Aku, Dunia, dan Akhiratku…

Posts tagged ‘Palestina’

Uni Emirat Arab, Negara Pengimpor Senjata Terbesar di Dunia

uaeUni Emirat Arab ternyata menjadi negara pengimpor senjata ketiga terbesar di dunia. Ini terungkap dari hasil riset Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) yang dirilis Senin (27/4).

Dari hasil risetnya SIPRI menyatakan ada trend yang mengkhawatirkan berupa meningkatnya jumlah impor senjata di kawasan Timur Tengah. “Selama lima tahun belakangan ini, kami melihat kawasan Timur Tengah sebagai wilayah utama yang membeli sistem persenjataan konvensional,” kata Pieter Wezeman, peneliti di SIPRI.

“Masih ada trend yang mengkhawatirkan di kawasan itu, yang dikelilingin oleh berbagai potensi konflik dan terbatasnya transparansi dan kepercayaan antara pemerintahan di kawasan,” sambung Wezeman.

Laporan terbaru SIPRI menyebutkan bahwa Uni Emirat Arab menguasai enam persen impor senjata di dunia antara tahun 2004-2008. Jumlah impor senjata Uni Emirat Arab menyamai jumlah impor senjata negara Korea Selatan. Dua negara pengimpor senjata terbesar lainnya adalah China dan India yang menguasai 11 persen pasar impor.

Impor senjata yang dilakukan Uni Emirat Arab terhitung sangat cepat dalam kurun waktu tersebut, karena pada tahun 1999-2003, Uni Emirat masih berada di posisi ke-16 negara pengimpor senjata terbesar di dunia. Melesatnya Uni Emirat Arab ke posisi ke-3, menurut SIPRI, menunjukkan adanya perubahan yang paling signifikan dalam survei terbaru SIPRI di sektor perdagangan persenjataan dan peralatan militer di seluruh dunia.

Riset SIPRI juga menunjukkan adanya peningkatan transfer senjata antara tahun 2004-2008 yang jumlahnya 21 persen lebih besar dibandingkan periode tahun 1999-2003. Khusus transfer senjata ke kawasan Timur Tengah, jumlahnya meningkat hingga 38 persen dibandingkan lima tahun sebelumnya. Peningkatan jumlah pengiriman senjata juga terjadi ke wilayah-wilayah konflik seperti Aghanistan, Pakistan dan Israel.

Dari hasil survei SIPRI, negara AS masih menjadi pemasok senjata dan peralatan perang terbesar di dunia. AS menguasai 31 persen ekspor senjata di seluruh dunia, diikuti Rusia yang menguasai 25 persen pasar ekspor dan Jerman sebesar 10 persen.

Masih menurut laporan SIPRI, antara tahun 2004-2008, AS mengekspor 37 persen persenjataannya ke wilayah Timur Tengah. Dari data SIPRI, keyakinan bahwa konflik di berbagai negara sengaja diciptakan atau dipelihara oleh negara-negara maju yang berkepentingan dengan bisnis senjata dan militernya, bisa jadi ada benarnya.

Sumber : http://eramuslim.com/berita/dunia/uni-emirat-arab-negara-pengimpor-senjata-terbesar-di-dunia.htm

Dalia Mugahed, Muslimah Pertama di Gedung Putih

mugahedLesung pipinya saat tersenyum menjadi ciri khas Dalia Mogahed. Perempuan berwajah manis dan berjilbab ini bukan perempuan sembarangan, karena ia menjadi muslimah AS pertama yang mendapatkan posisi penting di Gedung Putih.

Mogahed, perempuan kelahiran Mesir ini terpilih sebagai salah satu penasehat bidang Timur Tengah dan Muslim Amerika dalam pemerintahan Presiden Barack Obama. Presiden Obama, bulan Maret kemarin menandatangani pembentukan sebuah lembaga baru dalam pemerintahannya yang diberi nama “Kantor Kerjasama Keagamaan”. Lembaga ini dibentuk untuk membantu institusi-institusi keagamaan dan memperkuat dialog antar penganut agama dengan pemerintah.

Kantor tersebut beranggotakan 25 orang dari perwakilan seluruh agama dan kelompok sekular yang bertugas memberikan laporan pada presiden tentang bagaimana peran agama bisa dimainkan untuk memecahkan problem-problem sosial dan menyikap isu-isu hak-hak sipil.

“Saya merasa sangat terhormat diberi kesempatan untuk mengabdi pada negara ini. Kunci utama dari lembaga ini adalah mengerahkan energi dan kebijaksanaan berbagai institusi keagamaan serta para pimpinannya yang memfokuskan kegiatannya untuk memecahkan berbagai persoalan sehari-hari,” kata Mogahed dihadapan anggota Senat dan lembaga-lembaga think-tank yang hadir dalam pertemuan yang digelar oleh Congressional Muslims Staffers Association.

Sebagai wakil dari agama Islam, Mugahed akan memberikan masukan dan pendapat pada Obama tentang apa yang diinginkan Muslim dari AS, sehingga terbuka saluran komunikasi dan jalan untuk meluruskan pandangan-pandangan yang salah tentang Islam dan Muslim, terutama di AS.

“Hal utama yang mendasari lembaga ini adalah kerjasama antar penganut agama dan membantu mereka untuk menjadi sebuah kekuatan yang bisa mendorong kemajuan masyarakat,” sambung Mugahed yang setelah menjadi penasehat Obama, tetap akan mengepalai lembaga Gallup American Center for Muslim Studies, sebuah lembaga non pemerintah yang bergerak dalam bidang riset dan analisis data tentang pandangan-pandangan Muslim di seluruh dunia.

Tantangan Mugahed

Jihad Saleh Williams dari Congressional Muslim Staffers Association menilai positif penunjukan Mugahed sebagai penasehat pemerintahan Barack Obama, mengingat makin meningkatnya Islamofobia di kalangan media dan akademisi di AS.

Menurut Williams, posisi Mugahed sebagai penasehat di bidang hubungan dengan warga Muslim, adalah posisi yang unik karena banyak yang mempertanyakan siapa ahli di bidang itu dan siapa yang layak bicara soal Muslim.

“Pada umumnya, pertanyaan-pertanyaan itu yang sering muncul di kepala masyarakat dan para pengambil keputusan. Dalia Mugahed paham betul dengan komunitas Muslim dan apa yang ia katakan berdasarkan hasil risetnya di Gallup,” ujar Williams.

Sebagai peneliti senior dan direktur eksekutif Gallup Center, Mugahed yang berlatar belakang pendidikan teknik kimia dan administrasi bisnis ini, memimpin langsung riset-riset tentang opini publik Muslim di seluruh dunia dan hasil penelitiannya sering dikutip media massa ternama di AS seperti the Wall Street Journal, majalah Foreign Police dan Middle East Policy and the Harvard International Review. Mugahed juga pernah bekerjasama menulis buku dengan John L. Esposito berjudul “Who speaks on behalf of Islam? What a Billion Muslims Really Think”.

Prestasi Mugahed sebagai Muslimah AS pertama yang ditunjuk sebagai penasehat pemerintahan juga membuka kesempatan bagi Muslim lainnya yang menekuni kebijakan publik dan memberikan kontribusi berupa solusi terhadap permasalahan-permasalahan sosial.

“Muslim AS harus kreatif dengan ide-idenya dan selayaknya berpartisipasi dalam mencari solusi bagi persoalan-persoalan negaranya, dan yang lebih penting mereka diberi kesempatan untuk melakukan itu semua,” tukas Mugahed.

Mugahed mengemban tugas berat untuk meluruskan stereotipe negatif terhadap Muslim yang diidentikan dengan ekstrimis. Sebagai perempuan berjilbab pertama di Gedung Putih, Mugahed mengakui bahwa dalam proses penasehat pemerintah, Obama tidak hanya ingin mendengar informasi-informasi yang umum, bukan persoalan jilbab.

“Jilbab tidak menjadi isu utama. Apa yang ingin didengar pemerintahan Obama adalah nasehat masukan tentang bagaimana melibatkan seluruh masyarakat dalam isu-isu sehari-hari,” imbuhnya.

Sumber : http://eramuslim.com/berita/dunia/dalia-mugahed-muslimah-pertama-di-gedung-putih.htm

Netanyahu Takuti Konferensi Durban

1netahyahoo

Konferensi Durban II yang sedang diselenggarakan di Swiss ternyata tak urung membuat Israel blingsatan juga. Tak kurang dari Perdana Menteri Israel yang baru terpilih, Benjamin Netahyahu, ketar-ketir dan angkat suara. “Semua tamu kehormatan konferensi (Durban) adalah para pengingkar Holocaust!” ujarnya keras dalam pertemuan kabinetnya tadi pagi (20/5). Netanyahu juga memberikan selamat kepada negara-negara yang memilih untuk memboikot konferensi ini.

Netanyahu mengatakan bahwa ia telah bekerja sama dengan Prancis untuk menyantuni korban keluarga Holocaust dengan jumlah total sebesar $4,76 juta setelah sebelumnya diberikan $2,4 juta. “Saya gembira bahwa kita bisa melakukan ini. Sekarang, Israel menjadi jaminan buat eksistensi dan keamanan orang Yahudi.” imbuhnya.

Konferensi Durban II memang disinyalir amat membahayakan Yahudi karena membicarakan agenda utama soal rasisme. Yahudi menyebutnya sebagai sikap anti-Semit. Tak urung, kaum Yahudi internasional sudah berusaha memanas-manasi PBB untuk tidak terlibat dalam konferensi ini dengan mengatakan bahwa konferensi ini hanya merendahkan martabat PBB belaka.

Sedangkan Barack Obama, presiden AS, mengatakan bahwa konferensi Durban adalah sebuah pertemuan munafik dan gerakan melawan Israel. Obama sudah jauh-jauh hari memutuskan memboikot Durban II.

Sumber : http://eramuslim.com/berita/dunia/netanyahu-takuti-konferensi-durban.htm

Israel Sesumbar Akan Serang Iran Dalam Hitungan Hari atau Jam

iran5Laporan-laporan tentang rencana serangan rezim Zionis Israel ke fasilitas-fasilitas nuklir Iran terus mengemuka. Surat kabar Times mengutip seorang pejabat senior pertahanan Israel yang mengungkapkan bahwa begitu pemerintah memberi lampu hijau, militer Israel akan melakukan serangan massif ke Iran dalam hitungan hari.

Menurut pejabat tadi, Pasukan Pertahanan Israel akan mengambil setiap langkah untuk bersiap diri untuk sewaktu-waktu menggelar apa yang mereka sebut sebagai “serangan yang beresiko.”

“Israel ingin memastikan, jika militernya diberi lampu hijau, mereka bisa menyerang Iran kapan saja, dalam hitungan hari bahkan jam setelah perintah dikeluarkan. Mereka membuat berbagai persiapan untuk setiap kemungkinan. Pesan yang ingin kami sampaikan pada Iran adalah bahwa ancaman kami bukan sekedar kata-kata,” kata sumber tersebut.

Sebagai persiapan mengglear “serangan udara massif” ke Iran, Israel sudah melengkapi diri dengan tiga pesawat tempur Airborne Warning and Control (AWAC) dan misi-misi regional sebagai upaya untuk menstimulasi serangan. Komando Front Nasional Israel juga mengumumkan agenda memobilisasi kekuatan militer dalam latihan militer terbesar yang pernah dilakukan Israel pada tanggal 2 Juni mendatang. Rakyat Israel juga sudah disiapkan untuk menghadapi kemungkinan balas dendam yang akan diterima Israel.

Times dalam laporannya menyebutkan, target utama serangan Israel ke Iran adalah fasilitas pengayaan uranium di kota Natanz dan reaktornya di kota Arak, serta pusat produkasi bahan bakar nuklir di Isfahan.

Israel dilaporkan sudah melakukan latihan perang sejak satu tahun lalu untuk menghadapi kemungkinan perang dengan Iran, mengingat jarak Israel ke Iran yang cukup jauh. Surat kabar New York Times dalam laporannya di bulan Juni tahun 2008 menyebutkan bahwa Israel pada awal bulan Juni telah melakukan latihan perang yang diduga sebagai persiapan perang Israel ke Iran. Latihan itu digelar di timur Mediterania dan Yunani dengan melibatkan lebih dari 100 pesawat tempur Israel jenis F-16 dan F-15, helikopter tempur bahkan tank-tank pembawa bahan bakar.

“Kami tidak mau melontarkan ancaman pada Iran tanpa menyiapkan dukungan kekuatan militer. Israel sudah melakukan persiapan untuk menunjukkan bahwa Israel siap bertindak,” tulis Times mengutip seorang sumber intelejen Israel. Tapi sumber itu mengakui, Israel baru akan menyerang Iran jika sudah mendapat persetujuan dari pemerintah AS.

Angkatan Udara AS harus memberikan ijin pada angkatan udara Israel yang akan melewati wilayah Irak untuk menuju Iran. Deputi Direktur Institute for National Security Studies, Ephraim Kam meyakini bahwa pemerintahan Obama tidak akan memberi ijin untuk hal semacam itu karena wacana yang berkembang di lingkungan pertahanan AS, mereka tidak yakin operasi yang akan dilakukan Israel ke Iran akan berhasil. Israel kini sedang melakukan berbagai cara untuk mencari alasan untuk memulai seranganya ke Iran. Lembaga think-tank di AS, Center for Strategic and International Studies (CSIS) dalam laporannya hari Kamis kemarin mengingatkan akan adanya misi-misi rahasia Israel untuk menghentikan program nuklir Iran.

“Serangan militer Israel ke fasilitas-fasilitas nuklir Iran bisa saja terjadi dan Israel akan mengambil rute yang paling optimum dalam melakukan serangan dengan menyusuri perbatasan Suriah-Turki, kemudian melewati sebagian wilayah Irak, kemudian masuk ke Iran. Rute itu pula yang akan digunakan oleh pesawat-pesawat tempur Israel untuk kembali ke markasnya di Israel.

“Beberapa pesawat tempur, harus mengisi bahan bakar di perjalanan. Mencapai target tanpa bisa dideteksi atau diusir saat di tengah jalan merupakan misi yang penuh resiko dan kompleks. Sulit dijamin bahwa keseluruhan misi ini akan berhasil,” demikian penilaian yang dilakukan CSIS.

Sementara itu, Iran kembali menegaskan bahwa negara itu tidak akan mundur selangkahpun hanya karena ancaman-ancaman dari Israel. Kepala Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Hassan Firouzabadi dalam peringatan hari angkatan bersenjata Iran mengatakan bahwa Tehran tidak bersedia berdialog dengan negara manapun yang memilih diam melihat arogansi Israel di Timur Tengah.

“Kami tidak mau duduk untuk bernegosiasi dengan mereka yang tutup mata dan telinga atas kebrutalan Israel dan malah memilih berbicara atas nama entitas Zionis,” kata Mayjen Firouzabadi.

Rencana pemerintahan Obama untuk mengubah bentuk komunikasi dengan Iran memicu polemik di Tehran yang mencurigai sikap AS meski dalam berbagai kesempatan sejumlah pejabat AS berusaha melakukan pembicaraan dengan para diplomat Iran guna membuka kembali negosiasi terkait program nuklir Iran.

Lebih lanjut, Kepala Angkatan Bersenjata Iran menegaskan bahwa Tehran bersedia dialog dengan AS jika AS benar-benar mewakili rakyatnya dalam dialog dan bukan sebagai pendukung Israel.

Sumber : http://eramuslim.com/berita/dunia/begitu-ada-lampu-hijau-israel-akan-serang-iran-dalam-hitungan-hari-atau-jam.htm

Jihad Islam Desak Negara Arab Keluarkan Kebijakan Konfrontasi dengan Israel

jihadislamx1Gerakan perjuangan Palestina – Jihad Islam menyerukan pemerintahan Arab serta pihak otoritas Palestina untuk mengeluarkan kebijakan konfrontasi dengan pemerintahan sayap kanan Israel yang dipimpin oleh PM Israel Benyamin Netanyahu, pada Sabtu kemarin.

Dalam siaran pers yang dibicakan oleh salah seorang juru bicara Jihad Islam Khaled Al-Batsh, Jihad Islam mengatakan bahwa mereka sama sekali tidak peduli dengan kesepakatan atau komitmen yang dibuat oleh pihak otoritas palestina dalam kaitannya dengan perdamaian dengan Zionis Israel.

Pernyataan resmi dari pemerintahan Zionis Israel yang menjajah Palestina menyatakan “mentalitas Zionis dari pemimpin-pemimpin Israel dan rencana mereka adalah untuk mengusir warga Arab yang berada di dalam Israel dari rumah-rumah mereka,” menurut pernyataan tersebut.

“Para pemimpin Israel memanfaatkan kelemahan dari negara-negara Arab yang mencapai masa surutnya yang paling rendah selama agresi militer Israel di Gaza awal tahun ini,”kata Al-Batsh.

“Kelemahan ini telah mendorong Netanyahu untuk meminta negara-negara Arab mengakui identitas Yahudi Israel sebagai daya tawar untuk memperpanjang konflik dan menghindari persyaratan perdamaian.

“Yang dibutuhkan sekarang adalah sebuah kebijakan konfrontasi dengan penjajah Israel, bukan berdialog untuk untuk berdamai dengan mereka.

Al-Batsh mencatat bahwa pemerintah Israel tidak menghormati komitmen sebelumnya dan sama sekali tidak memiliki agenda untuk pembicaraan damai.

Ketika pemilu, para pemimpin Israel berbicara tentang “sebuah rumah alternatif bagi rakyat Palestina,” pengusiran warga Arab dari dalam Israel dan rencana menyerang bendungan besar di Mesir, Syria dan Iran, dan pernyataan mereka tersebut mencerminkan mainstream dari para pemilih Israel, lanjut Batsh.

Para pemimpin senior gerakan Jihad Islam mendesak faksi-faksi pejuang Palestina untuk memperbaiki keretakan diantara mereka serta menyerukan negara-negara Arab untuk membuat sebuah kebijakan yang konfrontasi langsung dengan pemerintahan garis keras Zionis Israel.

Selama pembicaraan yang berlangsung antara utusan timur tengah presiden Obama – George Mitchell di Yerusalem hari Kamis yang lalu, Netanyahu menuntut bahwa Palestina yang harus pertama kali mengakui Israel sebagai sebuah negara Yahudi sebelum mendiskusikan solusi sebuah dua negara.

Sumber : http://eramuslim.com/berita/palestina/jihad-islam-desak-negara-arab-keluarkan-kebijakan-konfrontasi-dengan-israel.htm

Saudi Berikan Penghargaan Arab Nobel Kepada Profesor Yahudi

1profesorAda-ada saja Arab Saudi. Kebijakan dan manuver politiknya benar-benar membingungkan umat Islam di dunia. Belum lama, negeri yang dipimpin oleh Raja Abdullah ini memberikan penghargaan Arab Nobel kepada seorang profesor Yahudi dalam bidang medis yang bernama Ronald Levy. Bahkan Levy sendiri yang menerima penghargaan itu mengatakan bahwa ia tak tahu motif apa yang dibawa oleh Saudi dalam penghargaannya itu. “Mungkin saja politis,” ujarnya dalam lawatannya ke kerajaan Saudi.

Saat ini Levy berumur 67 tahun. Levy adalah kepala departemen onkologi Universitas Stanford dan ia menjadi tamu Yahudi pertama yang menerima Penghargaan Internasional Raja Faishal. “Tujuan saya adalah untuk menyatukan kesamaan, dan tampaknya Saudi menerimanya.” paparnya.

Levy merasa penghargaan itu sangat berarti karena ia merupakan jebolan Institut Weizman Israel. “Lebih spesial dibandingkan penghargaan dari Jepang.” ujarnya.

Levy mengunjungi Saudi bersama istrinya yang juga Yahudi totok, Shoshana, dan ketiga putrinya. Levy mengatakan bahwa ia mendapatkan perlakuan khusus kelas satu dari kerajaan Saudi sejak mereka mendarat di Riyadh dan meninggalkan Saudi. Sebuah mobil limusin mengantarkannya kemana-mana, dan ia diajak pula melihat-lihat beberapa tempat penting di dalam ibukota.

Sumber : http://eramuslim.com/berita/dunia/saudi-berikan-penghargaan-arab-nobel-kepada-profesor-yahudi.htm

Derita Ghada Abu Halima, Korban Bom Fosfor Israel

ghada_abu_halimaGhada Abu Halima merasakan sakit tak terkira akibat luka bakar yang dideritanya. Ia terkena bom fosfor yang dijatuhkan Israel adalam agresi brutalnya ke Jalur Gaza bulan Januari lalu. Pada B’Tselem-lembaga pemantau HAM didaerah pendudukan Israel-Ghada menceritakan awal penderitaannya.

Hari Sabtu malam tanggal 3 Januari, pesawat-pesawat tempur Israel menyebarkan selebaran berisi peringatan agar warga Beit Lahiya meninggalkan rumah mereka karena tentara Israel akan melakukan serangan. Israel sudah sering melakukan hal itu pada serangan-serangan sebelumnya. Seperti yang sudah-sudah, Ghada dan keluarganya yang tinggal di rumah berlantai dua berukuran 250 meter persegi, tidak meninggalkan rumah.

Keluarga besar Ghada tinggal di rumah itu. Mereka mencari nafkah dengan mengolah tanah pertanian yang ada di sebelah rumah.

Hari Minggu, 4 Januari, sekitar jam 04.00 sore, seluruh keluarga sedang berkumpul di dalam rumah ketika tentara-tentara Zionis membombardir Beit Lahiya. Sebuah selongsongan mortir tiba-tiba jatuh di rumah itu dan pecahannya langsung membakar tubuh ayah mertua, tiga puteranya bernama Abdu Rahim, Zeid dan Hamzah, serta puterinya yang masih bayi, bernama Shahd. Mereka semua meninggal seketika.

Sedangkan ibu mertuanya beserta tiga anak lelakinya yang lain, Omar, Yusuf dan Ali menderita luka bakar. Percikan api merambat kemana-mana dan membakar rumah mereka. Ghada memeluk puterinya Farah, keduanya juga mengalami luka bakar.

“Baju saya terbakar, kulit saya dan Farah hangus. Untunglah, bayi saya Aya tidak terluka. Saya langsung melepas pakaian saya ketika api mulai menjalar ke tubuh saya. Saya telanjang di depan semua orang yang ada di rumah ketika itu. Kulit saya terbakar dan rasanya sakit sekali. Saya bahkan bisa mencium bau daging yang terbakar,” tutur Ghada.

Kondisi Ghada saat itu sangat parah. Ia mencari apa saja untuk menutup tubuhnya dan terus berteriak. Saudara lelaki suami Ghada melepas celana panjangnya dan memberikannya pada Ghada. Tubuh bagian atas Ghada masih terbuka, sampai suaminya datang dan menutupinya dengan jaket.

Suami Ghada lalu keluar mencari pertolongan, menemukan banyak korban yang tewas dan luka-luka di sekitar rumahnya. Tidak ada ambulan atau mobil pemadam kebakaran yang bisa dimintai pertolongan. Lalu, sepupu suami Ghada yang tinggal dekat rumah datang dan memberikan pertolongan. Keluarga Ghada yang terluka diangkut ke sebuah gerbong yang bergandengan dengan traktor dan dibawa ke Rumah Sakit Kamal ‘Adwan.

Di perjalanan, mereka bertemu dengan tentara-tentara Israel sekitar 300 meter dari Lapangan al-‘Atatrah. Tentara-tentara Israel itu menembaki traktor mereka dan membunuh sepupu suami Ghada Matar dan Muhammad Hikmat. Ali yang sudah mengalami luka bakar, berusaha melarikan diri bersama Omar dan sepupunya, Nabilah.

Tentara Israel menyuruh suami Ghada melepas pakaiannya dan digeledah. Setelah itu, tentara-tentara Zionis mengembalikan pakaian suaminya dan menyuruh mereka semua melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Ghada, suaminya dan Farah akhirnya jalan kaki sampai ada sebuah mobil yang lewat dan menolong mereka pergi ke Rumah Sakit a-Shifaa. Mereka tiba di rumah sakit sekitar pukul 06.00 sore. Di dalam gerbong traktor, terdapat tiga jenazah yang terpaksa mereka tinggal.

“Seluruh tubuh saya terbakar, wajah saya juga. Farah mengalami luka bakar tingkat tiga. Kami semua dirawat di rumah sakit itu,” ujar Ghada.

Ghada dan puterinya direferensikan untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut ke Mesir. Petugas rumah sakit berusaha membawa mereka ke Mesir lewat perbatasan Rafah dengan ambulan, tapi di perjalanan tentara-tentara Israel menembaki ambulan mereka. Sopir ambulan luka-luka di bagian wajahnya dan mereka terpaksa kembali ke rumah sakit. Sejak itu Ghada menunggu ijin agar boleh melewati perbatasan Rafah menuju Mesir.

Ghada menuturkan pengalamannya itu pada tanggal 9 Januari 2009 lalu pada Muhammad Sabah dari B’Tselem di RS a-Shifaa. Ghada dan puterinya memang akhirnya dibolehkan mendapatkan perawatan lebih lanjut ke Mesir. Tapi pada tanggal 29 Maret kemarin Ghada Abu Halima menutup mata selama-lamanya di sebuah rumah sakit Meisr, akibat luka bakar bom fosfor yang dideritanya. Kisah duka Ghada adalah bagian dari nestapa yang dialami ribuan warga Gaza saat pesawat-pesawat tempur Israel menjatuhkan bom-bom mematikannya selama 22 hari ke wilayah Gaza. Ghada menyusul keluarganya yang lain yang lebih dulu syahid.

Sumber : http://eramuslim.com/berita/palestina/derita-ghada-abu-halima-korban-bom-fosfor-israel.htm

Awan Tag