Aku, Dunia, dan Akhiratku…

Posts tagged ‘Oase Iman’

Dia Bernama Perempuan

Wanita dijajah pria sejak dulu
Dijadikan perhiasan sangkar madu
Namun adakala pria tak berdaya
Tekuk lutut dibalik kerling wanita

 

Lewat pesona, kharisma, dan kepribadian perempuan mampu mengubah dunia. Sepak terjang mereka tidak kalah dengan para kaum Adam bahkan ada—yang kerap dinobatkan menjadi pemimpin dunia.

  

Begitulah perempuan, membicarakan sosok sesorang perempuan memang tak habisnya dikupas. Hingga sesorang Ismail Marzuki seorang pencipta dan composer lagu di zamannya— itu mampu membuat lagu seperti itu.

  

Namun sebelum mengenal sosok perempuan itu sendiri yuk mari kita lebih jauh lagi mengetahui arti perempuan itu sesungguhnya?

 

Sebenarnya kata perempuan itu sendiri diambil dari bahasa sansekerta berasal dari akar kata “empu”—yang memiliki arti ahli atau tukang membuat sesuatu. Biasanya kalau kita mendengar kata ahli atau tukang ini adalah sosok yang suci dan penuh ilmu. Sementara kata lain yang terkait dengan sosok perempuan adalah kata ibu dan mama.

 

Bukan itu saja menurut asal bahasa kata mama juga diambil dari bahas Latin mamae yang berarti memiliki atau mempunyai kantung susu. Dan dari dua istilah tersebut maka sudah jelas bahwa pengertian perempuan terkait dengan reproduksi dan genitalnya saja.

 

Maka tak berlebihan kiranya kalau banyak diantara kita dari sudut pandang tugas kodratinya yaitu mengandung, melahirkan dan menyusui. Bukan itu saja kata perempuan sendiri berakar dari kata wani ing toto yang memiliki arti mampu atau dapat diatur. Hal ini juga berkaitan dengan kultur Jawa yang masih menurut paham bahwa perempuan (baca: istri) harus turut manut pada lelaki (baca: suami). Sampai-sampai ada pepatah dalam bahasa Jawa yang berbunyi seperti ini neroko manut swargo katut—yang kurang lebih artinya neraka atau surga istri harus ikut suami.

 

Entahlah, terkadang asal-usul kehadiran perempuan ditafsirkan agak menyeleneh seperti ungkapan yang mungkin sering kita dengar .Wanita tercipta dari tulang rusuk Adam, tanpa tulang rusuk Adam mungkin makhluk perempuan tak pernah ada” . Sehingga seolah-olah perempuan lahir ke dunia hanya sebagai pelengkap saja. Menyedihkan memang bila mendengarnya. Padahal masih ada perempuan-perempuan yang tidak kalah dibanding kaum Adam. Bahkan sampai-sampai ada yang sangat berpengaruh dan lebih mengejutkan lagi diantara mereka ada pula yang dapat mengubah dunia sesuai tujuan mulia mereka masing-masing.

 

Seperti di Indonesia sendiri, tokoh perempuan yang mempunyai peran besar dalam emansipasi perempuan diantaranya R. A. Kartini, Cut Nya Dien, Martha Christina Tiahahu dan juga tentunya 30 pejuang yang memprakarsai Kongres Wanita 1 di Jogya pada tanggal 22 Desember 1928 yang sekarang ditetapkan sebagai hari Ibu. Sebenarnya tidak perlu kita berpikir susah mencari tokoh yang namanya tertulis dibuku sejarah ataupun yang fotonya terpampang di majalah-majlah untuk dijadikan sumber panutan, karena sang perempuan (ibu) dengan cinta yang tulus adalah perempuan yang paling patut kita kagumi dalam kehidupan sehari-hari. Bukan begitu?

 

Sebab ribuan lampau banyak tokoh perempuan yang mengubah sejarah dunia dan meninggalkan nama harum dan kekal. Perjuanganan mereka dimasa lalu telah memberikan dampak positif bagi perempuan modern saat ini. Dimana perempuan selain menjadi ibu dan istri ternyata sekarang bisa memiki property sendiri, menyuarakan pendapatnya dan bahkan mempunyai pendidikan serta karier yang hebat dan mencapai posisi tertinggi di kepemimpinan.

 

Hal ini pula dirasakan oleh Napoleon Bonaparte saat ditanya,” Benteng manakah di Perancis yang paling kuat?”

 

Ia menjawab,” Para perempuan (ibu) yang baik.”

 

Jadi tidak salah jika kita memasuki Al-Khansa binti Amru, Ummul Mujahidin. Perempuan yang semangat juangnya tetap menyala luar bisa disaat usia tidak muda lagi. Seperti gadis belia, masih muda, penuh gairah. Setiap tutur katanya menjadi motivasi dan insipirasi. Dialah penyair dua zaman. Tidak sekedar mahir bersyair tapi juga ahli—dan dalam kerja keras.

 

Serta nama yang membuat bergetar orang yang mendengarnya. Dia terkenal cantik dan cerdik, pintar dan berakal, popular dikalangan orang Arab saat itu.

 

Namun segalanya menjadi lebih dahsyat, luar biasa. Yakni setelah dia bergabung dalam kafilah Islam: kepakaran, keberanian dan kepandaiannya bersyair didekasikan untuk menggelorakan jihad para penjuang Islam. salah satunya ia menyemangati ke-4 orang putranya untuk berperang ke medan jihad. Untuk membela Islam pada tahun 14 Hijrah pada masa Kalifah Umar Ibnul Khaththab. Ya, walau dalam peperangan itu dia harus merelakan putra-putra kesayangnya untuk gugur di medan jihad. Hingga dari peristiwa peperangan itu pula wanita penyair itu mendapatkan gelar kehormatan “Ummu Syuhada” Ibu para Syuhada, orang-orang yang mati syahid di jalan Allah.

Dialah Khansa. Ia mempersembahkan ke-empat anaknya yang pemberani untuk membela Is\lam di medan jihad al-Qadisiyah. Ia bersedih bukan lantaran “kehilangan” buah hatinya, akan tetapi ia sangat sedih karena tidak bisa lagi menyumbang bunga-bunga di tengah kecamuk perang. Sungguh amat-amat mulia jiwanya.

 

Kalau begitu apakah ibu yang melahirkan kita termasuk diantaranya? Sebagai perempuan? Tentu saja! Bukan hanya mendapatkan julukan pahlawan tetapi juga perempuan hebat disaat memperjuangkan anak-anaknya saat mengadung dan melahirkan hingga ia harus berkorban diri. Baik segala resiko yang diterimanya. Ia tak peduli dengan dirinya hanya satu bagaimana saat itu anaknya lahir dengan selamat dan tak satu pun yang kurang. Karena satu hal betapa bahagia dan senang seorang perempuan bila melahirkan dan menyusui seorang anaknya ( bayi) di pelukannya. Seakan-akan telah menjadi perempuan seutuhnya.

 

Hingga tak salah bila dalam hadis yang sering kita dengar bahkan familiar di gendang telingan kita. “Syurga itu ada di telapak kaki ibu.”

 

Untuk itu apakah kita sebagai (seorang anak) yang telah dilahirkan dari rahimnya sudah menjalankan kewajibannya. Dan sudah sepantasnya kita menyematkan tanda untuk sebagai pengharagaan untuk mereka yang telah menjadi seorang ibu serta perempuan yang telah berjasa untuk negerinya maupun untuk anak-anaknya. Dan kita tak salah lagi bila tanda bahwa “Dialah bernama Perempuan.” Layak disematkan untuk mereka. (fy)

 

Ulujami, 20 April 2009
Untuk para bidadari syurga yang telah menunggu kehadiran putra-putrinya.

Sumber : http://eramuslim.com/oase-iman/dia-bernama-perempuan.htm

Bertemu Manusia Langit

Semua mahasiswa bisa dikatakan kenal dengan Agus-bukan nama sebenarnya, aktivis yang sering muncul dalam berbagai media dan kegiatan di Kairo. Sejak beberapa tahun terakhir ini, nama Agus masuk pada deretan aktivis populer di kalangan mahasiswa Indonesia di Mesir. Ia sering tampil dalam berbagai acara. Tulisan-tulisannya banyak tersebar di beberapa buletin mahasiswa.

Hati saya tergerak untuk mengenal sosok Agus. Mengenal orang-orang masyhur sedikit banyaknya bisa memberi manfaat bagi saya dan belajar dari pengalaman hidup mereka sehingga saya juga bisa mengikuti jejak langkah mereka menggapai prestasi.
Dalam beberapa kali kesempatan saya memanfaatkan waktu datang ke tempat Agus beraktifitas. Saya ingin berinteraksi langsung dengan sosok satu itu.

Suatu ketika, azan ashar dikumandangkan di mesjid dekat tempat Agus beraktivitas. Usai iqamah saya tidak melihat ia mendatangi mesjid. Setelah shalat saya mendatanginya dan bertanya, “Antum udah shalat?”, ia menjawab, “Belum, masih banyak yang belum selesai”. Dalam hati saya berkata, “Manakah yang lebih besar dan utama, panggilan kewajiban dari Allah swt atau panggilan kerja ?’.
Sisi lain yang saya temukan adalah, Agus terlalu open dengan wanita. Ketika saya bertanya pada teman-teman yang serumah dengan Agus bagaimana keseharian dan prilakunya, banyak jawaban mereka yang kurang memuaskan hati saya tentang Agus.

Singkat kata, banyak hal yang saya temukan pada diri Agus tidak sejalan dengan pemahaman islam yang benar. Perkenalan saya dengan Agus rupanya tidak berbuah kepuasan dalam hati saya. Saya mengenal Agus hanyalah sosok yang biasa saja.

Siapa yang kenal dengan bang Alim? Tidak begitu banyak. Abang yang murah senyum ini lebih berkesan di hati saya. Ia memang tidak dikenal di kalangan mahasiswa secara luas. Bang Alim sudah hampir 6 tahun berada di Mesir. Dan selama saya berada di Mesir, saya belum pernah membaca tulisannya tampil di media mahasiswa. Ketika saya tanyakan tentang hal itu, beliau menjawab dengan senyum, “Akhi, abang tidak pandai menulis”.

Saya mulai mengenal bang Alim ketika menaiki bis ke kuliah. Saya duduk berdampingan dengan beliau. Raut muka, tutur kata, isi pembicaraan dan sikap beliau begitu menggetarkan hati saya dan membuat saya takjub. Perkenalan pertama begitu menggoda saya untuk lebih jauh mengenal beliau. Bang Alim bagi saya adalah sosok yang penuh pesona.

Teman yang serumah dengan bang Alim bercerita, “Di rumah kami Alim adalah orang yang paling alim dan ta`at. Shalat berjamaah seakan tidak pernah tertinggal. Pernah suatu kali ia ketinggalan shalat berjamaah dan hal itu rupanya membuat ia sangat sedih, bahkan ia sampai menangis dan untuk menebus itu ia bersedekah pada orang miskin. Alim juga sangat rajin puasa sunnah senin dan kamis. Disamping itu, ia juga rajin shalat malam, dan hampir tiap malam ia menangis, sehingga saking derasnya tangisan itu ia terkadang jatuh pingsan. Alim memang selalu menjaga amalan fardhu dan nawafil. Dan tanpa sepengetahuan kami ia sering mencucikan pakaian kami yang kotor.”

Setiap kali saya bertemu bang Alim membuat saya ingat pada Allah dan akhirat. Bang Alim adalah pecinta Allah. Setiap kali bertatap muka dengannya ia selalu berbicara tentang Allah, nikmat Allah, kasih sayang Allah pada makhluk-Nya, rahmat-Nya dan karunia-Nya.

Disaat saya berhadapan dengannya ia sanggup menggetarkan hati saya tentang Allah dan tentang akhirat. Sehingga hati saya terkadang dirundung kerinduan yang mendalam untuk berjumpa dengan Allah karena kata-katanya. Keimanan saya banyak bertambah dengan taushiah yang ia berikan, sehingga ketika saya lagi futur dalam beribadah, dengan hanya berjumpa dengan bang Alim sudah cukup membangkitkan dorongan dalam diri saya untuk kembali bersemangat.

Bang Alim telah memenuhi hati dan pikirannya dengan Allah, Dzat yang maha kekal. Wajahnya penuh cinta dan cahaya, air mukanya jernih, senyumnya menggetarkan, tatapannya memberi kekuatan, kata-katanya begitu sanggup menggiring hati untuk terpikat dan akhlaknya begitu mempesona hati.

Singkat kata, sangat banyak cerita tentang bang Alim yang menyentuh hati saya dan membuat saya terkagum-kagum pada beliau.
Agus dan bang Alim adalah dua sosok berbeda. Agus dikenal luas di bumi. Orang-orang memuji dan selalu menyebutnya. Bang Alim tidaklah sepopuler Agus, namun saya berkeyakinan bang Alim sangat dikenal di kalangan penghuni langit. Sering disebut di kalangan malaikat karena kebaikan agama, amal dan ibadahnya.

Saya teringat dengan hadits Rasulullah saw, “Apabila Allah swt mencintai seorang hamba, Ia memanggil Jibril dan berkata, ‘Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah ia’.Dan Jibril mencintainya. Kemudian Jibril menyeru penghuni langit, ‘Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah oleh kalian ia, kemudian penghuni langit mencintainya dan dijadikan untuknya penerimaan manusia di bumi.”

Mari kita berusaha menjadi manusia bumi dan “Manusia Langit”. Di bumi kita dikenal karena kebaikan dan prestasi yang kita miliki. Dan di kalangan penghuni langit kita juga dikenal karena ibadah dan ketaatan kita pada Allah swt.

Moga bermanfaat

Salam,
Kairo- marif_assalman@yahoo.com

Sumber : http://eramuslim.com/oase-iman/bertemu-manusia-langit.htm

Surat Untuk Calon Anakku

Teruntuk calon anakku
Yang masih tinggal di antara tulang sulbi dan tulang dadaku

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bagaimana kabarmu, Nak? Semoga Ananda sehat wal afiat di alam sana.

Ayahanda sengaja menulis surat ini khusus untukmu.
Meski Ayahanda tahu, kau belum bisa membaca dan membalas surat ini
Karena di sana memang tidak ada sekolah.
Namun, Ayahanda yakin kau memahaminya
Karena kita satu jiwa
Karena kau masih menyatu dalam tubuhku
Dan terutama,
Karena kau pasti cerdas seperti Ayahanda …. 🙂

Nak !
Ayahanda sangat bergembira mendengar sabda Sang Baginda Rasul,
Tentang doa anak shaleh yang pahalanya tak terputus, bahkan sesudah orang tuanya wafat
Ayahanda tiba-tiba tersadar, sabda tersebut menuntut Ayahanda melakukan dua hal:
Menjadi anak shaleh dan menjadikan Ananda sebagai anak yang shaleh pula

Nak!
Ayahanda sedang berusaha menjadi anak shaleh untuk kakek dan nenekmu
Sulit memang, karena tiada amal ayahanda yang menandingi jasa mereka
Tapi Ayahanda akan terus berusaha
Tunaikan titah Baginda

Ayahanda pun berharap
Kau seperti itu untuk ayahbundamu kelak
Mencintai, menaati dan menghormati
Ibundamu ….. Ibundamu…… Ibundamu
juga Ayahandamu ini
Itulah mimpi Ayahanda
Sebagaimana mimpi menjadikan rumah kita nanti bagaikan syurga
Supaya syurga benar-benar menjadi rumah kita

Tapi, Ayahanda merasa malu
Ketika mendengar Khalifah kedua menyatakan
Bahwa hak seorang anak dari ayahnya setidaknya tiga hal:
Dipilihkan ibunda yang baik, Diberi nama yang baik serta diajarkan Al Qur’an.
Malu …..
Karena belum mempersiapkan diri
Untuk menunaikan hakmu

Nak!
Kini Ayahanda sedang belajar memperdalam Al Qur’an
Agar kelak bisa mengajarimu A… Ba… Tsa
Agar kaupun menjadi Qur’an berjalan
Yang menerangi mayapada

O ya!
Ayahanda juga sengaja membeli buku tentang nama-nama mulia
Dengannya, Ayahanda sudah menyiapkan selaksa nama indah untukmu
Agar kau tumbuh perkasa
Dinaungi nama mulia
Yang ia adalah doa

Yang membuat Ayahanda bingung,
Bagaiamana menunaikan hak pertama
yang harus ditunaikan ketika Ananda belum melihat dunia
Karena Ayahanda tidak tahu
Apa kriteriamu tentang seorang ibu yang baik?
Ayahanda juga tidak tahu
Apakah kita memiliki selera yang sama …. :-)?

Tapi, Ayahanda yakin kau sepakat dengan satu kriteria
Bahwa calon ibumu nanti tidak boleh seorang yang shaleh
Melainkan harus seorang Shalehah

Karena jika kau memiliki Ibu yang Shaleh,
Sepertimu, Ayahandapun tak kan kuat menahan tawa
Melihat jenggot ibumu
Yang gagah jelita …… 🙂

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Yang mencintaimu karena-Nya

Calon Ayahandamu

Sumber : http://eramuslim.com/oase-iman/surat-untuk-calon-anakku.htm

Berhati-hatilah Kepada Siapa Anda Bercerita

Dalam beberapa hari ini Deni-bukan nama sebenarnya- terlihat murung. Wajahnya tidak secerah biasa. Ia lebih banyak diam dan sering menyendiri di kamar. Bahkan terkadang dalam diamnya itu Deni sering meneteskan air mata. Sepertinya ada beban berat yang dipikul hatinya. Ada masalah yang mengganggu pikirannya. Tapi Deni tidak bercerita pada yang lain. Ia lebih memilih berdiam diri.

Esoknya adalah hari pernikahan Ust. Harun-bukan nama sebenarnya-. Salah seorang senior yang sering membantu Deni. Beliau adalah orang terdekat dengan Deni. Tempat Deni bercerita dan menumpahkan segala keluhan jiwanya selama ini. Ust. Harun dikenal sangat baik, perhatian dan suka membantu.

Saat ini beliau sedang menempuh jenjang S2, di Fak. Tafsir, Universitas Al-Azhar, Kairo. Teman-teman yang satu rumah dengan Deni menjadi heran, karena sikap Deni yang berbeda dari sebelumnya, apakah karena ia belum dapat kiriman ataukah ada masalah lainnya. Beberapa orang sudah mencoba bertanya pada Deni tentang permasalahan yang sedang ia hadapi. Tapi Deni selalu menolak untuk bercerita.

Keesokan harinya, acara aqad nikah Ust. Harun dilangsungkan di Wisma Nusantara dan sekaligus walimahan. Banyak tamu yang memadati ruangan. Bagaimana tidak, Ust. Harun adalah seorang aktivis di Kairo. Ia punya banyak teman dan kenalan. Namun Deni tidak terlihat batang hidungnya. Ust. Harun juga sempat bertanya tentang Deni, tapi teman-teman yang satu rumah dengan Deni mengatakan bahwa mereka tidak mengetahuinya. “Tadi ia sudah siap-siap dan lebih dahulu keluar dari kami. Kami kira ia datang ketempat ini,” ungkap salah seorang teman yang serumah dengan Deni.

Hari pun sudah larut malam, jam hampir menunjukkan pukul 12. Tapi Deni belum juga pulang. Teman-teman yang se rumah dengan Deni jadi cemas. Hp Deni sudah berkali-kali dihubungi tapi tidak ada jawaban. Sekitar jam 2 malam Deni pulang ke rumah. Teman yang sekamar dengan Deni, Rasyid-bukan nama sebenarnya-belum tidur.

Sesampai di rumah, Deni masih terlihat murung dan banyak diam. Rasyid mencoba mendekat dan bertanya lembut, “Deni, apa yang bisa saya Bantu?”

“Tidak ada, makasih.”

“Tadi sore Antum kemana? Kok nggak kelihatan di acara walimahannya Ust. Harun?”

“Tadi sore saya ke mesjid Al-Azhar, mencari ketenangan.”

“Sebenarnya apa permasalahan yang mengganggui pikiran Deni, kalau boleh saya tahu?”

Deni terdiam sejenak, ia menarik nafas dan menundukkan pandangan matanya. Air matanya kembali berderai.

“Deni, apa sebenarnya yang terjadi?” Rasyid kembali bertanya sembari merangkul tangannya.

“Sebenarnya saya tidak mau bercerita pada siapapun. Ini permasalahan yang sangat pribadi. Tapi, mudah-mudahan dengan bercerita pada Akhi, hati saya lebih tenang, beban akan terasa ringan dan mungkin akhi nanti bisa memberi saya saran, nasehat dan menghibur hati saya.”

“Insya Allah, semampu saya”, kata Rasyid.

“Akhi, sejak dulu, ketika masih di pesantren hati saya telah tertaut pada seorang wanita, saya sangat menyukainya. Saya menyukainya karena agama dan kebaikan budi pekertinya. Sayapun mengenal baik orang tuanya. Perasaan itu tidak berhenti dan terus berlanjut sampai saya tiba di Mesir.

Besar harapan di hati saya wanita tersebut juga ikut ke Mesir. Sehingga di sini saya ingin memulai hubungan ini dan mengajaknya untuk menikah. Saya datang lebih awal ke Mesir sedang ia datang kemudian. Ia datang dengan beasiswa Depag. Sedangkan saya berangkat dengan biaya pribadi. Selama disini saya tetap menjaga hubungan baik dengannya. Dalam batas- batas yang tidak keluar dari syar`i.

Saya ingin melangkah untuk melamarnya. Namun saya merasa kurang pede, saya perlu ada yang mendorong , memberi semangat dan kekuatan. Saya butuh tempat curhat dan berbagi. Alhamdulillah saya menemukan orangnya, yaitu Ust. Harun. Berulang kali saya datang pada beliau dan menceritakan keinginan saya untuk menikah. Saya juga bercerita tentang wanita yang ingin saya lamar, tentang keluarganya, prestasinya, agamanya dan budi pekertinya. Tidak ada yang saya tutupi dan sembunyikan, saya lihatkan foto wanita itu , data dirinya dan data keluarganya.

Namun apa yang terjadi? Tanpa saya ketahui, Ust. Harun segera mencari tahu tentang wanita tersebut. Sehingga sampailah beliau menelpon keluarganya. Dan beliau mengutarakan lamarannya pada keluarga wanita tersebut. Pihak keluarga wanita mencoba menanyakan pada si wanita dan akhirnya ia menyetujuinya.

Itulah yang membuat saya sangat bersedih dengan sikap Ust. Harun, kenapa beliau tega melakukan hal itu pada saya. Selama ini Saya sangat percaya pada beliau. Tapi rupanya beliau juga tertarik dengan wanita pilihan saya tersebut. Akhirnya saya tidak jadi untuk melangkah karena didahului oleh Ust. Harun.

Apa yang bisa saya lakukan sekarang, tidak ada. Hati saya serasa hancur. Harapan saya seakan telah pudar. Saya agak shock dengan kejadian ini. Berat bagi saya untuk mengikhlaskan pernikahan ini. Berat bagi saya untuk mengatakan pada kedua mempelai ” Barakallahu lakuma …..” . Kaki saya sangat berat untuk melangkah menghadiri pernikahannya Ust. Harun. Saya tidak sanggup menyaksikan aqad nikah dan walimahan tersebut. Sampai saat ini hati saya masih sedih, saya tidak tahu harus kemana mengadu dan bercerita. Saya berharap akhi bisa membantu saya.”

Ia kembali menangis, ia tak sanggup menahan tumpahan air matanya, Rasyidpun tanpa sadar meneteskan air matanya, ia ikut terharu dengan cerita Deni. Rasyid tidak menduga, Ust. Harun yang selama ini dikenal baik melakukan hal itu.

“Deni, sabar ya, segala sesuatunya telah ditentukan Allah. Allah lebih tahu apa yang terbaik bagi Deni. Bisa jadi apa yang Deni pandang baik menurut Deni, belum tentu baik dalam pandangan Allah dan begitu sebaliknya. Deni tidak usah terlalu berlarut dalam kesedihan. Setiap orang telah Allah tentukan jodohnya masing-masing. Saya yakin Allah telah menyiapkan yang terbaik untuk Deni.

Tidak ada gunanya menangisi apa yang telah terjadi. Semua itu tidak akan mengubah apa-apa. Mintalah pada Allah agar diberikan ganti yang lebih baik. ”

Mendengar kata-kata Rasyid, Deni pun mulai mengembang senyum, sambil mengusap air matanya ia berkata , ” Kata-kata akhi sungguh sangat berarti bagi saya, begitu menyejukkan hati saya dan menggugah jiwa saya. Betul apa yang akhi katakan belum tentu apa yang baik menurut saya baik menurut Allah. Insya Allah saya tidak akan bersedih lagi, saya akan pasrah pada Allah, saya akan terus berdo`a pada Allah untuk memberikan yang terbaik pada saya, insya Allah saya akan bersabar, terima kasih atas nasehat akhi.”

“Dah, sekarang Deni berwuduk , shalat dua raka`at dan kemudian baca Al-qur’an , insya Allah hati Deni akan tenang kembali.”

“Iya akhi, sekali lagi jazakumullahu khairan.”

Esoknya Deni kembali seperti biasa, ceria dan bersemangat. Seolah-olah tidak ada yang terjadi pada dirinya. Ya, karena semalaman ia telah bersujud panjang di hadapan Allah, menumpahkan dan mengadukan segala resah hati pada Allah yang maha mengetahui segala isi hati dan segala sesuatu.

NB: Kisah di atas dari seorang teman. Nama tokoh dan tempat hanyalah rekayasa belaka, untuk menjaga agar tidak menyudutkan pihak tertentu. Kalau ada kesamaan nama dan tempat, itu hanya kebetulan saja. Moga kisah nyata di atas menggugah hati kita dan memberi kita pelajaran yang sangat berharga.

Salam dari Kairo,
marif_assalman@yahoo.com
[Anggota FLP Mesir]

Sumber : http://eramuslim.com/oase-iman/berhati-hatilah-kepada-siapa-anda-bercerita.htm

Kekuatan Air Mata

131709pIa hadir hampir dalam setiap denyut nadi gerakan dan aktivitas mahasiswa. Penampilannya sederhana. Sikapnya santun. Mudah tersenyum. Suka menyapa, perhatian, dan ringan tangan. Saya baru mengenalnya ketika mengikuti sebuah acara seminar. Ia tampil sebagai pemateri. Air mukanya yang jernih dan tenang telah mampu menarik perhatian setiap pendengar. Untaian kata-katanya yang lembut, jelas dan tepat semakin menjadi daya tarik tersendiri bagi semua orang. Kata-katanya penuh ilmu dan hikmah. Bahkan candanya sekalipun tak kosong dari ilmu dan hikmah. Sehingga kesempatan bisa duduk dan ngobrol dengannya menjadi kesenangan tersendiri bagi saya.

Sangat gemar membaca, tak jarang setelah seharian kuliah ia sering ditemukan asyik menikmati buku-buku di Perpustakaan Mahasiswa Indonesia Kairo (PMIK). Full aktivitas, kegiatannya hampir tak terputus dan tanpa henti. Kendati demikian ia tidak pernah kehilangan kesempatan shalat berjamaah di mesjid, takbir pertama bersama imam. Walau sibuk, ia tak lupa menyempatkan diri bermesraan dengan mushâf saku yang selalu ia bawa. Ia selalu tampak kuat, bersemangat dan bisa menyelesaikan setiap pekerjaan dengan baik. Kebaikan yang ada pada dirinya mendorong saya untuk ingin lebih dekat mengenalnya. Saya ingin mengetahui apa yang menjadi rahasia kekuatan semangat, ketenangan dan kejernihan hati dan pikirannya.

Menurut salah seorang teman yang tinggal serumah dengannya, bahwa ia sering kedapatan menangis. Ya, ia sering ditemukan terisak menangis. Ketika ditanya kenapa ia menangis, ia berkata, “Akhi, kita hidup di dunia hanya sebentar, kematian datang kapan saja, setiap amal kita akan dihisab dan saya tidak tahu apakah kelak di akhirat saya akan tergolong menjadi ahli sorga ataukah neraka.”

Suatu kali ketika shalat subuh berjamaah, saya berdiri di sampingnya. Dan saat itu imam membaca ayat, “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang. Maka dia akan berteriak, “celakalah aku”. Dan dia akan masuk kedalam api yang menyala-nyala(neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira dikalangan kaumya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya). (Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya.” (Al-Insyiqâq: 10-15 ). Saya mendengar ia menangis sejadi-jadinya, saya seakan-akan mendengarkan air mendidih dari rongga dadanya.

Seusai shalat, saya melihat tangisan itu masih membekas di wajahnya. Hatinya begitu lembut, begitu mudah tersentuh dengan Al-Qur`ân.

Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh pendahulu kita, para Al-Salafus Sâlih. Menurut suatu riwayat, jika mengerjakan shalat subuh, Umar Ra. sering membaca surat Al-Kahfi, Thaha dan surat-surat lain yang sama panjangnya dengan surat itu. Pada saat itulah Umar Ra. sering menangis sehingga tangisannya terdengar ke barisan belakang. Pada suatu ketika dalam shalat subuh , Umar Ra. membaca surat Yusuf, ketika sampai pada ayat, “Sesungguhnya hanya pada Allah saya mengadukan kesusahan dan kesedihanku. ” ( Yusuf : 86 )

Umar Ra. menangis terisak-isak sehingga suaranya tidak lagi terdengar ke belakang. Terkadang dalam shalat tahajudnya Umar Ra. membaca ayat-ayat Al-Qur`ân sambil menangis sehingga ia terjatuh dan sakit. Inilah perasaan takut pada Allah seorang yang apabila disebut namanya saja, akan menggetarkan dan membuat takut hati raja-raja besar.

Rasulullah Saw. bersabda, “Akar dari kebijaksanaan adalah takut kepada Allah.”

hujan1Suatu hari Rasulullah Saw. melewati seorang sahabat yang sedang membaca Al-Qur`ân, ketika sahabat tadi sampai pada ayat, “Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah seperti kulit yang merah.” (Ar-Rahman: 37), maka bulu pembaca tadi berdiri tegak dan dia menangis terisak-isak dan berkata, “Aduh, apakah yang akan terjadi pada diriku apabila langit terbelah pada hari kiamat? Sungguh malang nasibku.” Nabi berkata padanya, “Tangisanmu membuat para malaikat ikut menangis bersamamu.”
Abdullah bin Rawahah salah seorang sahabat Rasulullah Saw., pada suatu hari menangis dengan sedihnya, melihat keadaan itu istrinya pun turut menangis bersamanya. Dia bertanya pada istrinya, “Kenapa engkau menangis?” istrinya menjawab, “Apa yang menyebabkan engkau menangis, itulah yang menyebabkan saya menangis.” Abdullah berkata, “Ketika saya ingat bahwa saya harus menyeberangi neraka melalui shirat, saya tidak tahu apakah saya akan selamat atau tidak.”

musim_hujanRasulullah Saw. bersabda : “Wajah yang dibasahi air mata karena takut pada Allah walaupun sedikit akan diselamatkan dari api neraka.” Beliau juga bersabda, “Jika seseorang menangis karena takut pada Allah maka dia tidak akan masuk neraka, seperti tidak mungkinnya air susu masuk kembali ke putingnya.”

Aisyah bertanya kepada Rasulullah Saw., “Adakah diantara pengikut-pengikutmu yang akan masuk surga tanpa hisab?”, “Ia” jawab Nabi. “Dia adalah orang yang banyak menangis karena menyesali dosa-dosa yang telah ia lakukan.”

Dalam kesempatan lain Rasulullah Saw. bersabda, “Ada dua jenis tetesan yang sangat disukai oleh Allah, tetesan air mata karena takut pada-Nya dan tetesan darah karena perjuangan di jalan-Nya.”

Sungguh masih banyak lagi riwayat yang menjelaskan penting dan bermanfaatnya menangis karena takut pada Allah Swt. sambil menyesali dosa-dosa dan mengingat kebesaran Allah. Dan kisah-kisah diatas adalah suatu teladan bagi kita.
Ternyata air mata tidak selamanya menjadi simbol kelemahan, di dalamnya justru terdapat kekuatan, ada daya rubah yang luar biasa. Dengannya banyak pekerjaan besar bisa diselesaikan secara optimal. Terutama saat-saat bersama Al-Qur`ân, disaat sendiri mengingat dosa dan kesalahan.

Marilah kita melihat diri kita yang bergelimang dengan noda dan dosa, diri yang tidak pernah merasa takut dengan siksa Allah. Mata yang sangat jarang atau bahkan tidak pernah menangis karena takut pada Allah. Dan mari kita hitung, sampai detik ini, sudah berapa kali air mata kita menetes karena takut pada Allah? Karena mengingat dosa-dosa dan kesalahan kita dan karena mengingat siksa-Nya. Wallâhul musta`ân wa a`lam

Cairo,
marif_assalman@yahoo.com

Sumber : http://eramuslim.com/oase-iman/kekuatan-air-mata.htm

Kwitansi Hitam-putih

Sabtu sore, Jaziila anak bungsu kami sakit. Nafasnya memburu dan sesak. Gelisah, rewel dan menangis terus. Suhu badannya hangat dan perlahan semakin tinggi.

Dengan telaten, isteri saya terus melayaninya. Menghibur, mengajaknya bercanda, dinyanyikan, tetapi semuanya tidak menjadikannya tenang. Ia tetap rewel. Kami berdua sudah maklum bila Jaziila kambuh. Ini bukan yang pertama. Namun karena Sabtu sore dokter yang biasa menangani Jaziila tidak praktek, kami jadi khawatir. Kesabaran kami seolah menipis. Nafas saya seperti lebih sesak dari Jaziila.

“ Kita bawa ke mantri saja Bunda”, kata saya memecah kebingungan.

“ Saya khawatir beda obatnya, Yah. Terlalu banyak beragam obat yang kita beri, takut malah tidak bagus buat Jaziila”.

“ Kemungkinan seperti itu tetap ada, Bunda. Sekarang yang kita inginkan supaya anak ini mendapatkan sesuatu yang insya Allah dapat meringankan sakitnya. Kita juga tidak boleh terlalu percaya dan bergantung pada obat dokter atau mantri. Pintu kesembuhan hanya milik-Nya. Semoga Allah membukakannya untuk Jaziila. Kita minta pada-Nya. Masih ingat kan, wa idzaa maridhtu, fahua yasyfiin?”.

 Isteri saya hanya mengangguk pelan.

“ Sabar ya sayang, yu kita menjemput kesembuhanmu. Semoga Allah berkenan”, isteri saya masih saja berusaha menghibur bungsu kami. Lalu diraihnya baju hangat, kaus kaki, topi dan kain gendongan. Di atas motor, Jaziila tertidur hingga di ruang tunggu.

 

***

“ Pak, saya bisa mendapatkan kwitansi biaya pengobatannya?”. Kali ini saya meminta kwitansi pengobatan untuk Jaziila. Baru sebulan terakhir saya sertakan asuransi kesehatannya.

“ Bisa. Tunggu sebentar ya, Pak”.

Sementara mantri sibuk menyiapkan kwitansi, saya penasaran atas keadaan Jaziila.

“ Pak, maaf. Sebenarnya keluhan anak saya apa sih?”. Pertanyaan yang entah berapa kali saya lontarkan ketika mengantarnya ke tempat pengobatan. Padahal dokter yang biasa menanganinya pernah memberikan penjelasan soal itu. Reflek, pertanyaan yang sama saya lontarkan lagi.

“ Putra Bapak alergi cuaca. Kemungkinan cuaca yang tidak stabil saat ini, panas, hujan, panas, lalu hujan lagi menjadi pemicunya”.

“ Kalau boleh tahu, seberapa banyak keluhan ini diderita balita dan kemungkinan sembuhnya?”.

“ Beberapa diantaranya mengalami hal yang sama seperti putra Bapak. Bergantung pada ketahanan fisiknya. Biasanya semakin dia besar, semakin kuat fisiknya, semakin tahan cuaca. Balita memang rentan. Sementara hindari cuaca dingin. Usahakan jangan kena angin malam. Makan dan minumnya hangat terus. Dan minumkan obatnya. Yaa …,mudah-mudahan dalam satu dua hari kondisinya pulih”.

Jawaban yang sama; Alergi. Alergi cuaca, debu, asap dan aroma yang mengganggu pernafasannya.

“ Ngomong-ngomong, kwitansinya mau ditulis berapa?’,

Saya terdiam. Mau ditulis berapa?. Lagi-lagi saya menemukan pertanyaan yang seragam setiap kali berobat dan meminta kwitansi. Entah di dokter, rumah sakit sampai ke mantri. Apakah di tempat lain semuanya demikian?

“ Pak, mau ditulis berapa?”, Pak mantri mengulangi.

“ Ya Pak. Sesuai dengan harga yang harus saya bayar”. Jawab saya cepat di tepi lamunan.

“ Biayanya tiga puluh ribu rupiah”.

“ Ditambah dengan biaya konsultasi ya, Pak”, kataku menyambung.

“ Itu sudah biaya obat dan konsultasi”.

“ O, ya sudah, tulis saja tiga puluh ribu”.

“ Benar nih, Pak. Hanya tiga puluh ribu saja?”, saya menangkap tatapan pak mantri. Sepertinya ia tidak yakin. Pulpennya belum bergerak menuliskan satu angka pun.

Saya maklum dengan dugaan saya. Dugaan yang meyakinkan, bahwa tidak semua kwitansi minta ditulis sesuai angka kejujuran. Ada banyak kwitansi bodong. Kwitansi fiktif. Kwitansi jadi-jadian. Kwitansi yang tidak menjelaskan objektifitas angka satu, dua, tiga bahkan angka nol sekalipun.    

“ Memangnya kenapa, pak?”, saya bertanya hal yang sebenarnya tidak perlu dijabarkan lagi.

“ Ah, tidak. Hanya meyakinkan saja. Jadi tiga puluh ya”. Saya kecut dengan penegasan berulangnya. Pengulangan itu bahkan mengalihkan perhatian saya pada Jaziila. Kulihat, anak itu masih terlelap di pelukan isteri saya. Mudah-mudahan pertanda baik bagi kesehatannya.

“ Jarang sekali Pak yang begini. Kadang sudah dinaikkan dua retus persen, ada saja yang masih minta tambah. Tambah lagi Pak, kurang kalo segitu”.

Saya tercenung. Kalimat inilah rupanya yang membuatnya menunda angka tiga puluh ribu untuk kwitansi saya. Saya sama sekali tidak tersanjung. Entah. Hati saya semakin hambar. Senyum saya pun tawar. Mengapa kebaikan terasa semakin terasing di lingkungan kita. Seolah-olah nilai luhur itu sudah menjadi barang usang yang orang sudah tidak ingin memakainya. Kebaikan seperti tengah mengalami ambiguitas makna. Orang menjadi ragu kalau berbuat jujur dan begitu dan amat ‘pe de’ dengan kecurangan. Hitam-putih menjadi samar. Haq dan batil mengalami kerancuan identitas. Entah apa lagi sebutannya.

“ Manusia membawa tabiat masing-masing, ya Pak. Saya kadang malu. Apalagi hari ini. Tambah malu. Ada banyak pasien memaksa saya untuk menjadikan sakit sebagai alat menipu dan terpaksa saya turuti. Hari ini saya yang memulai ketidakjujuran, tapi Bapak tidak berkenan ”.

Saya mencoba menangkap arti di balik kalimatnya. Tanpa kata-kata. Hanya mirror dan gestur, mantri ini sudah paham sikap saya. Semakin banyak ia bercerita. Terbongkarlah kejernihan.

Hatinya tidak sepenuhnya senang menuruti kwitansi permintaan. Ia merasa bersalah memberi andil atas coretan angka yang diminta pasiennya. Kalau angka yang dimintanya masih rasional, ia tidak terlalu gundah. Pasalnya, apabila angka yang diminta terlampau tinggi, ia tambah pusing. Maka, mengubah atau menambah daftar resep dan diagnosa, menjadi jalan keluar mengatasi kepusingannya.

Kasihan. Batin saya meracau. Ia terjebak pada aksioma dusta. Bahwa sebuah dusta kecil, harus ditutupi dengan dusta yang dua kali lebih besar. Untuk berkelit dari kebohongan, ia harus mendisain kebohongan yang baru. Begitu seterusnya. Ia seperti terjerat lingkaran setan yang tak berujung kesudahan.

Mengapa semakin panjang daftar kegagalan kita menyikapi hidup? Sakit dan sehat sesungguhnya sama saja. Keduanya adalah ujian, teguran, atau bahkan hukuman atas kebandelan dalam memaknainya. Kearifan iman mengajarkan, bahwa seorang mukmin ketika sakit, adalah bentuk lain kasih sayang Allah atas dirinya. Melalui sakit yang diderita, justru berlimpah kemurahan Allah yang menghampirinya. Bukankah sakit menjadi kaffarat atas dosa-dosa kecilnya? Pernahkan terbayangkan, bahwa hampir semua orang terdekat memberikan care yang lebih besar dari hari-hari biasanya ketika sebelum ia sakit? Bahkan orang yang tadinya biasa-biasa saja, tiba-tiba begitu amat perhatian ketika sakit mendera bukan? Lalu, di manakah kebersihan akal budi, saat sakit datang, lalu berobat, ingin sembuh, tapi berbuat curang di hadapan Yang Maha Penyembuh? Bagaimana mungkin kita mengharap belas kasih-Nya, berbarengan dengan “menelikung”-Nya dari belakang?

“ Bapak kan bisa menolak”, kata saya datar.

“ Setiap kali saya menolak, bermacam reaksi saya terima. Dari yang halus sampai yang ketus. Semuanya berakhir dengan kalimat, Pak, saya yang tanggung jawab. Bapak tenang saja. Tulis saja sesuai permintaan”.

Ada keputusasaan yang megiringi keluhannya. Wajahnya menyiratkan hal itu dan matanya lebih banyak mengatakan yang tak terbantahkan. Seolah ia ingin memindahkan sebagian kecil dari bebannya di pundak saya. Tapi saya tidak dapat memikulnya. Yang saya bisa hanya tidak menambah bebannya bertambah berat. Semoga bebannya sedikit berkurang dengan angka tiga puluh ribu kwitansi saya. Tidak lebih.

Saya sulit menemukan ruang bijak antara profesi dan keserakahan sebagian pasiennya. Semuanya seperti liar dan tak terkendali. Anggaplah ia bersikeras tidak mau menuliskan angka pesanan, ia selamat dari perbuatan tercela. Tetapi sikap tersebut belum tentu memutus rantai kecurangan, apalagi niat untuk melakukannya sudah begitu kuatnya. Bagaimana tidak? Dengan teknologi komputerisasi sekarang, kwitansi, stempel bahkan tanda tangan akan dengan mudah dimodifikasi. Pintu-pintu menuju setan, jauh lebih canggih dari pada pintu-pintu menuju Tuhan. Semuanya karena niat dan teknologi. Hanya soal jauh dan dekat dengan Tuhan. Namun paling tidak, jika pilihan tidak mau menuruti keinginan sebagian pasiennya itu, sudahlah cukup baginya. Sebab tanggung jawabnya tidak lagi menjangkau modifikasi kwitansi, stempel dan tanda tangan gandungan.

Kejujuran memang ruang privat, tetapi efek dan pengarunya bersifat kolektif. Oleh karena itu, sikap amanah harus ditularkan hingga batas yang tidak terjangkau. Sayangnya, kecurangan di negeri ini sudah sampai pada taraf akut. Semuanya seperti ingin dipalsukan. Namun, menerapkan jiwa amanah untuk diri sendiri jauh lebih bermakna dari pada menjajakannya di mimbar retorika.

Saya sudah ingin pulang. Ingin segera mendekap Jaziila. Segera saya pamit.

“ Jangan lupa, sehari tiga kali diminumkan obatnya”.

“ Terima kasih, Pa. Do’akan, semoga Allah sembuhkan Jaziila dengan tiga puluh ribu rupiah saja”, saya pergi tanpa mau melihat ekspresi sang mantri.

Esok paginya, Jaziila sudah mau tertawa. Saya senang sekali. Panasnya berangsur normal. Nafasnya terlihat tidak lagi sesak dan memburu. Al-hamdulillah. Ya Allah, syukur atas kemurahan-Mu. Semoga kami semakin hati-hati memelihara amanah titipan-Mu.

Depok, 15 Pebruari 2009.

Sumber : http://www.eramuslim.com/oase-iman/kwitansi-hitam-putih.htm

Awan Tag