Aku, Dunia, dan Akhiratku…

Posts tagged ‘Sabar dan Shalat’

Saat Harus Belajar Menekuri Sabar

Duhai Rabbi, aku masih saja meneteskan air mata, saat pagi tadi mengepak ulang baju-bajumu yang rencananya untuk kukirimkan ke para pengungsi Merapi. Apalagi melihat baju muslim hijaumu, baju yang baru kau pakai sekali itu, untuk pulang dari Jogja ke Jakarta, ahad siang itu

Duhai Rabbi, aku masih sangat jauh dari ketegaran bunda Khansa, yang menyerahkan seluruh anak lelakinya ke medan jihad, dan justru begitu bergembira saat mengetahui mereka semua syahid

Namun, aku tahu. Roda kehidupan harus terus berjalan. Seperti kalimat yang kutulis sendiri beberapa hari lalu, kutulis dengan jemari kaku karena hatiku sesungguhnya belum sepenuhnya mampu. Kalimat yang kutulis karena aku perlu memotivasi diri sendiri untuk bisa seperti itu:

Allah meminjamiku 4 cahaya. Kini dimintanya kembali 1 cahaya yg sedang bersinar terang. Maka tugasku adalah menjaga 3 cahaya yg masih ada agar tak redup, terus berpijar, sampai suatu saat nanti diambil pemiliknya.

*ajarkan aku untuk IKHLAS…

Atau seperti nasehat seorang kakak kelas, yang sudah kuanggap seperti mas-ku sendiri:

ujian dan takdir adalah bagian kehidupan, yang memang tidak selalu ringan untuk dilalui.. tapi kamu adalah mining, ndhuk.. juga istri Kang Zubaidy .. adi kelas yg sudah kukenal lebih dari sepuluh tahunan… “tegak”lah.. dan “berjalan”lah menapaki “dunia”mu.. (DS)

Duhai, masih bolehkah aku menangis? Terngiang aku nasehat dari Bunda Saidah:

bunda sholihat….jazakilLahu khairan jika nasihat untuk diri sendiri itu mengetuk ruang kita…rasa itu…Dia Maha Tahu…Ruang waktu ‘hampa’ itu memang akan ada di sudut hati yang memang tak tampak. Kalau manusia bisa berandai…aku ingin… menguncinya pada sebuah kotak baja..dan kotak itu bertuliskan khalis..RasululLah SAW bahkan perlu waktu 2 tahun lamanya mengenang seluruh kemuliaan Khadijah ra…bukan untuk menggugatNya dan Dia Sang Maha Segala menghibur beliau dengan tinta emas yang terukir indah pd tamadun kemuliaan beliau.

Bunda, jika sudah berdamai dengan rasa itu…percayalah cinta padaNya terasa amat sungguh. Peluk sayang, doaku selalu untukmu & gemintang kecilmu yg masih mengkilat & perlu jemari bundanya… (SS)

Dan, kini aku menyadari betapa semua ini sudah Allah atur dengan begitu indahnya…

Jika ajal sudah terukir di lauhul mahfudz sana, sungguh maha besar Allah yang mengilhamkanku untuk bersamamu 2 hari penuh menjelang pergimu, bahkan hingga detik2 terakhirmu. Menemanimu berjalan-jalan di Jogja hingga pulang kembali ke Jakarta. Karena skedulku waktu itu sebenarnya ada tugas kantor ke Medan sejak Jumat 29 Oktober hingga Senin 1 November. Andai aku tetap berangkat ke Medan, tentu akan menjadi penyesalan panjang dalam hidupku karena tak bisa menemani buah hatiku pada saat2 terakhir.

Jika ajal sudah ditetapkan untukmu tanpa bisa ditangguhkan atau dimajukan, Sungguh Allah Maha besar yang telah membuat skenario agar kau berkesempatan berkumpul bersama kami anggota keluarganya, sebelum saat perpisahan itu tiba, karena pembelian tiket pesawat PP Jogja-Jakarta itu sudah diatur setengah tahun lalu. Siapa yang menuntun kami memesan tanggal 30-31 Oktober, bertepatan dengan hari perpisahan ini, kalau tidak Dia yang Maha segala? Siapa menyangka itu akan menjadi perjalanan rihlah terakhirmu bersama kami?

Jika ajal sudah menjadi garis takdir setiap insan, Sungguh Alalh Maha kreatif yang sudah mengatur, karena malam itu sebelum keberangkatan terlintas gagasan dari ayahmu, untuk meninggalkanmu di rumah saja karena kasihan, tampak kurang enak badan. Maka, kekuatan apa selain dariNya, yang menggerakkan akhirnya dirimu tetap ikut bersama kami, ayah ibu dan kakak2nya, ke Jogja?

Jika ajal tak mengenal usia, sungguh Maha sayang Allah yang mentaqdirkan, saat kau yang hanya sakit mual dan masuk angin biasa, tiba-tiba sesak nafas karena paru-parumu terkena zat asing (diduga dari muntah, yang masuk kembali). Tanpa sakit yang terlalu lama, hanya 1,5 jam saja, kau pergi meninggalkan kami. Bahkan di menit-menit terakhir, kau yang tetap tampak kuat masih memanggil-manggil kami, dan tak lama kemudian, kami yang menalqilkanmu, di antara sedu sedanku.

Ah, saat kurunut ke belakang, kini aku mengerti, bahwa semuanya sudah digariskan. Bahwa tanda2 perpisahan itu sebenarnya telah kau tunjukkan sejak kau berada di Jogja, satu hari sebelumnya.

Kau mendadak mudah sekali kaget, hanya dengan gerakan kecil yang menyentuh tubuh mungilmu. Saat tidur, juga terjaga,. Hal yang jarang sekali terjadi, karena kau biasanya tidak seperti itu.

Pandanganmu yang kadang meanatap kosong ke depan, tanpa senyum, tanpa kata…tak seceria biasanya. Bahkan di tengah malam ahad itu, saat semua terlelap. Ternyata kau terjaga, tapi hanya menatap kosong dalam diam (seperti yang diceritakan bulik ayu). Apa yang kau lihat sebenarnya nak? Seorang bidadarikah?

Saat perjalanan pulang dari bandara, dan aku ingin melepaskan jaket tebalmu karena AC mobil dimatikan, kau mencegahku, “Jangan bu, dingin” . Aku agak heran, bagaimana mungkin terasa dingin, sementara waktu itu tengah hari bolong dan AC mobil dimatikan?

Sesaat sampai di rumah jam 15.00, saat aku ingin menghidupkan kipas angin di depan sofa, kau yang sedang istirahat di sofa juga mencegah, “Jangan dinyalain”. Ah, kupikir kau sedang tidak enak badan biasa, anakku 😦

Dan sore menjelang senja itu, sebelum tiba-tiba kau sesak nafas, kau minta ditemani tidur dengan alasan takut. Hal yang sangat aneh, karena kau selama ini kukenal sangat pemberani. Takut apa nak? Apa yang sesungguhnya telah kau lihat?

Ternyata tak lama kemudian, aku, kami semua, mendapati jawabannya naak.

Itulah tanda2 perpisahan denganmu.

Maafkan aku naak, sebagai ibumu belum sepenuhnya dapat menberikan hak-hakmu. Tetapi aku yakin, kini kau aman tentram, lelap dalam tidurmu, bersama Dia yang Maha Sayang. Sungguh selalu kurindu untuk suatu saat bisa bertemu denganmu, bidadari kecilku. Seperti yang ditulis om Muli, tentang kerinduan yang sama:

Do you want to hear an angel?

Just listen to your heart

She is whishpering

Even her voice is clearer

In the slice of silence

Do you want to see an angel?

Just close your eyes

She is appearing

Even her image is brighter

In the piece of dream

Do you want to know someone who meets an angel?

Just look into the mirror

There you can find

Someone who (really wants to) meet her

(MK)

Dan kini, aku hanya bisa berucap:

Dia yang pernah datang, tak pernah benar2 pergi. Justru smakin dekat, karena ia ada dalam kenangan yg selalu kubawa, kemana pun ku pergi

Ya. karena kenangan indah tentangmu, kini ada dalam setiap nafasku, ucapku,. gerak langkahku. Dimana pun ku berada. Kau.. selalu bersamaku

tak kualiri lagi ia di sungai.

tak kutebari lagi ia di danau.

tak kularungi lagi ia di lautan.

kuserahkan sabar ini pada Zat yang berkata:

…WABASSYIRISH SHOOBIRIIN…

 

Sumber : http://www.eramuslim.com/oase-iman/mukti-amini-saat-harus-belajar-menekuri-sabar.htm

Iklan

Ketika Tiang Agama Dirobohkan

Saat ribuan warga turun gunung untuk mengungsi, ada puluhan lainnya yang tetap nekad bertahan. Sebagian tewas dihujani wedhus gembel. Ada sekitar 26 orang yang masih hidup. Salah satunya adalah Ponimin.

Bahkan, seluruh anggota keluarganya selamat, meski rumahnya di Dusun Kaliadem hancur. Ponimin mengungkapkan bahwa dirinya memang memutuskan untuk tidak mengungsi karena alasan mistis. “Saya mendapat bisikan gaib dari makhluk Allah yang berdiam di Merapi. Intinya, mereka meminta saya menemani mereka “bekerja”. Kalau tidak, letusan kali ini akan menghancurkan sebagian besar Jogja,” ucapnya.

Penggalan artikel koran Solo Pos beberapa waktu lalu membuat saya gigit jari. Memang benar jika gempa semakin dahsyat menggoncang negeri kita. Bukan hanya gempa, tsunami dan banjir pun ikut menyapu daratan yang biasa manusia gunakan untuk mengais rezeki. Dampak pasca bencana tersebut memang mempengaruhi kehidupan ekonomi, politik, dan sosial-budaya.

Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah munculnya orang-orang dengan pemikiran seperti Ponimin. Efek dari berita ini langsung terasa ketika Gubernur DIY mendatangi dan memintanya menggantikan posisi Almarhum Mbah Maridjan sebagai juru kuncen Merapi periode berikutnya.

Dan sesungguhnya inilah gempa paling dahsyat yang menggoncangkan negeri kita yaitu gempa keimanan. Lalu kapan bencana ini akan segera berakhir bila tak ada yang mau menyadari kekeliruannya? Sementara sosok pemimpinnya saja tak lagi percaya dengan pemilik Merapi Yang Maha Segalanya.

Lain Ponimin, lain pula 20.000 warga lereng Gunung Merapi yang kini tinggal di pengungsian. Dalam satu tenda yang kini dihuni oleh puluhan bahkan ratusan keluarga tampak jelas gaung kesedihan akibat kerusakan yang ditimbulkan guguran lava pijar dan awan panas Merapi. Wajah mereka pias bahkan ada yang menangis histeris tak mau dievakuasi demi menjaga harta benda. Ada pula yang menunggu bantuan sambil tidur-tidur ayam, meratapi ujian yang tak kunjung hilang, ironinya mayoritas warga pengungsi adalah muslim.

Inilah ujian kesabaran yang Allah berikan setelah Merapi meletus. Allah mungkin ingin agar warga Indonesia tetap mengingat-Nya di kala senang atau pun susah. Namun, tak semuanya yakin bahwa dengan mendekat kepada-Nya adalah solusi untuk mengentas mereka dari kesedihan. Jangankan untuk sekedar mendirikan sholat, berdo’a menengadahkan tangan dan meminta ampunan sepertinya tak ada waktu. Lalu bagaimana kita ingin agar Allah segera mencabut ujian ini dari tanah Yogyakarta sementara untuk bersujud pun enggan?

Pengungsi justru lebih banyak dilingkupi rasa cemas, khawatir harta benda tersisa yang ditinggal dicuri orang. Setan begitu mudah menelusupkan rasa was-was dalam dada manusia. Inilah tipu dayanya yang menyebabkan manusia lalai untuk selalu ingat kepada Allah SWT. Padahal hanya dengan mengingat-Nya-lah hati menjadi tenang. Dalam firman-Nya di Surat Al-Baqarah ayat 153 telah dijelaskan “Wahai orang-orang beriman, mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat karena sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Kewajiban sebagai seorang muslim adalah beribadah kepada Allah dimana pun dan tak terkecuali dalam situasi bencana seperti saat ini. Banyak orang yang akhirnya mengalami resesi keimanan. Hal ini dibuktikan dengan perbekalan yang mereka ingat uuntuk dibawa saat bencana melanda hanyalah harta benda berupa uang dan perhiasan sedangkan peralatan sholat dan Al-Qur’an dibiarkan tergeletak tertumpuk debu vulkanik Merapi.

Sesungguhnya sholat adalah tiang agama, dan barangsiapa yang meninggalkan sholat akan sama halnya dengan merobohkan tiang agama dan menjadi kafir. Sholat merupakan penghubung antara hamba dengan Tuhannya karena sedekat-dekat hamba kepada Tuhannya adalah dikala hamba tersebut bersujud (di dalam sholat), oleh karena itu perbanyaklah do’a dalam sujud kita.

Ia merupakan sebesar-besarnya tanda iman dan seagung-agungnya syiar agama dan merupakan ibadah yang membuktikan keislaman seseorang karena inilah yang menjadi pembeda antara orang Islam dengan kafir. Sehingga kita patut bersyukur atas nikmat iman yang telah Allah berikan.

Keterbatasan sumber air bersih di daerah pengungsian mungkin akan menjadi alasan pokok mengapa sholat begitu mudah ditinggalkan. Jangankan untuk wudhu, untuk memasak dan minum pun terbatas. Namun dengan sempurna Islam telah menjadi solusi dan mengajarkan bagaimana cara bersuci dengan tayammum. Tak ada yang mempersulit dalam Islam.

Dalam kondisi serba tidak jelas ini pula dibutuhkan relawan muslim yang peka terhadap kebutuhan ruhani warga pengungsi. Menjadi relawan sekaligus berdakwah dan mensyiarkan islam, bahwa dimanapun, kapanpun, dalam kondisi apapun, sholat harus terus dijaga. Sampai saat ini belum tampak ada relawan atau warga pengungsi lereng Gunung Merapi yang berinisiatif mendirikan barak khusus yang memang difungsikan sebagai musholla darurat agar sholat berjamaah dan do’a bersama berlangsung.

Bukankah telah dicontohkan oleh rasulullah bagaimana seharusnya seorang beriman menghadapi ujian, salah satunya adalah dengan mengucap innalillahi wainna ilaihi roojiun.

Tim penilai posko (assesment) yang ada di tempat kejadian pun tak pernah ada yang melaporkan meminta bantuan berupa alat sholat dan pakaian, yang ada hanya kebutuhan pokok saja berupa makanan dan obat-obatan.

Lantas dimanakah kenikmatan iman itu bisa diraih? Mari kita bantu mereka karena seharusnya ujian tersebut menjadi peringatan bagi setiap manusia. Baik yang sedang menjadi korban atau mereka yang hanya bisa melihat di televisi. Wallahu a’lam bishshowab

Sumber : Eramuslim

Melihat Dengan “Kaca Mata” Hikmah

“ Aduh cepatan dong …. kita terlambat nih, aduh kenapa sih tadi pakai sholat Jum’atan dulu, ini kan hari kerja …. ? Dengan gusar , sebut saja si Amin, merangsek dan terus saja nyerosos kepada sang supir untuk mempercepat laju mobilnya, Amin sangat kwatir akan tertinggal pesawat yang akan di tumpanginya.

“ Sabar… tenang …. udeh berhenti dulu keluhannya ” Teman di sampingnya yang mengantarkan Amin ke Bandara mencoba menenangkannya, maklum jalan-jalan di Moskow kalau di hari kerja, apa lagi di hari Jum’at mau pulang kerja, dimana banyak orang pulang kerja setengah hari, biasa mempersiapkan diri untuk ke Dacha ( Vila ) … makan jalan yang sudah bigitu lebar dengan 16 jalurpun masih bisa macet, apa lagi kalau ditambah hujan atau salju di msuim dingin, bisa macet total !

“ Ya… tapi kan … aduh gimana nih…. tadi sih sholat Jum’at dulu “ Amin mulai lagi dengan sesalan dan kegusarannya. Singkat kata sampailah … Amin di Bandara Domodidovo, dengan kelegaan luar biasa, karena waktu yang akan diperlukan untuk pemeriksaan tiket dan migrasi hanya tinggal satu jam dan itupun harus antri dengan cepat – cepat mereka menuju kebagian pemeriksaan tiket. Setelah antri … tibalah giliran Amin, temanya yang dari bagian konsuler menyorongkan paspor dan tiketnya ke petugas, paspor diperiksa, visa dan izin tinggalnya di Moskow , beres, Alhamdulillah. Namun … ketika petugas memeriksa tiketnya…. tanggal kembali ke Jakartanya beda !

“Aduh gimana nih ….” Tanyanya pada teman yang bagian konsuler.
“ Iya, kenapa tidak diperiksa dulu tadi sebelum berangkat ? “ Temanya ikut menyalahkan Amin, “ Kenapa begitu ceroboh, tidak meriksa dulu semuanya ? “ Tanya temannya.
“ Saya tidak periksa, karena yakin dan percaya kepada bagian travel di Jakarta, karena Saya beli tiketnya di Jakarta “ Sahut Amin kepada temannya.
“ Tadi sih kita sholat Jum’at dulu…kan kalau tidak sholat Jum’at dulu kita punya banyak waktu untuk memeriksa segala sesuatunya “ Lagi-lagi Amin, “ menyesali” sudah sholat Jum’at, padahal tak biasanya dia begitu, mungkin karena kejadian yang terduga ini, sesalnya keluar juga.
“ Oke … kalau gitu kita terpaksa nunggu penumpang yang terakhir, bila ada yang tak jadi berangkat, karena ada sesuatu “ Kata temannya.

Akhirnya mereka menunggu, teman-teman yang lain yang ikut mengantarnya, ikut menenangkan Amin. “ Biasa, kejadian seperti ini sering terjadi, udah tenang saja, lebih baik sambil menunggu terus berdoa “ Kata temannya yang lain, beberapa lama kemudian ketika pintu bagian pemeriksaan tiket di tutup dan terdengar kabar … ada penumpanag yang “ batal” berangkat … semuanya mengucapkan puji syukur kepadaNya, “ Alhamdulillah “ Berarti Amin bisa terbang ke Jakarta menggantikan orang yang “batal” terbang.

“ Nah kan … benar tadi kita sholat Jum’at dulu, hingga doa kita dikabulkan “ kata teman-temannya, Amin hanya menunduk, malu. Ya sudah… akhirnya, walau dengan tiket yang salah tanggal, Amin dapat kembali ke Jakarta dari Moskow. Alhamdulillah.

Ilustrasi di atas itu sebagian kecil dari banyak kisah, sebuah musibah menjadi hikmah, memang banyak jalan untuk bersyukur kepadaNya, karena memang hidup dan kehidupan ini banyak sekali hikmah yang terkandung dibalik itu semua, ada hikmah dari segala macam ciptaaanNya, ada hikmah dari segala kejadian dan peristiwa, baik disadari ataupun tidak oleh kita. Kebanyakam manusia memang kurang atau sering kali langsung mengatakan : Tuhan tidak adil ” bila melihat suatu musibah atau mengalami sesuatu yang tidak mengenakan. Jadi tidak melihat ada apa dibalik musibah itu ? Atau tidak mencari suatu hikmah dibalik setiap kejadian.

Seringkali yang terjadi adalah apa yang awalnya dianggap musibah, ternyata dikemudian hari, malahan menjadi berkah. Atau terjadi sebaliknya, apa yang dianggap menyenangkan, di kemudian hari malah menjadi bencana. Ya, manusia memang sering kali “tertipu” pada apa yang nampak dan sering terkecoh pada yang terlihat. ” Apa yang menyangkan , belum tentu baik untukmu dan apa yang terlihat buruk, bisa jadi baik baikmu “ Mari kita lihat bait-bait ini :
Apapun yang terjadi pada alam ini
Dari yang paling kecil sampai yang paling besar
Insya Allah ada hikmahnya
Sesuai dengan firmanNya
” Ya Tuhan kami tidak ada yang Kau ciptakan dengan sia-sia “

Dari kuman yang tidak kelihatan oleh manusia
Sampai milyaran galaxy yang maha luas
Semua mempunyai fungsi masing-masing

Begitu pula dengan peristiwa manusia
Dari penderitaan yang amat memilukan
Sampai kesenangan yang melenakan
Semua ada hikmahnya

Terkadang manusia lupa bila di uji dengan penderitaan
Hingga ingkar pada Allah karena penderitaan yang di deritanya

Padahal di balik penderitaan ada hikmahnya juga
Berupa jiwa yang semakin kuat, tabah, dan tak tergoyahkan

Maka jangan lekas membuang yang pahit
Siapa tahu itu adalah obat bagimu
Jangan lekas mengatakan Allah tidak adil !
Siapa tahu Allah di lain waktu memberikan nikmatNya

Jangan lekas mengeluh bila tak mendapatkan sesuatu yang diinginkan
Siapa tahu Allah akan memberikan sebagai pengganti yang terbaik
Dan jangan lekas memisahkan sesuatu yang kamu benci dan kau anggap hina
Siapa tahu apa yang kamu benci dan kamu anggap hina
Justru di cintai Allah !
Dan jangan segera meminum yang manis
Siapa tahu itu adalah racun bagimu.

Siapa yang menyangka
Jika sampah yang di buang-buang manusia
Justru bisa dijadikan kompos dan energi listrik

Siapa yang menduga
Rambut jagung yang dibuang
Saat makan jagung rebus atau jagung bakar di Rusia bisakan dijadikan jamu, obat untuk kesehatan.

Siapa yang mengira
Gerak rumput atau ilalang yang bergoyang
Adalah prototype gerakan pesawat terbang
Siapa menyangka
Nyamuk yang kecil itu
Membuat kaya raya para pengusaha obat anti nyamuk

Siapa yang protes terhadap keringat
Mungkin lupa
Keringat yang dianggap menganggu
Telah melahirkan ribuan jenis minyak wangi sejak berabad-abad
Dan telah melahirkan ribuan perusahaan dengan berbagai model
Membuka lapangan kerja dan melahirkan foto model iklan

Siapa yang membenci virus
Ternyata virus yang tak kelihatan itu
Telah melahirkan para penilti dan para ilmuwan
Betapa banyak Doktor tercipta karena virus
Apa lagi ?

Coba lihat air mata saat kau menangis
Itu adalah alat pembersih alamiah dan mengurangi beban psikologis
Terasa sangat lega dan beban yang terpikul terasa ringan
Jangan meremehkan air mata !
Ribuan judul puisi bisa lahir karena tangisan
Ribuan judul drama, sandiwara, film dan senitron tercipta karena air mata
Ribuan judul novel tercipta berkat air mata
Dan jangan lupa …… !
Air mata wanita adalah senjata yang sangat tajam
yang dapat meruntuhkan kerajaan dan singgasana para emperator !
Siapa yang tahan melihat air mata wanita ?

Maka menangislah kamu selagi bisa menangis
Tak ada larangan untuk menangis
Bahkan tangisan para auliya
Dikeheningan malam, saat tahajud dan sujud
Adalah kunci pembuka pintu syurga !

Apa lagi ?
Lihat kulitmu yang tipis dan halus mulus
Tebalnya hanya sepersekian mili yang membungkus daging
Siapa yang mengira
Kulit yang dianggap biasa adalah jaket yang paripurna bagi daging
Tergores sedikit saja, maka kuman segera datang menyerang daging
Terjadilah pembusukan dan borok
Di akherat Kulitpun akan menjadi saksi
Dan dimintai pertanggung jawaban
Bila merasa diri tidak cantik sehingga kurang bersyukur
Datanglah ke rumah sakit
Kau akan menemukan berbagai jenis penyakit yang bisa juga menyerangmu
Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang kau dustakan ?

Tak ada yang sia-sia apapun yang diciptakanNya
Bila ada sesuatu ciptaanNya yang kelihatannya tak berguna
Itu bukan berarti sia-sia !
Hanya manusia belum menelitinya atau tidak tahu fungsinya
Yakinlah ada hikmah di balik penciptaanNya
Dan jika mau di tulis hikmah setiap ciptaanNya
Niscaya manusia tak mampu melakukannya
Karena tak terhingga banyaknya !

Maka bahagialah orang yang pandai mengambil hikmah atau pelajaran dari setiap kejadian, baik yang langsung menimpa dirinya atau yang menimpa orang lain. Bahagialah orang selalu melewati hari-harinya dengan membawa dan menggunakan ” Kaca mata hikmah “, karena dengan kaca mata hikmah ini, dia dapat melihat seluas luasnya dari setiap kejadian apapun, dengan kaca mata hikmah, seakan dia melihat sesuatu dari segala sisi, dari segala arah, dari segala sudut, dari multi dimensi, hingga dia dapat menghadapi hidup penuh kebahagiaan dan ketentraman jiwa.

Orang yang selalu memandang kejadin dengan ” kaca mata hikmah ” akan mendapat bimbingan dan hidayah Tuhan yang sangat besar, orang seperti ini akan selalu berpikir positif melihat suatu kejadian, hingga yang dalam dirinya penuh dengan hikmah dan kebajikan, yang ada dalam dirinya, baik, baik dan selalu kebaikan. Hatinya begitu lapang, kelapangan dadanya meluas, terkadang tak terjangkau oleh manusia kebanyakan.

Sumber : Eramuslim.com

Awan Tag