Zionis Israel.

Pernyataan resmi dari pemerintahan Zionis Israel yang menjajah Palestina menyatakan “mentalitas Zionis dari pemimpin-pemimpin Israel dan rencana mereka adalah untuk mengusir warga Arab yang berada di dalam Israel dari rumah-rumah mereka,” menurut pernyataan tersebut.

“Para pemimpin Israel memanfaatkan kelemahan dari negara-negara Arab yang mencapai masa surutnya yang paling rendah selama agresi militer Israel di Gaza awal tahun ini,”kata Al-Batsh.

“Kelemahan ini telah mendorong Netanyahu untuk meminta negara-negara Arab mengakui identitas Yahudi Israel sebagai daya tawar untuk memperpanjang konflik dan menghindari persyaratan perdamaian.

“Yang dibutuhkan sekarang adalah sebuah kebijakan konfrontasi dengan penjajah Israel, bukan berdialog untuk untuk berdamai dengan mereka.

Al-Batsh mencatat bahwa pemerintah Israel tidak menghormati komitmen sebelumnya dan sama sekali tidak memiliki agenda untuk pembicaraan damai.

Ketika pemilu, para pemimpin Israel berbicara tentang “sebuah rumah alternatif bagi rakyat Palestina,” pengusiran warga Arab dari dalam Israel dan rencana menyerang bendungan besar di Mesir, Syria dan Iran, dan pernyataan mereka tersebut mencerminkan mainstream dari para pemilih Israel, lanjut Batsh.

Para pemimpin senior gerakan Jihad Islam mendesak faksi-faksi pejuang Palestina untuk memperbaiki keretakan diantara mereka serta menyerukan negara-negara Arab untuk membuat sebuah kebijakan yang konfrontasi langsung dengan pemerintahan garis keras Zionis Israel.

Selama pembicaraan yang berlangsung antara utusan timur tengah presiden Obama – George Mitchell di Yerusalem hari Kamis yang lalu, Netanyahu menuntut bahwa Palestina yang harus pertama kali mengakui Israel sebagai sebuah negara Yahudi sebelum mendiskusikan solusi sebuah dua negara.

Sumber : http://eramuslim.com/berita/palestina/jihad-islam-desak-negara-arab-keluarkan-kebijakan-konfrontasi-dengan-israel.htm

Iran Gantung Dua Ulama Sunni Terkemuka

iranxTehran, Dua orang ulama besar madzhab Sunni Iran baru-baru ini dihukum gantung oleh pemerintahan negeri Mullah yang menganut madzhab Syiah itu. Keduanya dihukum dengan tuduhan kesalahan “menentang dan memusuhi” gerakan Revolusi Islam/Syiah Iran.

Harian Mesir berbahasa Arab al-Jumhuriyyah (9/4) mengabarkan, kedua ulama tersebut adalah Mawlaya Khalilullah Zari dan Hafizh Shalahuddin Sayyidi. Mereka digantung secara terbuka di kawasan tempat tinggal mereka, di bilangan Sistan, Provinsi Zahdan, sekitar seminggu silam.

Selain tuduhan permusuhan terhadap gerakan Revolusi Islam/Syiah Iran, keduanya juga dituduh merencanakan gerakan makar. Pihak keamanan Iran mendapati beberapa pucuk senjata di rumah kedua ulama tersebut.

Gubernur Zahdan, Ismail Ahmadi mengatakan, di kawasan Sistan yang terletak di wilayah Timur Iran tersebut memang kerap mengemuka aksi-aksi separatis dan teror. (jmr/L2 Cairo)

Netanyahu Akan Menyerang Nuklir Iran

Perdana Menteri Israel yang baru, Benjamin Netanyahu menegaskan Israel akan melakukan tindakan militer terhadap Iran, jika Presiden AS Barack Obama gagal menghentikan program nuklir Iran.

“Pemerintahan Obama punya dua misi besar. Memperbaiki perekonomian dan mencegah Iran agar tidak membuat persenjataan nuklir. Jika AS gagal untuk bertindak cepat menghentikan program nuklir Iran, Israel terpaksa menghancurkan sendiri fasilitas-fasilitas nuklir Iran,” kata Netanyahu pada majalah Atlantic beberapa saat sebelum pengambilan sumpahnya sebagai perdana menteri baru Israel hari Selasa malam.

Netanyahu mengatakan, ia menghormati kebijakan Obama yang memilih jalan negosiasi dengan Iran. Tapi negosiasi itu, kata Bibi-panggilan Netanyahu-harus menghasilkan keputusan, Iran harus segera menghentikan program nuklirnya.

“Bagaimana cara anda mencapai tujuan itu tidak penting, yang penting misi itu harus tercapai,” tukas Bibi.

Tel Aviv sudah berulang kali mengancam akan melakukan tindakan militer terhadap Iran, jika Iran tetap melanjutkan program nuklirnya. Israel menuding Iran diam-diam membuat persenjataan nuklir. Meskipun Iran berulangkali menolak tuduhan itu.

IAEA dan kepala intelijen AS Dennis Blair juga mengatakan bahwa pengayaan uranium Iran masih jauh dari level yang bisa digunakan untuk membuat senjata nuklir. Namun Israel tetap memakai dalih senjata nuklir agar bisa menyerang Iran.

Sumber : http://eramuslim.com/berita/dunia/netanyahu-akan-serang-iran.htm

Hamas Kritik Hasil Pertemuan Liga Arab di Qatar

arab_summit3

Hamas mengkritik hasil pertemuan tingkat tinggi Liga Arab yang berlangsung selama dua hari di ibukota negara Qatar, Doha. Hamas menilai pertemuan itu tidak menghasilkan langkah-langkah praktis dan gagal mengemban amanat untuk mengakhiri penderitaan rakyat Palestina dibawah penjajahan Israel.

Pimpinan Hamas, Fawzi Barhoum dalam pernyataannya mengatakan bahwa pernyataan final hasil pertemuan tingkat tinggi Liga Arab “lemah, kurang serius dan tidak membawa angin baru bagi rakyat Palestina.” Pertemuan itu, kata Barhoum, juga tidak mengedepankan aspirasi-aspirasi rakyat Palestina yang paling mendasar, yang menginginkan agar Liga Arab lebih berperan untuk menghentikan penjajahan, perusakan dan pembunuhan di tanah Palestina.

“Rakyat Palestina berharap pertemuan itu menghasilkan langkah yang pro aktif untuk melindungi rakyat dan tempat-tempat suci di Palestina serta memberi dukungan penuh pada perjuangan Palestina. Kami berharap Liga Arab bisa mengakhiri blokade Israel, dengan tindakan bukan cuma dengan kata-kata,” ujar Barhoum.

Tapi, lanjutnya, pertemuan Liga Arab di Qatar yang berakhir hari Senin malam ternyata sama saja dengan pertemuan Liga Arab sebelumnya. Para pemimpin Arab tidak mampu membuat mekanisme yang jitu untuk mengakhiri blokade dan memaksa Israel mengakui legimitasi hak-hak bangsa Palestina.

Sumber : http://eramuslim.com/berita/palestina/hamas-kritik-hasil-pertemuan-liga-arab-di-qatar.htm

Bin Laden : Masuk Yordan, Bebaskan Aqsha

20060119-osamaOsama Bin Laden, menyerukan para pengikutnya memasuki Yordania, dan membebaskan al-Aqsha, pernyataannya itu, disampaikan melalui video, yang dilansir oleh Middle East Media Reseach Institute (MEMRI). Video yang direlease MEMRI itu, panjangnya 33 menit, dan dalam pernyataannya itu, Bin Laden menyatakan, memberikan mandat kepada para pejuang ‘ muslim’ untuk memotong kepala para pemimpin negara-negara yang berbatasan dengan Israel, termasuk Yordan, mereka lah yang membuat penderitaan para mujahidin.

Yordan merupakan negara yang berbatasan langsung dengan Israel, yang selama ini, membela dan membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Hanya Yordania dan Mesir, di antara anggota Liga Arab, yang mempunyai hubungan resmi dengan Israel.

Hubungan diplomatik inilah yang menyebabkan negara-negara Arab yang berada di garis depan (front line) dengan Israel, tidak dapat berbuat banyak dalam menghadapi Israel, dan cenderung berkolaborasi dengan Israel. Sehingga, mereka tidak memberikan dukungan secara terbuka terhadap rakyat Palestina, yang menghadapi penjajahan Israel. Ini merupakan akibat perang yang terjadi di tahun 1967 dan 1973, di mana negara-negara Arab garis depan dikalahkan Israel.

Bin Laden menegaskan kemenangan di Iraq, memberikan kesempatan bagi para pejuang Islam, yang telah memenangkan perang di Iraq, memasuki Yordania, terus ke Tepi Barat, dan dari wilayah ini, dapat masuk ke Palestina. “Beberapa bulan mendatang, segala sesuatu akan  pergi ke Yordan”, ujar Eli al Shech, seperti dikutip MEMRI. Ini menggambarkan perkembangan baru di Timur Tengah, yang menunjukkan arah yang semakin kuatnya pengaruh gerakan al-Qaidah.

Tapi, semua ini, tak lain semakin skeptisnya para penguasa Israel, yang melihat perkembangan bangkitnya umat Islam di Yordania, yang akhir-akhir ini semakin menampakkan jati dirinya. Hal ini, dipicu adanya serangan tentara Zionis-Israel ke Gaza, yang menimbulkan korban warga Gaza, yang cukup besar. Kemarahan dikalangan umat Islam di Yordania ini, mendorong mereka untuk berusaha membebaskan Palestina, termasuk al-Aqsha, yang sekarang ini menghadapi bahaya besar, di mana Zionis Israel, terus menggali terowongan yang mengancam Masjidil Aqsha, yang lama-lama dapat hancur.

Di Yordania, dua pertiga penduduk negeri itu adalah warga Palestina, sejak mereka diusir dari tanah air mereka oleh Zionis Israel. Bahkan, dikalangan para pemimpin Israel, mereka menyerukan agar warga Palestina, menggabungkan diri dengan Yordania, dan tidak mendirikan negara Palestina. Inilah cara Israel untuk mengusir penduduk Palestina dari tanah air mereka.

Bin Laden juga menuduh, sekarang ini, yang terkena pengaruh jahat itu, bukan hanya para kepala negara Arab, tapi juga kalangan lapisan kedua seperti ilmuwan, para pekerja media, dan ikut berkomplot dengan musuh. Mereka lapisan kedua, para ilmuwan, dan para wartawan dan editor, yang ikut mempengaruhi para kepala pemerintahan, ujar Ben Laden.

“Ben Laden melihat adanya ancaman idelogi, yang tumbuh semakin kuat”, ujar al-Syech. “Perlu dilakukan pembentukan kekuatan baru, yang membebaskan pikiran dan hati kaum musimin”, kata Ben Laden.

Sumber : http://eramuslim.com/berita/dunia/bin-laden-masuk-yordan-bebaskan-aqsha.htm

Obama vs Israel

om_obama

Presiden Barack Obama berhadapan dengan Israel, dan Obama kalah menghadapi lobi Israel di Washington. Ujian yang pertama kalinya bagi Obama, ketika ia akan memillih Charles Freeman Jr, menjadi Ketua Dewan Intelijen Nasional (NIC). Pilihan Obama ini mendapatkan penolakan dari kalangan lobi Yahudi. Kekalahan Obama ini, sudah dari awal dapat diprediksi, karena Charles Freeman Jr, pernah menjadi Dubes AS di Arab Saudi.

Betapa sangatlah lemahnya Obama, ketika ia harus berhadapan dengan lobi Yahudi, yang sudah mengakar di Washington, dan bagaikan penyakit kanker yang sudah mengganas, seperti setiap presiden AS, tak mampu menghadapinya, dan mesti tunduk dengan lobi Yahudi.

Charles Freeman Jr, mempunyai beragam latarbelakang, seperti pertahanan, diplomasi, dan intelijen, yang sebenarnya sudah sesuai dengan usulan Obama, khususnya untuk jabatan sebagai Ketua Dewan Intelijen Nasional (NIC). Namun, yang terjadi adalah sebaliknya, di mana Obama gagal mempertahankan calon Ketua NIC yang baru, Charles Freeman Jr. Pencalonan itu, atas usulan dari Dennis Blair, yang menjabat Direktur Intelijen Nasional, sebagai satu-satunya calon kepada Obama.

Namun, pencalonan Charles Freeman Jr itu, dibocorkan oleh Kepala Staf Gedung Putih, Ramh Emanuel, yang menjadi controversial, dan menyebabkan terganggunya pemerintahan Obama. Atas peristiwa itu, Charles Freeman Jr, lalu mengundurkan diri dari pencalonannya.

“Saya tidak percaya Dewan Nasional Intelijen dapat berfungsi dengan efektif, sementara kursi jabatan itu berada dibawah serangan oleh orang-orang jahat dengan gairah dari faksi yang politik luar negeri”, ujar Freeman Jr.Tidak mudah mempertahankan posisi di Dewan Intelijen Nasional, sementara itu, di bawah Menlu Hillary Clinton, dipenuhi dengan lobi Yahudi, seperti Abrams, yang sekarang menjadi Deputi Menlu. Mereka menginginkan agar kebijakan intelijen nasional AS, tetap mendukung kepentingan Israel. Pengunduran diri ini juga menandakan kemenangan lobi Israel, yang menginginkan Ketua Dewan Intelijen Nasional (NIC) diisi oleh orang ‘Israel’, dan ‘luar negeri’ diisi dengan ‘Israel. Maka, dua lembaga yang strategis di pemerinahan Obama, tentu akan diisi oleh orang ‘Israel’.

Obama tidak mungkin akan mengubah polisinya di Timur Tengah, selama ia masih tunduk kepada lobi Yahudi di Washington. Karena itu, kegagalan mengangkat Charles Freeman Jr itu, sudah menunjukkan sebenarnya pemerintahan Obama sudah lumpuh, ketika menghadapi barisan lobi Yahudi di Washington. Dan, tiga tahun yang lalu, Profesor Stephen Walt dan John Mearheimer, menulis tentang ‘The Israel Lobby dan Us Foreign Policy’, mempunyai pengaruh yang luas, dan pandangan-pandangannya banyak dinikmati orang, khususnya kalanan cendikiawan Israel. Tidak pernah ada suara yang mengkritik lobi Yahudi, seperti AIPAC, yang terkenal itu.

Chales Freeman Jr, pernah menjadi Dubes AS di Arab Saudi, tahun l989-l992, pengalaman di bidang diplomasi sangatlah panjang. Dan, mempunyai tugas yang cukup baik, menjembatani antara kepentingan Washington dengan Riyad. Karena, lama di Riyad inilah kalangan lobi Yahudi, menolak pencalonan Freeman Jr, yang akan ditunjuk menjadi Ketua Dewan Intelijen Nasional (NIC) itu.

Menanggapi sikap lobi Israel itu, Charles Freeman menegaskan : “ Israel sedang berkendaraan menuju jurangnya sendiri”, ungkapnya. Sebenarnya, ia bukan menentang Israel, tapi Freeman mempunyai pandangan yang luas dan jauh ke depan,yang berkaitan dengan kepentingan AS, khususnya dalam membangun hubungan dengan negara-negara Arab.

Kemungkinan yang akan menggantikan posisi Charles Freeman Jr adalah Dennis Ross, yang sangat pro-Israel, yang sekarang ini menjadi penasehat khusus Hallary tentang Iran. Pilihan Dennis Ross ini sesuai dengan keinginan Ramh Emanuel, yang lebih dekat Partai Likud, yang sekarang ini sedang fokus terhadap Iran. Mungkin jalan menuju langkah militer yang akan diambil Likud, yang akan menggunakan tangan AS.

Sumber : http://eramuslim.com/berita/dunia/obama-kalah-dengan-lobi-israel.htm

Israel-Hamas Gagal Capai Kesepakatan Pertukaran Tahanan

tahNegosiasi pertukaran tawanan antara Israel dan Hamas yang berlangsung di Kairo lewat mediasi Mesir, menemui jalan buntu. Kedua belah pihak tidak mencapai kata sepakat dan masing-masing mempertahankan syarat yang diajukannya dalam rencana pertukaran Gilad Shalit-prajurit Israel yang ditawan pejuang Palestina sejak 2006-dengan para tahanan Palestina di penjara-penjara Israel.

Karena tidak mencapai titik temu, utusan dari Israel dan Hamas akhirnya pulang ke tempat masing-masing. Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert mengecam Hamas yang dinilainya mengambil sikap “ekstrimis” dalam negosiasi tersebut.

Sebelum pertemuan berlangsung, Olmert mengingatkan bahwa pertemuan di Kairo adalah kesempatan terakhir bagi Hamas sebelum Olmert melepaskan jabatannya dan digantikan perdana menteri Israel yang baru, Benjamin Netanyahu. Netanyahu menempatkan orang-orang garis keras dalam pemerintahannya yang menolak bernegosiasi dengan Hamas.

Dengan gagalnya negosiasi pertukaran tawanan ini, Israel juga akan makin memperketat blokadenya di Jalur Gaza karena sejak awal rezim Zionis itu mengancam tidak akan mengakhiri blokade kecuali Shalit pulang ke Israel dengan selamat. Blokade ini mengancam kelancaran rekonstruksi Gaza karena Israel bakal melarang pengiriman bahan-bahan bangunan masuk ke Jalur Gaza.

Hamas dalam pertemuan itu tetap meminta pembebasan Shalit ditukar dengan pembebasan sekitar 450 warga Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel. Sedangkan pihak Israel hanya bersedia membebaskan 300 tahanan dan Israel menolak membebaskan sejumlah tahanan yang namanya tercantum dalam daftar yang diberikan Hamas.

Sumber : http://eramuslim.com/berita/palestina/israel-hamas-gagal-capai-kesepakatan-pertukaran-tahanan.htm

Awan Tag